Reportase.TV, Jakarta – Wakil Ketua Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Andre Rosiade, menunjukkan komitmen nyata dalam menanggapi dampak bencana banjir bandang atau galodo yang melanda Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kunjungan langsung yang dilakukannya bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah bentuk kepedulian mendalam dan respons cepat terhadap penderitaan masyarakat yang terhantam musibah. Fokus utama dari kunjungan ini adalah penyaluran bantuan kemanusiaan serta peninjauan langsung terhadap skala kerusakan masif yang terjadi di salah satu wilayah terdampak paling parah tersebut.
Galodo dahsyat yang menerjang Maninjau pada 27 November 2025 telah meninggalkan jejak kerusakan yang tak terperi. Wilayah ini tercatat sebagai salah satu area dengan dampak terberat, di mana bencana tersebut tidak hanya menghancurkan infrastruktur dan permukiman, tetapi juga merenggut korban jiwa. Andre Rosiade, dengan langkah sigap, secara khusus mendatangi Jorong Bancah, Nagari Maninjau, sebuah lokasi yang menjadi episentrum kerusakan terparah. Di Jorong Bancah, musibah galodo mengakibatkan satu warga meninggal dunia, dan dua warga lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian, menambah daftar panjang duka cita yang menyelimuti komunitas setempat. Tragedi ini menjadi pengingat pahit akan kekuatan alam yang tak terduga dan urgensi penanganan bencana yang komprehensif.
Agenda kunjungan dimulai dengan pertemuan di Kantor Wali Nagari Maninjau, sebuah titik sentral bagi koordinasi penanganan darurat dan pemulihan pascabencana. Andre Rosiade tidak datang sendiri; ia didampingi oleh Anggota DPR RI Dapil Sumatera Barat II, Ade Rezki Pratama, yang turut menunjukkan kepeduliannya. Selain itu, hadir pula Anggota DPRD Kabupaten Agam, Novi Irwan, yang mewakili suara dan aspirasi masyarakat di tingkat lokal, serta Sekretaris Jenderal DPP Ikatan Keluarga Minang (IKM), Braditi Moulevey, yang merepresentasikan dukungan dari organisasi perantau. Kehadiran para wakil rakyat dari berbagai tingkatan ini, bersama dengan pengurus organisasi perantau, menjadi simbol dukungan moral dan kepedulian nyata yang sangat dibutuhkan oleh warga Maninjau yang tengah berjuang menghadapi masa-masa sulit pascabencana.
Dalam kesempatan yang sarat makna tersebut, Andre Rosiade secara simbolis menyerahkan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat terdampak. Sebanyak 2.000 paket sembako disalurkan untuk meringankan beban kebutuhan pangan keluarga-keluarga yang kehilangan mata pencarian atau terpaksa mengungsi. Tidak hanya itu, ia juga menyerahkan lima unit genset berkapasitas 6.000 watt. Bantuan genset ini krusial untuk mendukung kebutuhan listrik warga, terutama dalam kondisi keterbatasan sarana dan prasarana energi yang kerap terjadi pascabencana. Listrik menjadi kunci untuk penerangan, komunikasi, dan berbagai aktivitas dasar masyarakat agar roda kehidupan dapat perlahan kembali berputar.
Ade Rezki Pratama, yang turut hadir, juga menyampaikan duka cita mendalam atas musibah banjir bandang yang melanda Maninjau. Dengan empati yang tulus, ia menyampaikan simpati kepada keluarga korban yang terdampak langsung oleh bencana tersebut, mengakui beratnya kehilangan dan perjuangan yang mereka hadapi. Pada kesempatan yang sama, Ade Rezki juga secara pribadi menyerahkan bantuan sembako dan berbagai bentuk bantuan lainnya, menegaskan solidaritas dan kepeduliannya sebagai wakil rakyat terhadap penderitaan yang dialami masyarakat Maninjau. Kolaborasi dan sinergi antara berbagai pihak ini menjadi pilar penting dalam upaya pemulihan.
Wali Nagari Maninjau, Harmen Yasin, dalam keterangannya, menjelaskan kronologi dan skala kerusakan yang terjadi. Ia memaparkan bahwa banjir bandang yang menghantam pada 27 November 2025 itu menyebabkan kerusakan yang sangat serius dan merata di seluruh wilayah nagari. Menurutnya, galodo dahsyat tersebut dipicu oleh meluapnya empat aliran sungai utama yang melintasi kawasan Maninjau. Keempat sungai yang dimaksud adalah Batang Muaro Pisang, Batang Balok, Batang Tumayo, serta Batang Limau Sundai. Meluapnya sungai-sungai ini secara bersamaan, ditambah dengan intensitas hujan yang tinggi, menciptakan aliran deras yang membawa material lumpur, pasir, dan bebatuan dalam jumlah yang sangat besar dan belum pernah terjadi sebelumnya.
