Corona Pembuka Era Industri 4.0

Dosen Hukum Kewarisan Islam FH Univ. Pamulang dan Mahasiswa Program Doktoral SPs. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Amin Songgirin (foto: Ist)

Reportase.tv, Jakarta – Sejarah revolusi industry dimulai sejak dari industry 1.0, 2.0, 3.0 sampai 4.0. fase industry adalah perubahan yang nyata dari perubahan-perubahan yang ada. Industry 1.0 dicirikan dengan mekanisasi produksi sebagai penunjang efektifitas dan efesiensi aktivitas manusia. Industry 2.0 ditandai dengan produksi secara massal serta standarisasi mutu. Industry 3.0 dengan kekhasannya penyesuaian massal dan fleksibiltas manufaktur berbasis otomasi dan robot, sedang industry 4.0 hadir sebagai wujud keberlanjutan dari industry—industri sebelumnya, yang ditandai dengan cyber fisik dan kolaborasi manufaktur.

Dalam industry 4.0 yang pertama kali digagas oleh Negara German, tahun 2011. Ia mempunyai kepentingan besar sebagai Negara maju yang mempunyai kebijakan pembangunannya yang disebut high-tech strategi 2020. Tujuannya adalah untuk mempertahankan Jerman agar selalu menjadi yang terdepan dalam dunia manufaktur.

Potensi manfaat dari industry 4.0 berupa perbaikan kecepatan fleksibiltas produksi, peningkatan layanan kepada pelanggan dan peningkatan pendapatan. Terwujudnya potensi manfaat dimaksud dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian suatu Negara.

Di samping memang menawarkan segudang manfaat, sisi lain juga terdapat tantangan yang perlu dijawab. Tantangan yang dihadapi suatu Negara saat menerapkan Industri 4.0 adalah munculnya resitansi perubahan demografi dan aspek social, ketidaksetabilan kondisi politik, keterbatasan sumberdaya, resiko bencana alam dan tuntutan penerapan teknologi yang ramah lingkungan.

Zaman segera berubah, manusia berganti fasenya digantikan generasi millennial. Era baru memiliki tantangan yang harus dijawab, baik oleh manusia lama (yang kurang akrab dengan era digitalisasi) dengan manusia baru yang sangat dan aware dengan teknologi.

Wabah Corona yang sering disebut Covid-19 bisa dikatakan sebagai pembuka era industry 4.0 dengan nuansa kehidupan yang diterapkan dan keadaan social serta ekonomi mengantisipasi penularannya adalah wujud gambaran kehidupan era 4.0.

Saat ini penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan di rumah. Interaksi guru dan siswa, dosen dan mahasiswa melalui media internet yang tidak perlu lagi berjumpa secara langsung. Pekerja melakukan work from home (WFH), sesekali berkunjung ke kantor pada pekerjaan-pekerjaan yang mengharuskan. Pelayanan public banyak menggunakan aplikasi online. Pelan tapi pasti teknologi ini harus merambah ke perkampungan-perkampungan.

Dengan banyaknya orang beraktifitas di rumah, maka jalan-jalan menjadi lengang, sunyi. Sarana transportasi menyusut dalam beroperasi, baik di darat, laut dan udara. Pabrik-pabrik banyak yang istirahat. Situasi ini menyebabkan depresi, seperti pada masa 1929-1932 sebagai masa malaise di mana ekonomi meredup selama satu decade. Namun di sisi lain sebagai suatu hal yang positif adalah langit membiru jernih, gunung-gunung berani menampakkan diri karena selama ini tertutup asap bak gunung baru. Lapisan ozon bumi mulai memulih. Yang ini semua suatu yang teramat mahal biayanya untuk menjadikan langit biru kembali.

Bagaimana manusia berjubel di tempat-tempat umum, pasar, stasiun kereta, bandara-bandara, pusat perbelanjaan, pusat-pusat kuliner dan lainnya menjadi suatu hal lumrah saat mulai dilonggarkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Seharusnya pemandangan demikian tidak terjadi untuk menghilangkan makin mewabahnya virus.

Corona sebagai gerbang pembuka industry 4.0, hal ini bisa dilihat fenomena yang terjadi. Manusia mulai harus beralih lebih efesien, lebih akrab lagi dengan teknologi. Adanya pembatasan social, pembatasan sarana transportasi, pembatasan berkerumun, dipaksa mengadakan kebutuhan dari rumah.

Masa transisi ini perlu disikapi dengan sempurna oleh kesadaran setiap individu dan pemerintah. Akan terjadi perubahan-perubahan drastis di masa mendatang. Semua serba online, tentu memberikan dampak signifikan pada berbagai sector, baik ekonomi, social, budaya maupun agama.

Sektor pedesaan misalnya, perlu ada terobosan-terobosan baru, tidak mengandalkan situasi konvensional seperti saat ini. Sudah perlu membudayakan teknologi bio cycle-farming; limbah pertanian diolah jadi pakan ternak, lembah ternak dijadikan protein dengan ternak cacing/manggot untuk bahan pakan unggas, ikan dan lainnya, dalam siklus biologi yang panjang dan setiap mata rantai menghasilkan komoditi. Harus ada perubahan mendasar, seperti mewujudkan konsep farming estate, pertanian secara kolektif dengan satu manajemen “Koperasi Pertanian” yang memaksa bertani sesuai prosedurnya. Mengapa kolektif? Karena lahan-lahan petani kian menyempit, maka perlu berjamaah. Menghadirkan konsep fiqih 27 derajat pahalanya apabila berjamaah, ini harus dihadirkan dalam setiap usaha ekonomi, termasuk pertanian.

Setiap desa mempunyai “home base data” yang dikendalikan di setiap desa. Adanya website desa mendorong petani dan pemerintah untuk bekerja sesuai prosedur. Dalam website berisikan data penduduk secara detail dan valid. Terintegrasi dengan dunia usaha (berupa) direct marketing merambah pasar, menghapus percaloan. Dipasarkan melalui market yang dibangun dari dana koperasi tani, juga bisa bekerjasama dengan jasa penyedia market online yang telah ada dan berkembang selama ini, seperti Shopee, Bukalapak, Tokopedia, Gojek, dan sebagainya.

Bidang hukum, pendidikan, agama dan lain-lain harus menyesuaikan menuju era industry 4.0 yang gerbangnya dan pembelajarannya telah dibuka, melalui covid-19. Bagaimana pasca wabah berusai, orang tidak harus setiap saat dan waktu kerja di kantor, melainkan dikerjakan di rumah dengan hasil kerja lebih terkontrol. Hal demikian mendorong diciptakan system administrasi baru guna mengatur kinerja karyawan yang lebih terkomando. Orang tidak lagi perlu berdesak-sesak ke tempat kerja menghabiskan biaya dan energy, sehingga kantor menjadi ramping lebih efisien.

Belanja tidak harus datang ke pasar atau ke pusat perbelanjaan secara langsung, cukup pesan dari rumah kemudian barang akan datang sendiri. Beli tomat, cabai, makanan harian, penganan sudah tidak sibuk-sibuk dikunjungi langsung. Persaingan antar E-commerce kian ketat. Pelayanan kurang baik, tidak bagus akan tutup. Infrastrukturnya sudah mulai jalan, transportasi online seperti ojeg online akan semakin canggih, sehingga e-commerce akan tumbuh pesat untuk bersaing melayani consumer.

Pada bidang pendidikan tidak harus semua datang ke kampus, diperlukan datang untuk praktikum dan mengontrol kemampuan mahasiswa untuk memahami materi kuliah, biaya akan jauh lebih hemat, system informasi akan berkembang cepat mengikuti kebutuhan, KORUPSI-pun bisa ditekan, sebab segala jenis pengeluaran akan terkontrol dari berbagai sisi. Transparansi sudah mulai terbuka, tidak bisa dan sulit otak-atik atau mengakali anggaran.

Akhirnya Negara pembelajar akan memulai sejarah barunya. Selamat datang “New Era” dengan langit yang lebih biru, matahari lebih berseri-seri.

(Amin Songgirin: Dosen Fakultas Hukum Universitas Pamulang & Mahasiswa Program Doktoral Sekolah Pascasarjana, SPs UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)