Bangsa Primordial Yang Dipaksa Patuh Terhadap Zaman Industri 4.0

Reportase.tv Jakarta – Budayawan senior, Radhar Panca Dahana mengatakan, bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku yang kuat menganut primordialisme, tidak mungkin dipaksa mengikuti arus digitalisasi industri 4.0.

Hal itu ia sampaikan, dalam diskusi bulanan The Nusa Institute dengan tema “Era Industri 4.0 dan Tantangan Fundamentalisme Beragama,” di kantor pribadi Prof. Nasaruddin Umar, Cipete, Jakarta Selatan, pada Rabu malam (25/09/2019).

Budayawan kelahiran Jakarta, 26 Maret 1965 itu memberi contoh masyarakat Baduy, suku Anak Dalam di Jambi hingga masyarakat Papua, semuanya tidak akan bisa melepaskan ikatan primordialisme yang sudah mendarah daging sejak ratusan tahun lalu untuk kemudian harus berubah menyambut datangnya industri modern yang serba digital,

“Ada beberapa suku bangsa, kelompok manusia yang berdiam di kampung Naga, di Baduy, di Tengger, di Trunyan, di Toraja, suku anak dalam, dan asmat, itu udah satu nol (industri 1.0) belom? nol-nol juga enggak”, katanya.

Menurut Radhar, kemajuan zaman tidak harus menuntut mereka hidup dengan keadaan berpijak pada teknologi. Konteks sosio-kultural masyarakat primordial Indonesia sejatinya memiliki tingkatan terhadap wawasan saintifik,

“Kita tidak perlu mempermasalahkan orang Baduy itu tidak ngerti fisika, kita tidak mempermasalahkan orang Papua itu tidak ngerti sosiologi, apalagi Tasawuf Islam. Kita biarkan itu semua karena apa, mereka juga membiarkan kita menjalani kehidupan kita yang berpacu pada teknologi,” Imbuh sastrawan penulis esai “Menjadi Manusia Indonesia” itu.

Industri 4.0 sebagaimana yang dijelaskan Radhar adalah era kehidupan yang berpijak pada pengunaan sistem robotik. Artinya, manusia sudah tidak lagi mempercayai hal-hal yang sifatnya klenik. Hal itu sudah ditandai sejak era industri 2.0.

Namun, kenyataannya berbalik dengan realitas masyarakat Indonesia, di mana sebagian besar masih banyak yang mempercayai hal-hal yang bersifat mistis. Terlebih di area masyarakat suku yang telah disebutkan, realitas itu tidak bisa lepas dari keyakinan mereka.

“Mereka tetap statis, dalam kehidupan, dalam keyakinan, dalam kepercayaan masa lalu yang primitif dan primordialnya. Bagi mereka itu kebenaran, dan kita tidak perlu mengganggu mereka, justru menghormatinya maka mereka akan menghormati kita,”Jelas Radhar.

Radhar melanjutkan, kekurangan literasi tidak meniscayakan masyarakat pedalaman harus selaras dengan kemajuan zaman. Berbeda dengan halnya rakyat Malaysia, Singapura, Filipina dan Thailand yang notabene tingkat literasinya sudah tinggi.

Radhar lantas menyindir para elit pemerintah yang tidak memperhatikan dan memahami realitas masyarakat primordial tersebut. Seharusnya, pejabat pemerintah yang sudah diamanahi dan difasilitasi rakyat dengan kekuasaan bisa memahami tentang kondisi masyarakatnya,

“Menurut saya keabsahan dari seorang pemimpin itu diukur dari cara dia memahami siapa yang dia pimpin. Kalau dia tidak memahami yang dia pimpin, buat saya keabsahannya batal,” tandasnya. (Alf/Ist/Sfy).