Bagaimana Rasanya Belajar Di Rumah? Pembelajaran Secara Daring Mahasiswa Dituntut Lebih Produktif, Menghadapi Tantangan

Haerul Kusuma Mahasiswa Fakultas Hukum Unpam.
Haerul Kusuma Mahasiswa Fakultas Hukum Unpam.

Oleh : Haerul Kusuma

Mahasiswa Fakultas Hukum Unpam

Reportase.tv – Kurang lebih 1 tahun kami diuji dengan datangnya Covid 19 pada awal tahun 2020 lalu, yang mengharuskan kami belajar di rumah secara daring terus-menerus, proses pembelajaran pun mulai kurang efektif, sulitnya menyerap ilmu. Sebab yang mahasiswa inginkan adalah belajar secara tatap muka karena lebih mudah diserap ilmunya. Namun tak dapat dipungkiri Covid 19 ini semakin ganas seperti yang kita dengar beritanya di media-media, tapi apakah benar seganas itu? Covid 19 memang benar adanya namun belum tentu seganas demikian. Kita bayangkan seekor Buaya dia ganas dan bisa membuat manusia mati, pertanyaanya apakah ada Buaya yang jinak? Tentu ada. Apakah Buaya jinak itu bisa membuat manusia mati juga? Ya bisa. Maka dari itu kita perlu waspada. Jadi dengan ganasnya covid 19 ini tergantung kewaspadaan pribadi masing-masing. Inipun bagian dari ujian Tuhan, jadi perlu kita hargai.

Kemudian, datang nya covid 19 ini yang belum saja kunjung selesai, kita mahasiswa diharuskan untuk tetap belajar di rumah. Banyak mahasiswa mengeluh dan merasa kurang efektif dengan pembelajaran daring ini, ruwetnya kuliah online ada beberapa mahasiswa yang tidak kuat belum lagi masalah biaya, sehingga dia memutuskan untuk berhenti kuliah. Sangat disayangkan, separuh perjuangannya hilang begitu saja. Tidak dengan saya, saya berusaha agar tetap bertahan kuliah sampai selesai (wisuda), apapun kondisinya harus tetap berjuang dan mencari celah jalan keluar dari kendala tersebut. Tidak ada alasan bagi saya memutuskan berhenti kuliah cuma karena ruwetnya kuliah online. Maka dari itu kita dituntut untuk tetap produktif,  memperkuat konsistensi belajar. Di zaman sekarang ini belajar sangat mudah sekali dan bisa belajar dimana saja, orang yang mau belajar pasti selalu punya celah untuk menyerap ilmu secara efektif jadi nggak melulu melibatkan dan/atau ketergantungan pada sekolah atau universitas.

Banyak hal yang masih bisa dilakukan oleh para mahasiswa untuk belajar, teknologi zaman sekarang sudah canggih jadi tidak ada alasan untuk malas belajar atau ketergantungan pada universitas. Keseringan dikita membiaskan hal itu, sedangkan ukuran cerdasnya mahasiswa/i bisa dilihat dari seberapa giatnya ia dalam menyerap ilmu. Apalagi di masa pandemi seperti ini kita harus benar bersungguh-sungguh dalam menyerap ilmu, membangun relasi juga dapat meningkatkan pola pikir kita menjadi luas, maka penting bagi para mahasiswa untuk memperbanyak jaringan tidak hanya di dalam kampus melainkan diluar kampus pun kita perlu hal ini sebagai penambah wawasan.  Membangun relasi bisa dengan cara mengikuti webinar, workshop, seminar, sering-sering berdiskusi dan program daring lainnya.

Dilansir dikti.kemdikbud.go.id oleh Yayat Hendayana 28 October 2020 “Nizam menjelaskan masa pandemi ini dapat melatih serta menanamkan kebiasaan menjadi pembelajar mandiri melalui berbagai kelas daring atau webinar yang diikuti oleh mahasiswa. Selain itu, mahasiswa juga dapat bekerja sama satu dengan yang lain untuk menyelesaikan permasalahan dalam pembelajaran serta menghadapi permasalahan nyata yang ada. Ia pun menambahkan bahwa situasi ini bukan hanya menjadi tantangan bagi mahasiswa, namun juga para dosen dalam menyampaikan edukasi dimana para dosen perlu memastikan bahwa mahasiswa memahami materi pembelajaran.”

Hemat saya, saat proses pembelajaran daring berlangsung komunikasi antara dosen dengan mahasiswa serta pihak kampus itu penting sekali jadi tidak hanya disistem elearning saja. Lempar soal jawab selesai, sedangkan mahasiswa belum mengetahui ukuran penilaiannya seperti apa dan mahasiswa pun disarankan untuk tetap aktif. inilah yang saya maksud diatas mengenai sulit untuk menyerap ilmu dalam kuliah online ini. Kita sulit menebak karakter dosen, dan dosen pula sulit menebak karakter mahsiswa. Dengan begitu, maka kita perlu bekerjasama agar suasana tetap hidup dan sama-sama nyaman. Jadi walaupun kita tidak pernah bertemu secara tatap muka, setidaknya dengan komunikasi ada ilmu yang benar-benar terserap hal ini bisa lewat zoom atau sejenis lainnya. Sebab masa pandemi kita tidak ada jadwal untuk tatap muka, jadi hal itu penting untuk diterapkan sehingga dosen bisa mengetahui dan memastikan apakah mahasiswa memahami materi pembelajaran? ini perlu ditekankan.

Selain dari itu mahasiswa pun harus melewati berbagai tantangan, mulai dari belajar secara mandiri, mengorbankan waktu dan pikiran, banyak kendala yang mahasiswa hadapi tatkala menggunakan sistem online ini, mulai dari gangguan pada jaringan internetnya, kehabisan kuota atau paket data, terhambatnya waktu kerja, dan keterbatasan komunikasi antara dosen dan mahasiswa. Saya tak pernah membayangkan bagaimana nasib mahasiswa yang berada dipelosok negeri apa yang mereka rasakan? Sungguh ikut prihatin, saya masih bersyukur masih dekat dengan pusat kota yang jaringannya terjamin. Sebetulnya kuliah yang efektif itu adalah kuliah face to face secara langsung jadi fair. Namun, dalam kondisi sepeti ini (Covid 19) kuliah face to face secara langsung tidak lagi menjadi prioritas atau masalah utama, kita tidak bisa menghindar dari aturan pemerintah, maka keefektivan belajar sekarang ini adalah ada pada kerjasama yang kuat antara mahasiswa, dosen, dan pihak kampus untuk lebih komunikatif.

Tantangan pun telah dirasakan pemerintah. Di masa pandemi Covid-19 ini, pemerintah harus menyediakan pendidikan yang lebih terjangkau, mengakomodasi mahasiswa-mahasiswa yang niat belajar namun keterbatasan ekonomi, memutuskan kebijakan pembelajaran. Jadi perlu bijak dalam menjalankan tugas tersebut. Bagaimanapun pemerintah berperan penting untuk kita khususnya pembinaan dari sektor pendidikan.

Dengan demikian pada penulisan diatas dapat disimpulkan bahwa kuliah daring ini mahasiswa dituntut untuk lebih produtif, keaktifan mahasiswa pun sekarang menjadi sorotan utama untuk diadopsi. Kepintaran harus dibarengin dengan kerajinan. Dan harus tetap menjaga konsistensi belajar tetap semangat, apa lagi kita sebagai kaum milenial didepan saingan semakin ketat. Malas sedikit bisa-bisa kalah satu langkah. Maka apapun kondisinya kita harus tetap berjuang niatkan hati untuk menggapai cita-cita yang diinginkan, dan semoga wabah segera selesai dan kita hidup normal kembali.