Material sedimen yang masif ini tidak hanya mengalir deras, tetapi juga mengendap dan kini membentuk timbunan gunung di sejumlah titik strategis di Maninjau. Kondisi ini menjadi ancaman berulang yang sangat nyata bagi keselamatan warga. Hingga saat kunjungan Andre Rosiade, endapan material tersebut belum tertangani secara maksimal, menyisakan kekhawatiran yang mendalam di hati masyarakat. Setiap kali hujan turun, bayangan galodo susulan kembali menghantui, menimbulkan rasa cemas yang tak berkesudahan. Akibatnya, tidak sedikit warga yang terpaksa terus mengungsi dari rumah mereka, memilih untuk hidup dalam ketidakpastian daripada menghadapi risiko bencana yang dapat membahayakan jiwa. Kondisi ini tentu sangat mengganggu aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat, menghambat proses pemulihan.
Menanggapi kondisi darurat dan ancaman laten tersebut, Andre Rosiade tidak tinggal diam. Ia segera mengambil langkah konkret dengan menghubungi Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera V (BWSS V), Naryo Widodo. Dalam percakapan tersebut, Andre secara tegas meminta agar balai sungai segera turun langsung ke lapangan untuk melakukan asesmen dan memulai tindakan penanganan. "Kita minta balai segera turun ke lapangan," tegas Andre dalam keterangan tertulis yang diterima pada Minggu (14/12/2025), menunjukkan urgensi dan keseriusannya dalam mendesak penanganan bencana.
Lebih lanjut, Andre juga mendesak agar alat berat segera didatangkan ke lokasi bencana. Alat berat ini sangat vital untuk melakukan pengerukan dan normalisasi terhadap keempat sungai yang terdampak banjir bandang. Pengerukan sedimen yang menumpuk dan normalisasi aliran sungai adalah langkah krusial guna mengurangi risiko bencana susulan yang setiap saat dapat terjadi, terutama saat musim hujan tiba. Tanpa tindakan ini, masyarakat Maninjau akan terus hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan ancaman yang tak kunjung usai.
Langkah cepat dan responsif yang ditunjukkan oleh Andre Rosiade ini mendapat respons yang sangat positif dari pemerintah nagari. Harmen Yasin, selaku Wali Nagari Maninjau, menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang setinggi-tingginya atas perhatian serta respons cepat yang diberikan. Menurutnya, kehadiran langsung dari wakil rakyat dan tindakan konkret yang diiringi desakan kepada pihak terkait adalah hal yang sangat dibutuhkan masyarakat dalam situasi darurat seperti saat ini. Ini membuktikan bahwa perhatian dari pusat benar-benar dirasakan hingga ke pelosok daerah yang terdampak bencana.
Dalam pertemuan langsung dengan warga terdampak, Andre Rosiade menegaskan bahwa bantuan yang disalurkan serta upaya advokasi yang dilakukannya merupakan bentuk dukungan, empati, dan kehadiran nyata negara di tengah masyarakat yang sedang berduka. Ia berharap agar bantuan tersebut dapat diterima dengan keikhlasan dan menjadi penguat semangat bagi warga Maninjau untuk bangkit kembali dari keterpurukan. Pesan ini bukan hanya tentang materi, tetapi juga tentang dukungan moral yang tak ternilai harganya.
Andre turut menyampaikan salam hangat dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Ia menjelaskan bahwa Presiden belum sempat berkunjung langsung ke lokasi bencana mengingat padatnya agenda kenegaraan, namun diharapkan kunjungan tersebut dapat direalisasikan pada waktu yang tepat di kemudian hari. Pesan dari Kepala Negara ini diharapkan dapat semakin menguatkan rasa percaya diri masyarakat Maninjau bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi cobaan ini, dan perhatian dari level tertinggi pemerintahan tetap ada.
Lebih dari itu, Andre Rosiade juga memberikan informasi penting terkait komitmen pemerintah pusat untuk jangka panjang. Melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemerintah pusat telah mengalokasikan anggaran signifikan untuk perbaikan infrastruktur di seluruh wilayah Sumatera Barat yang terdampak bencana alam, termasuk Maninjau. Anggaran tersebut diperuntukkan bagi rekonstruksi dan rehabilitasi berbagai infrastruktur penting seperti jalan, jembatan, fasilitas umum, tempat ibadah, serta jaringan irigasi yang vital bagi pertanian lokal. Seluruh pekerjaan perbaikan tersebut diharapkan dapat mulai dilaksanakan pada tahun depan, sebagai bagian integral dari upaya pemulihan pascabencana yang holistik dan berkelanjutan.
Terkait penanganan lumpur dan normalisasi sungai yang menjadi kunci mitigasi bencana susulan, Andre kembali menegaskan pentingnya agar pengerukan segera dilakukan tanpa menunda. Ia meminta pemerintah daerah bersama Balai Sungai untuk bekerja secara maksimal, berkoordinasi erat, dan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada. Alat berat diminta untuk beroperasi hingga tuntas, memastikan seluruh endapan material yang menghambat aliran sungai dapat diatasi sepenuhnya. Hal ini demi keselamatan warga dan pemulihan kehidupan masyarakat Maninjau secara menyeluruh, agar mereka dapat kembali membangun harapan dan masa depan tanpa dihantui ancaman bencana yang sama.












