Hamili dan Bawa Lari Anak di Bawah Umur, Pemuda 20 Tahun Ditangkap Polisi

Reportase.tv, Jakarta – Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya menangkap pelaku penculikan dan persetubuhan anak di bawah umur, berinisial AAB. Remaja 20 tahun tersebut ditangkap usai melarikan D alias S, yang merupakan siswi kelas IX SMP.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, mulanya pelaku dan korban berkenalan di media sosial pada akhir 2019. Dengan bujuk rayu pelaku, tidak lama kemudian akhirnya keduanya berpacaran.

“Lalu pada bulan Juni 2020 pelaku mengajak korban untuk melakukan hubungan intim di hotel Pitagiri Palmerah, Jakarta Barat. pelaku melakukan hubungan suami istri sebanyak 4 kali. Pada bulan Juli 2 kali dan Agustus 2 kali,” ujar Yusri di Mapolda Metro Jaya, Senin (9/11).

Pada Agustus 2020, lanjut Yusri, korban memberitahu pelaku jika ia sudah tidak datang bulan. Setelah dilakukan tes kehamilan, korban ternyata positif hamil.

“Lalu satu minggu kemudian tersangka menyuruh korban untuk melakukan tes kehamilan kembali. Namun hasilnya tetap positif,” katanya.

Merasa panik, kata Yusri, pelaku menyuruh korban mengaku ke orangtuanya. Namun korban takut dan justru mengajak pelaku kabur.

Pelaku akhirnya setuju dengan ajakan korban. Berbekal gaji yang diperoleh dari tempat kerjanya, akhirnya pelaku membawa korban ke Mojokerto, Jawa Timur.

“Pelaku dan korban tinggal di sebuah kosan di Mojokerto. Kemudian pada Rabu (6/11) Subdit Resmob berhasil menangkap pelaku,” jelasnya.

Di tempat yang sama Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait mengatakan, pihaknya akan melakukan pendampingan psikologis terhadap korban. Pihaknya juga akan mendorong agar pelaku dapat dijerat dengan hukuman yang maksimal.

“Seperti saya katakan tadi supaya jaksa itu menempatkan itu extra ordinary crime. Supaya tidak dikembalikan-kembalikan berkasnya hanya kurang sedikit gitu, padahal unsurnya terpenuhi,” tegasnya.

Karena perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 330 KUHP, Pasal 332 KUHP subsider Pasal 81, Pasal 82, Pasal 83 juncto Pasal 76D UU RI No.35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan pidana maksimal 15 tahun penjara.