Fauzan Siswa Pengidap Pelemahan Otot di Tangsel Akhirnya Meninggal Dunia

Ibunda Fauzan Siswa Pengidap Pelemahan Otot (Foto: Hen)

TANGSEL – Semangat gigih dalam menimba ilmu di sekolah, kini tak bisa lagi terpancar dari sosok Fauzan Akmal Maulana (15). Siswa pengidap Dystrophy Muscular Progressive (DMP) atau pelemahan otot itu mengembuskan nafas terakhirnya di ruang perawatan Rumah Sakit (RS) Fatmawati, Jakarta Selatan, Sabtu (27/4/2019).

Beberapa waktu lalu, bocah kelas 3 SMP Terbuka Mandiri, Pondok Aren, itu sempat menjalani perawatan di ruang Intensive Care Unit (ICU) RS Premier Bintaro. Karena keterbatasan biaya, akhirnya sang ibunda, Winih Utami Pristiwati (49), meminta rujukan agar Fauzan bisa dirawat di RS Fatmawati.

“Iya meninggal di rumah sakit pagi tadi sekira pukul 05. 00 WIB pagi. Kondisi fisiknya terus menurun,” terang Edi Supriyadi, Koordinator Tempat Kegiatan Belajar-mengajar (TKB) SMP Terbuka Mandiri saat dikonfirmasi.

Jenazah Fauzan lantas dimakamkan tak jauh dari kediamannya di Kampung Pladen, Pondok Ranji, Ciputat Timur, sekira pukul 11.00 WIB. Ibunya sendiri belum bisa diwawancarai, lantaran masih terlihat sangat terpukul atas kepergian putra tercintanya itu.

“Ibunya tadi saat kita bertakziyah, terlihat masih berduka ya, apalagi saat dikubur. Setelah itu sudah mulai mendingan, lebih tenang,” ucapnya.

Almarhum Fauzan divonis mengidap DMP sejak tahun 2015 silam oleh tim dokter. Sejak itulah, kaki dan tangannya semakin sulit digerakkan. Untuk beraktivitas sehari-hari, dia harus dibantu penuh oleh sang ibu. Termasuk untuk makan, minum, ke kamar mandi dan berangkat ke sekolah.

Saat berada di ruang kelas, Fauzan hanya bisa belajar sambil didudukkan di atas bangku dengan penopang di bagian leher. Namun, dia tak dapat bersandar, lantaran otot-otot di bagian punggungnya pun akan sulit digerakkan untuk bisa bangkit ke posisi normal.

Sebenarnya pihak sekolah telah memberi kebijakan khusus dengan tidak memberi tugas-tugas sekolah yang memberatkan kepada Fauzan. Apalagi setelah sepeninggal ayahnya pada Februari 2019 lalu, dia kini hanya diurus dan dirawat oleh ibunya seorang diri.

Meski dengan keterbatasan fisik yang dimiliki, Fauzan menunjukkan semangat luar biasa agar bisa tetap bersekolah. Menuruti tekad keras itu, saban hari ibunya rela membopong Fauzan masuk ke kelas, dan menjemputnya kembali pulang pada siang hari.

Mungkin kini Fauzan telah berpulang menemui sang pencipta. Dia meninggalkan keluarga yang dicintai, teman sekolah yang selalu mensupport, para guru dan berbagai pihak yang menunjukkan empati kepedulian selama ini.

Meski raganya telah tiada, namun satu hal yang bakal teringat serta patut ditiru dari Fauzan semasa hidup, yakni semangat dan kegigihan dalam menimba ilmu di kelas menaklukkan keterbatasan fisik yang dimilikinya. (Hen)