Dikotomi Berfikir Masyarakat Mengenai Covid-19

Heri Indra Gunawan, S.Pd., M.Pd Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang. ( Foto/dok )

Oleh: Heri Indra Gunawan, S.Pd., M.Pd
Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang

Siapa yang sekarang tidak muak jika mendengar kata Corona Virus Disease atau Covid-19, yang hampir setiap detik menjadi asupan keseharian seluruh masyarakat penghuni bumi. Beritanya menyebar seantero jagad yang ditayangkan diberbagai media, tanpa kenal waktu hingga menjadi trending topik dunia.
Kasta, gender, usia, pejabat dan rakyat jelata semua berpotensi terkena imbas dan dapat dinyatakan sebagai orang dalam pengawasan (ODP), Pasien dalam Pengawasan (PDP) hingga dinyatakan positif atau negatif.

Virus ini tak kasat mata, dapat menyerang siapa saja dan dimana saja. Himbauan dan kebijakan pemerintah dalam meminimalisir penyebaran virus ini dibuat dan diterapkan di seluruh pelosok negeri, masyarakat wajib menaati dan mempraktikan gaya hidup bersih mulai dari memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, pembatasan sosial, dan lain sebagainya.

Dampaknyapun, dirasakan oleh masyarakat secara luas disemua aspek dan semua sendi-sendi kehidupan, yang pada akhirnya menimbulkan persepsi yang membentuk dikotomi pemikiran masyarakat mengenai Covid-19. Spekulasipun akhirnya terbentuk dengan sendirinya, ada yang pro dan ada juga yang kontra mengenai mewabahnya Covid-19 ini.

Pertama, diaspek pendidikan timbul dikotomi mengenai kesenjangan, mahaiswa dan para pelajar mengeluh akan cara belajar yang baru yang semua berbasis jarak jauh, penggunaan sarana berbasis internet digunakan sebagai cara satu-satunya yang dinobatkan paling ampuh supaya pendidikan terus berjalan. Orangtua kini otodidak berperan menjadi guru yang mengajarkan ilmu pengetahuan kepada setiap anaknya, yang dahulu belajar hanya dipasrahkan pada guru disekolah kini mereka merasakan susahnya dan harus sabarnya menjadi seorang guru bagi anak-anak yang notabene mereka semua memiiki hak menjadi seorang pemimpin generasi penerus bangsa. Para pelajar mengeluh, kenapa sekarang banyak diberikan tumpukan tugas, bukanya kita dituntut untuk tidak stress sebagai salah satu pelindung mencetak imunitas di dalam tubuh.

Namun, disisi lain banyak spekulasi yang mengarah pada kebaikan pembelajaran jarak jauh dan pemanfaatan internet sebagai metode pembelajarannya, secara luas hal ini dapat menjadikan generasi penerus bangsa menjadi melek teknologi dan menghasilkan Sumber Daya Manusia yang unggul serta mampu berfikir kritis untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Orangtuapun menjadi tahu bagaimana proses membelajarkan dan diajarkan itu suatu pekerjaan yang sangat-sangat mulia.

Kedua, yakni pada aspek ekonomi muncul juga dikotomi berfikir masyarakat yang memandang bahwa banyak perusahaan-perusahaan raksasa yang berhenti beroprasi untuk produksi, dampaknya banyak para pekerja yang dirumahkan, Namun begitu juga sebaliknya, para pelaku usaha kecil yang hari-hari biasa sebelum virus Covid-19 ini mewabah penghasilannya biasa-biasa saja mengalami limpahan rejeki yang luar biasa, mereka terus berjuang dan ihtiar, para pedagang yang menjajakan daganganya dipinggir jalan kian mendapatkan keuntungan, pedangang masker, pedangang sarungtangan, mendapatkan keuntungan tidak seperti biasa. Hal ini memberikan kita pelajaran bahwa, semua orang memiliki semangat berwirausaha, jika dilakukan dengan baik maka semua bisa menjadi pelaku ekonomi yang tangguh dan tahan banting.

Ketiga, pada aspek kemanusiaan, Orang tak lagi individualistis memikirkan perut mereka sendiri, uluran tangan dari para dermawan kian menjelaskan makna dari kemanusiaan, orang tidak lagi memikirkan bahwa dirinyalah penguasa dunia ini, namun tanpa orang lain mereka bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Orang tak lagi memfikirkan pangkat, jabatan, harta dan sebagainya, karena hakikatnya dunia hanyalah tempat persinggahan sementara untuk numpang minum semata, sangat-sangat singkat dunia ini. Disinilah kesempatan untuk kita semua, dengan saling membantu dan memperbaiki diri kita masing-masing menuju keabadian yang hakiki ditengah-tengah merebaknya wabah virus corona ini, karena setiap ujian pasti ada hikmah yang dapat kita ambil sesudahnya,

Keempat, aspek keluarga, sebelum Covid-19 mewabah banyak orang yang ngoyo akan kehidupan duniawi, kerja diforsir siang malam tanpa henti, namun sekarang mereka semakin tunduk dan patuh pada sang Ilahi Robby, rutin membaca kitab suci, serta lebih khusuk beribadah di rumah dengan keluarga masing-masing. Orang tidak lagi berangkat pagi pulang petang, untuk mencari nafkah, padahal dibelakng itu semua ada keluarga yang menunggu menanti canda tawa dari seorang pemimpin keluarga, mencari kedekatan dengan orangtua, kini mereka bisa mengobati rasa rindu dan merasakan makna sebuah keluarga, berkumpul, bercanda tawa, dan saling mengasihi satu sama lain, saling memberikan nasihat kepada seisi rumah, serta menjadi tempat berteduh dari segala kepenatan.
Kini kita menyadari, dibalik wabah ini ada hikmah yang dapat kita petik, ada pelajaran berharga yang kita dapatkan, yakni ada pelajaran bahwa kita sebagai manusia kembali menuju fitrah sebagai seorang manusia. Setelah wabah ini berakhir, kita semua percaya akan lahir para pemimpin-pemimpin tangguh yang memiliki hati welas asih, cerdas dan lebih peduli kepada sesama.