Catut Nama Mantan Petinggi Polri, Pasutri Lakukan Penipuan Berkedok Investasi

Reportase.tv, Jakarta – Subdit Harda Ditreskrimum Polda Metro Jaya mengungkap kasus investasi proyek fiktif, dengan mencatut nama mantan petinggi Polri. Tidak tanggung-tanggung, pelaku meraup lebih dari Rp 39 miliar dari aksi mereka.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, dalam kasus ini polisi telah menetapkan tujuh orang tersangka. Dari jumlah tersebut, polisi baru menahan dua tersangka.

“Tersangka antara lain, suami-istri DK alias Donny Widjaja dan istrinya KA. Satu orang lagi adalah FCT yang statusnya Direktur Utama PT Petrocon Mitra Sejahtera,” ujar Yusri di Mapolda Metro Jaya, Rabu (27/1).

Dari laporan korban, kata Yusri, DK mengaku sebagai mantan menantu mantan petinggi Polri. Dia juga mengaku memiliki banyak pengalaman di bidang perminyakan dan proyek raksasa lainnya.

Pada Januari 2019, DK menawarkan kerja sama investasi di proyek-proyek tersebut kepada korban. Untuk lebih meyakinkan korban, DK menunjukkan worksheet proyek yang isinya penjabaran modal yang dibutuhkan dan keuntungan yang akan diperoleh.

“DK mengajak korban berinvestasi dengan membiayai proyek-proyek itu. Korban yang tertarik dengan keuntungan akhirnya menggelontorkan dana senilai Rp 39,5 miliar,” katanya.

Yusri menambahkan, Sejumlah proyek yang tercakup dalam kasus investasi ini atara lain adalah akuisisi (pengambilalihan) PT Tawu Inti Bati di Karawang senilai Rp 24 miliar.

Lalu proyek pengadaan supply MFO (marine fuel oil, bahan bakar kapal laut) 180 Cilegon, Banten senilai Rp 4,35 miliar dan proyek yang sama untuk kedua kalinya senilai Rp 3 miliar. Selain itu, ada proyek batu bara senilai Rp 5,8 miliar dan transaksi tanah jaminan bank di Depok, Jawa Barat Rp 2,2 miliar.

“Malah ada juga proyek yang nilainya relatif kecil, proyek halal bihalal senilai Rp117 juta, yang ternyata realisasinya hanya Rp 50 juta,” jelasnya.

Kemudian pada saat jatuh tempo bagi hasil, kata Yusri, Donny tak dapat memenuhi janjinya. Merasa telah ditipu, korban akhirnya melapor ke Polda Metro Jaya.

“Malah ada transaksi bahwa dana investasi itu dibelikan harta benda berbentuk properti atas KA nama istrinya,” jelas Yusri.

Akibat perbuatannya,tersangka dijerat dengan Pasal 372 KUHP, 263 KUHP yang merujuk pada UU No 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), dengan ancaman maksimal 20 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar.