Daftarkan Putra-Putri ke Sekolah Dengan Hasil Pertanian

Reportase.tv Banyumas– Peraturan tentang PPDB yakni sesuai Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018, mengatur tentang sistem zonasi. pro dan kontra, aturan yang tergolong masih baru, pada Pendaftaran PPDB atau Penerimaan Peserta Didik Baru di beberapa daerah masih banyak menuai protes.

Di Banyumas, Jawa Tengah ada sekolah setara SMP dalam pendaftaran sekolah justru tidak menggunakan zonasi. Mereka bebas siapa saja akan diterima. uniknya lagi, warga cukup membawa hasil pertanian seperti pisang, singkong, ubi jalar, tales dan hasil bumi lainnya untuk mendaftar.

Sedangkan untuk biaya sekolah bulanan, mereka digratiskan hingga lulus sekolah.

Dengan didampingi orang tua para calon siswa ini membawa aneka hasil bumi ke sekolah Madrasah Tsanawiyah Pakis, yang berada di Kampung Pesawahan, Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Masyarakat ada yang membawa hasil pertanian seperti ubi jalar, singkong, tales, sayur mayur hingga petai.

Hasil bumi inilah yang digunakan para orang tua wali murid untuk mendaftar ulang anak-anaknya bersekolah di MTS Pakis.

Sekolah setingkat SMP yang berada di pinggir hutan dan di puncak bukit Dusun Pesawahan ini memang menjadi sekolah favorit warga desa setempat.

Selain digratiskan dari semua biaya pendidikan, para siswa justru mendapatkan buku-buku dari pihak pengelola sekolah.

Sekolah ini memang sengaja didirikan untuk membantu anak-anak petani setempat yang mayoritas dari golongan ekonomi kurang mampu, seperti petani dan buruh harian.

Para siswa yang sekolah disiini adalah mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai sekolah umum.

Menurut orang tua murid, Sanusi, dirinya memilih sekolah tersebut karena tidak adanya biaya untuk melanjutkan sekolah formal yang semakin tinggi biayanya.

Para siswa di sekolah Pakis ini rata-rata berusia sekolah menengah pertama.

Mereka juga dikenakan wajib belajar pada jam-jam sekolah biasa. Namun ada ciri khas yang sangat membedakan dengan sekolah umum, yaitu para siswa warga kurang mampu ini mendapatkan materi tambahan yaitu materi keterampilan pertanian.

Untuk lokasi materi pertanian, orang tua siswa dan siswa membuka lahan di sekitar sekolah untuk digunakan sebagai materi pertanian.

Pengelola pusat kegiatan belajar mengajar Pakis Isrodin menuturkan, sekolah ini didirikan karena banyaknya warga lingkungan sekitar yang ingin bersekolah, namun terbentur masalah dana. Padahal antusiasme warga untuk mengenyam pendidikan tergolong sangat tinggi.

“Konsep kami memang mendekat kepada warga miskin pinggir hutan agar mereka bisa belajar layaknya anak-anak di kota. Selain itu kami disini tidak mau membebani anak-anak dan orang tua siswa dengan pungutan apapun. Bahkan kami memberi bantuan buku-buku kepada pendaftar sekolah disini,” terang isrodin.(Kusworo)