Aturan dan Anjuran tidak keluar rumah, kenapa tidak diikuti…!

Ahmad Timor Harahap, SH Advokat / Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Pamulang. (Foto/is)

Oleh : Ahmada Timor

Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Pamulang

Sekita awal bulan Maret 2020, Pemerintah meminta (mengatur) masyarakat untuk tidak keluar rumah demi mencegah penularan Covid 19, bekerja dirumah, belajar dirumah, ibadah dirumah dan menghindari untuk berkumpul2. Aturan atau anjuran Pemerintah tersebut tidak efektif terlihat dari grafik penyebaran Covid 19 yang semakin hari semakin meningkat jumlah yang terinfeksi. Berbagai macam nasehat, wejangan sampai pada ancaman dikeluarkan untuk memaksa masyarakat agar tidak keluar rumah.

Sungguh kenyataan tersebut membuat pikiran kita menerawang kemana2 sampai ke pada pokok permasalahan yang begitu sederhana kalau disederhanakan, pokok permasalahan yang begitu rumit kalau dibuat rumit. Bagaimana tidak terombang ambing pikiran, maksud mulia demi keselematan dan kesehatan masyarakat Indonesia terhindar dari Covid 19, demi memutus mata rantai penyebaran Covid 19 yang dapat dipastikan dari hubungan manusia yang satu dengan manusia yang lain, namun aturan atau anjuran Pemerintah selalu dilanggar dan dilanggar lagi, masyarakat tidak semua patuh untuk tidak keluar rumah, ada apa yang salah dari strategi ini…..??? apa yang salah dari aturan dan anjuran ini…???

Barangkali Pemerintah melewatkan persoalan mendasar yang lebih menakutkan dari pada Covid 19, apa itu..? ayah, ibu dan anak terancam mati karena kelaparan sebab tidak bisa atau tidak boleh mencari makan keluar rumah (stay at home) sebagaimana  aturan dan anjuran yang dibaut. Ayah. Ibu dan anak sesungguhnya ingin sekali tidak keluar rumah, budi pekertinya sangat menyadari akan kepentingan bersama demi memutus mata rantai penyebaran Covid 19 yang maha dahsyat, namun apa daya harus tetap mencari makan demi menyambung hidup ayah, ibu dan anak (pekerja informal), terkadang ayah, ibu dan anak akhirnya berpikir pasrah lillahi ta’ala, lagi-lagi aturan atau anjuran Pemerintah dikalahkan alias tidak diikuti. Hal ini akan tetap menjadi persoalan rumit yang begitu rumit, maksud untuk memutus /menghambat penyebaran Covid 19 akan menjadi isapan jempol belaka.

Bagaimana aturan dan anjuran tidak keluar rumah agar diikuti ayah, ibu dan anak…?, tentunya dengan maksud mulia agar mata rantai penyebaran Covid 19 dengan segera dapat diatasi oleh Pemerintah dan kita bersama untuk kita bersama sebagai bangsa. Pertanyaan ini akan terjawab dengan sederhana kalau dibuat sederhana. Sederhana terpikirkan bagaimana kalau Pemerintah menyediakan kebutuhan pokok pangan ayah, ibu dan anak selama mereka dibutuhkan tidak keluar rumah demi membatasi penyebaran Covid 19, jaminan tersedianya kebutuhan pokok ayah, ibu dan anak menimbulkan budi pekerti yang bermuara akan kesadaran kepentingan bersama, diyakini akan diikutinya aturan dan ajnuran tidak keluar rumah akan efektif sebagaimana diharapkan oleh kita bersama.