Bongkar Praktek Dugaan Pungli di Sekolah, Guru Honorer Dipecat Sepihak

Rumini, guru honorer yang dipecat karena diduga bongkar prkatek pungli disekolah tempatnya mengajat.(Foto: Hendra reptv)

Reportase.tv Tangsel– Guru honorer di SDN 02 Pondok Pucung,Kecamatan PondokAren,Kota Tengerang Selatan,  diberhentikan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Selatan.

Rumini guru honorer ini diberhentikan sepihak pada Senin (3/6) lalu SK nomor  567/2452-Disdikbud dan tidak diijinkan ikut dalam proses belajar mengajar.

Pemberhentian guru honorer tersebut diduga ada kaitannya dengan adanya  dugaan praktek pungli tempat korban mengajar.

” Diberhentikan lantaran mencoba membongkar dugaan praktek pungli di sekolah tersebut,” kata Rumini,saat ditemui wartawan di rumah kontrakannya di JalanSalak RT04 FW07,Pesanggrahan Jakarta Selatan.

Rumini mengaku sudah 6  kali mendapat surat teguran dari pihak sekolah dan dipaksa menandatangani surat pemecatan yang sepihak.

” Saya di intervensi untuk menandatangani surat pemecatan saya tapi dengan  tegas saya menolak  jujur saat itu yang saya rasakan saya merasa difitnah dan dianggap melakukan penyadapan kepada sekolah padahal saya yang menjadi korban penyadapan,”terangnya.

Selain difitnah  Rumini juga dianggap telah melakukan pembohongan publik oleh pihak sekolah bahkan tidak dapat bekerja sama sehinggasituasi di sekolah tidak kondusif. 

“Saya difitnah melakukan pembohongan publik bahkan tidak dapat bekerja sama dengan baik padahal saya sangat berharap pihak sekolah mau mendengar secara internal step by step  keluhan orang tua dan anak anak karna banyak dana yang di bebankan pada murid,” Jelasnya.

Rumini melanjutkan dirinya terkena kasus peneguran keras dari sekolah sebanyak tiga ( 3) kali sejak tahun 2015 hingga tahun 2019. dan di tahun 2018 hingga tahun 2019 menurutnya adalah kasus terbesar yang dia alami.

“Sejak saya mengajar di tahun 2012 anak anak selalu membeli buku secara mandiri padahal ada anggaran dari dana BOS. Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) selalu di buat setiap tahun tapi tidak ada realisasinya di sekolah hanya di tahun 2018 pada satu semester saja dan itupun dananya hanya diberikan separuhnya dari dana yang ada sementara data siswa LPJnya dibuat penuh ( full ) dan jika ada orang tua yang bertanya saat membandingkan dengan sekolah lain pihak sekolah menyuruh pindah sekolah saja,” Paparnya.

dari perjalanannya sebagai guru kelas Rumini juga menceritakan pada tahun 2015  pertama kali dirinya mendapat teguran  dari pihak sekolah saat ingin membongkar kasus penjualan buku paket kemudian ditahun 2017. Di  tahun 2018 juga 2019 Rumini mengalami hal yang sama. 

“Bahkan ada penjual buku paket yang bekerja sama dengan pihak sekolah pada tahun 2015 satu paket buku di jual seharga Rp 230 ribu sampai 360 ribu persiswa. Harga buku juga bervariasi tergantung kebutuhan siswa dari kelas satu hingga kelas tiga biasanya Rp 230 Ribu kalau siswa diatasnya biasanya Rp 360 ribu , Karena sekolah ini sebagai rujukan sekolah nasional menurut saya sekolah biasa saja bisa gratis masa sekolah rujukan nasional anak anak harus membeli,”Katanya. 

Masih menurut Rumini, pihak sekolah juga  memungut biaya kegiatan siswa sebesar Rp 130 ribu pertahun untuk kegiatan sekolah,  sebanyak 594 siswa siswi wajib untuk membayar bahkan ada juga pungutan uang lainnya yaitu untuk membayar komputer.

“Jika tidak membayar uang kegiatan itu semua anak tidak berani ambil rapot mereka takut jika tidak membayar bahkan ada pungutan dana donatur sekolah  melalui brosur. selain itu
ada juga dana komputer sebesar 20 ribu setiap bulan sejak saya masuk dari tahun 2012 bahkan sempat dua tahun tidak ada pelajarannya namun tetap membayar bahkan sekolah sempat melakukan pungutan biaya daftar ulang hingga beberapa ratus ribu saya juga marah saat sekolah memberlakukan itu terakhir ada juga terkait pengadaan infokus 15 unit dari yang dijanjikan namun hanya turun 8 unit infokus saja dan biaya instalainya di bebankan pada siswa perkelas Rp 2 juta dari jumlah18 kelas yang ada;”pungkasnya.

Sementara di tempat terpisah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Selatan mengatakan akan menggelar pemeriksaan dan pengkajian ulang terkait pemecatan guru honores SDN pondok Pucung 02 Pondok Aren.

“Kami Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kota Tangsel akan menggelar pemeriksaan juga pengkajian ulang terkait pemecatan Rumini dan termasuk Termasuk dugaan penyalahgunaan penggunaan anggaran bos dan bosda yang akan melibatkan inkspektorat Sekolah dan para guru” Pungkasnya. (Hendra)