‘Dolus Eventualis’ yang Dilupakan

Dosen Prodi Hukum Universitas Pamulang, Dadang Sumarna, SH., MH. (foto: Dok)

Dadang Sumarna, SH.,MH
Dosen Prodi Hukum Universitas Pamulang

Reportase.tv, Tangsel – Peradilan pidana saat ini sedang dihebohkan dengan alasan dakwaan jaksa memilih dakwaan subsider, bahwa terdakwa tidak sengaja menyiram air keras ke mata Novel, rencananya cairan yang dari hasil penyidikan merupakan asam sulfathanya disiram ke tubuh untuk sekadar memberi pelajaran, bukan ditujukan melakukan penganiayaan berat. Tuntutan rendah ini tak lain karena penuntut menggunakan dakwaan subsider yaitu Pasal 353 ayat (2) KUHP Juncto Pasal 55 ayat (1) KUHP, yang meskipun ancaman pidana maksimalnya 7 tahun tapi penuntut hanya meminta kepada majelis agar dihukum selama 1 tahun. Selain itu, penuntut juga tampaknya ragu dengan pasal yang didakwakannya sendiri kepada terdakwa.

Penggunaan dakwaan subsider sebagai dasar tuntutan, bukan dakwaan primer yaitu Pasal 355 ayat (1) KUHP, yang ancaman hukumannya selama 12 tahun. Penuntut sudah beranggapan dakwaan primer tidak terbukti dan memilih membuktikan dakwaan subsider yang ancaman hukumannya lebih rendah, meskipun belum ada vonis majelis hakim.

Hemat penulis, bahwa dalam hukum pidana alasan yang di sampaikan oleh jaksa tidak sengaja menyiram air keras ke mata Novel, rencananya cairan yang dari hasil penyidikan merupakan asam sulfat  hanya disiram ke tubuh untuk sekadar memberi pelajaran, bukan ditujukan melakukan penganiayaan berat, merupakan Dolus eventualis yang berarti bahwa kesengajaan yang berupa kesadaran akan kemungkinan terjadi suatu perbuatan telah dapat dipikirkan terlebih dahulu, sekalipun bukan yang dituju.

Menyiram air keras ke tubuh seseorang yang juga terkena mata/wajah adalah bentuk kesengajaan. Bisa dimaknai bahwa Kesengajaan berbeda dengan jenis dari kealpaan. Akan tetapi, dasarnya sama, yaitu adanya perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana, adanya kemampuan bertanggungjawab, dan tidak adanya alasan pemaaf, akan tetapi bentuk dari kesengajaan berbeda dengan kealpaan.

Kesengajaan adalah mengenai sikap batin orang menentang larangan. Sedangkan kealpaan adalah sikap kurang mengindahkan larangan sehingga tidak berhati-hati dalam melakukan sesuatu yang objektif sehingga menimbulkan keadaan yang dilarang.

Selanjutnya berbicara tentang kesengajaan dalam KUHP dapat temui dalam beberapa pasal dengan penggunaan istilah yang berbeda namun makna yang terkandung adalah sama yaitu sengaja/dolus/opzet. Beberapa contoh pasal tersebut antara lain;

1. Pasal 338 KUHP menggunakan istilah “dengan sengaja”

2. Pasal 164 KUHP menggunakan istilah “mengetahui tentang”

3. Pasal 362,378,263 KUHP menggunakan istilah “dengan maksud”

4. Pasal 53 KUHP menggunakan istilah “niat”

5. Pasal 340 dan 355 KUHP menggunakan istilah “dengan rencana lebih dahulu”

Dengan demikian bahwa dakwaan jaksa dengan Pasal 353 ayat (2) KUHP Juncto Pasal 55 ayat (1) KUHP, maksimalnya 7 tahun tapi penuntut hanya meminta kepada majelis agar dihukum selama 1 tahun, patut dipertanyakan alasan-alasan logis dan akademisnya dari tidak sengaja walaupun hukum pidana tidak membicarakan kwantitas dari penerapan sanksi pidana, tetapi setidaknya ada keseimbangan antara perbuatan dengan sanksi yang diberikan walaupun keadilan jauh panggang dari api.

Semoga hakim dapat mempertimbangkan apa yang di sangkal oleh terdakwa dan apa yang diakui oleh terdakwa serta yang diyakini oleh diri hakim itu sendiri dalam memberikan vonis dengan tidak lupa dengan dolus eventualis.

Wallahu alam bis shawab.