Handoyo, Ingin Mewakafkan Diri Demi Desa Tipakidul

Reportase.tv Banyumas– Mewakafkan diri demi memajukan kembali Desa Tiparkidul. Sepenggal kalimat itu yang terus terngiang di pikiran Handoyo calon kepala desa Tipakidul.

Pikiran itulah yang melatarbelakangi pria paruh baya itu bersemangat untuk kembali ‘turun gunung’ untuk berkompetisi.

Bukan tanpa dasar Handoyo meneguhkan hati untuk kembali menapaki jalur politik desa itu. Tokoh masyarakat Tiparkidul memintanya untuk kembali memimpin desa.

Setelah tidak lagi menjabat, Handoyo S.E., merantau ke Purworejo membantu usaha adiknya, tahun 2016.

Namun sejumlah tokoh warga datang ke Purworejo dan memintanya memimpin desa tahun 2018. Setahun lebih ia memikirkan tawaran itu, hingga akhirnya memutuskan menerima permintaan itu awal 2019.

“Dengan segala kerendahan hati, saya terima mandat masyarakat,” kata Handoyo, saat ditemui di rumahnya.

Kepercayaan sejumlah tokoh masyarakat itu tentu didasari alasan kuat. Mereka menilai Handoyo sukses memimpin desa selama dua periode kepemimpinannya.

Handoyo mulai memimpin desa itu pada tahun 1999. Kala itu Bangsa Indonesia belum lama memasuki babak baru pascareformasi 1998.

Kepemimpinan Handoyo diuji ketika menghadapi berbagai situasi yang tidak mengenakkan. Ketika itu kondisi politik negeri yang belum stabil, dampaknya sampai ke desa. Perekonomian pascakrisis pun masih terasa dampaknya.

“Saat itu, saya masih bujangan,” katanya setengah berkelakar, ketika mengingat masa-masa awal kepemimpinannya.
Hal pertama yang dilakukan Handoyo adalah merekatkan kembali masyarakat.

Sejumlah kebijakan yang menyentuh langsung pada masyarakat, dibuat untuk menenangkan mereka. “Jadi pemimpin itu harus bisa mengayomi dan melindungi masyarakat. Pelayanan harus bagus, jangan pernah mempersulit warga,” tuturnya.

Pelayanan prima itu memberi manfaat masyarakat. Masyarakat terfasilitasi berbagai kemudahan. Masyarakat memberi dukungan.

Berbekal dukungan itu, pemerintah desa leluasa membangun. Anggaran dari pemerintah dialokasikan secara benar dan terencana, antara lain untuk membangun sejumlah infrastrukur.

“Jalan desa diperbaiki, sebab infrastruktur itu tulang punggung perekonomian warga. Stabilitas dan pemerataan pembangunan jadi kunci kepemimpinan saya,” tegasnya.

Keberhasilan selama tujuh tahun memerintah, membuat masyarakat menaruh kepercayaan yang tinggi pada Handoyo. Masyarakat pun kembali memintanya memimpin satu periode lagi. Namun karena tidak ada calon lain, istrinya Heri Purwati, maju mendampingi. Handoyo memenangi kompetisi.

Memasuki periode kedua kepemimpinannya, Handoyo tancap gas. Tentu bukan memakmurkan diri, melainkan fokus mensejahterakan masyarakat.

Secara kebetulan, potensi desa dilirik investor pabrik semen tahun 2010. Ia tangkap peluang tersebut. “Saya sadar masyarakat butuh lapangan pekerjaan, dan pabrik itu peluang yang bagus. Kami beri pengertian kepada masyarakat, mereka menerima dan mendukung,” terangnya.

Pabrik Semen Bima berdiri dan beroperasi tahun 2013. Sedikitnya 100 pemuda desa bekerja di pabrik sebagai bentuk komitmen perusahaan terhadap masyarakat desa. “Pabrik membuat komitmen untuk mempekerjakan warga desa,” katanya.

Belum lagi manfaat ekonomi pabrik bagi masyarakat sekitar. Warung makan, tempat kos dan usaha lain bergeliat. “Kalau ditotal mungkin lebih dari 200 orang yang menggantungkan hidup dari pabrik semen,” tuturnya.

Pabrik juga memberi pemasukan pada Pendapatan Asli Desa (PAD) Tiparkidul. Desa menerima pendapatan sewa tanah bengkok Rp 1,3 miliar pada saat pabrik didirikan. Semen Bima pun rutin memberikan CSR untuk warga.

Handoyo juga tidak melupakan pembangunan desa yang memiliki kurang lebih 7.700 jiwa pemilih pada tahun 2019 itu. Dana imbal sewa pabrik semen dan alokasi dari pemerintah.

Pembangunan digencarkan. Pemerintah desa berhasil membangun jalan penghubung yang mengisolasi Dusun Sibedil. “Saya juga merintis jalan di Dusun Sawangan RW 06, jalan itu merupakan akses pertanian dan tembus ke Desa Windunegara Kecamatan Wangon, dengan dana PNPM.

Akses sudah setengah terbuka dan akan saya teruskan apabila diberi mandat masyarakat,” paparnya.

Handoyo mengaku tidak melihat keburukan lawan politiknya. Baginya, paling penting adalah meneruskan apa yang belum selesai dikerjakan semasa dua periode pemerintahannya.

Membangun desa sepenuh hati, tanpa memikirkan keuntungan pribadi. Handoyo tetap pribadi sederhana. “Saya ya apa adanya saja, hidup ini selalu saya syukuri. Paling penting, jika nanti terpilih memimpin, maka roda pembangunan Tiparkidul akan saya gerakkan lebih kencang lagi, demi masyarakat yang lebih sejahtera,” tandasnya.(Kusworo)