Jangan Mencubit Kalau Tidak Mau Dicubit

Ir. Ibnu Prakoso

Penulis: Ir. Ibnu Prakoso

Dengan perkembangan media sosial yang semakin mendekatkan antara para calon presiden/wakil presiden, maka semakin dekat “hubungan emosional” dengan para pendukung maupun para loyalis.

Ada yang menarik didalam konstelasi, persaingan untuk saling memperebutkan pengaruh, menarik simpati dan usaha untuk mendukung paslon, maka diperlukan strategi dan taktik yang digunakan. Beruntung ada UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik), sehingga ada batasan dan rambu-rambu dalam kampanye, karena ada Black Campaigne (kampanye hitam) dan Negative Campaign (kampanye negative).  Ada juga Hoax (berita bohong), Hate Speech (ujaran kebencian) dan Post-Truth (kamus Oxford, sebagai kondisi dimana fakta tidak berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal).

Marilah kita kembali kepada Jiwa kita sendiri ! Jangan kita menjadi satu bangsa tiruan ! Jiwa Indonesia adalah jiwa gotong royong, jiwa persaudaraan, jiwa kekeluargaan. Kita telah merumuskan jiwa yang demikian itu dengan apa yang dinamakan Pancasila. Hanya Pancasila yang sesuai dengan Jiwa Indonesia. Marilah kita setia kepada Proklamasi 17 Agustus 1945, Proklamasi yang bernafas Pancasila. (Amanat Bung Karno tentang Pancasila, hal xx, jilid I (pertama), Dibawah Bendera Revolusi).

Namun dalam perjalanan berbangsa dan bernegara dalam kampanye,  ada nilai-nilai keluhuran dan sopan santun yang hilang, dimana kita tahu bahwa tidak pantas dan elok sampai menjelekan, bahkan “memfitnah” kepala negara/presiden  yang masih berkuasa. Kita percaya semua agama mengajarkan akan “etika” tersebut. Bahkan untuk pemimpin yang sudah meninggalpun, dengan segala kelebihan dan kekurangan kita harus “mikul dhuwur mendhem jero

Untuk itu marilah kita gunakan cara, taktik dan strategi yang bermartabat dalam berkampanye baik di media sosial maupun media lainnya. Karena ada kata-kata bijak yang perlu kita renungkan bersama yaitu “Jangan mencubit kalau tidak mau dicubit”.

 

Ini Indonesia Bung !!!

Merdeka ! Merdeka !! Merdeka !!!

 

Ir. Ibnu Prakoso

Wakil Sekjen PNI Marhaenisme, Alumni IPB dan Alumni PPRA LVIII Lemhannas RI 2018.