Drama Kolosal Menutup Festival Soedirman

Reportase.tv, Purbalingga – Drama kolosal yang mengisahkan perjuangan Jenderal Soedirman menjadi penutupan Festival Jenderal Soedirman yang dihelat di GOR Goentur Darjono, Selasa (4/1). Drama yang dikoordinatori oleh Kapten Inf. Sarwanto dimainkan oleh lebih dari 250 pelajar, dan mengisahkan perjuangan Penglima Besar Jenderal Soedirman dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dari tangan penjajah.

Drama kolosal dimulai dari kisah lahirnya bayi yang bernama Soedirman pada 24 Januari 1916 di desa Bantar Barang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga. Usai drama kolosal dilanjutkan dengan pengajian akbar memperingati haul Jenderal Soedirman.

Sebelumnya Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi beserta Forkompinda dan Habib Lutfi Bin  Yahya mengikuti Pawai Merah Putih dari Markas Kodim 0702 menuju ke GOR Goentur Darjono menggunakan kendaraan jenis jeep. Bupati yang akrab dipanggil Tiwi saat sambutan mengatakan, atas nama pemerintah mengucapkan terimakasih dan selamat datang kepada Habib Lutfi bin Ali bin Yahya di Kabupaten Purbalingga.

“Semoga kehadiran beliau Habib Lutfi memberikan manfaat, berkah, barokah untuk Kabupaten Purbalingga. Dan terimakasih kepada Dandim 0702 yang banyak membantu terkait dengan pelaksanaan Festival Jenderal Besar Soedirman yang dirangkaikan dengan haul jenderal Soedirman. Ini merupakan pelaksanaan Festival Soedirman yang ke 4, mudah-mudahan kegiatan festival ini ke depan akan terus berlangsung dan tentunya mampu membangkitkan semangat juang, semangat nasionalisme,” katanya.

Dia menjelaskan, dengan adanya Festival Soedirman ini mengingatkan kembali, bahwa Panglima besar Jenderal Soedirman lahir dan besar di Purbalingga, tepatnya desa Bantarbarang. Sebagai warga masyarakat Purbalingga ikuit bangga karena di Purbalingga lahir tokoh nasional, pahlawan bangsa.

“Apa yang telah dilakukan Jenderal Soedirman harus kita teladani. Semangat juangnya, semangat nasionalisme dan semangat cinta tanah air harus kita teladani. Disamping kegiatan haul ini untuk mengingat sejarah, tentunya kegiatan ini adalah untuk meningkatkan silaturahmi dan meningkatkan paseduluran antara ulama dan umaro,” katanya.

Persatuan sangat penting karena bangsa Indonesia saat ini sedang dihadapkan banyak permasalahan. Salah satunya semakin banyak oknum-oknum yang berkeinginan memecahbelah kebhinekaan bangsa dan persatuan bangsa.

“Oleh karenanya kita sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang mengaku cinta kepada Indonesia harus tegas, katakan tidak kepada oknum-oknum yang berupaya memecahbelah persatuan dan kesatuan bangsa. Karena pada dasarnya NKRI adalah harga mati,” tegasnya. (kus)