Kemendikbud Gelar FGD, Bahas Zonasi Kawasan Cagar Budaya Nasional Dieng

Reportase.tv,Banjarnegara – Sekretaris Direktorat Jendral Pendidikan dan kebudayaan pada Kementrian pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia, Fitria Arda, mengingatkan  pentingnya perencanaan dari daerah dalam menguatkan kehidupan budaya nasional, serta pentingnya membuat zonasi cagar budaya yang ada.

Menururtnya peraturan daerah, sebagai bagian dari perencanan, sangat penting untuk mempertahankan kebudayaan kita. Peraturan tersebut sudah dilakukan oleh negara maju dalam memproteksi dan mengembangkan cagar budaya yang dimiliki.

“Peraturan tersebut tentu saja akan memperkuat Undang-Undang Cagar Budaya Nomor 11 tahun 2010 yang telah mengatur cagar budaya dengan baik,” kata Fitria Arda pada acara Focus Group Discussion (FGD) dengan topik Zonasi Kawasan Cagar Budaya Nasional Dieng, di Dieng, Banjarnegara, hari ini, Senin (26/10/2020).

Fitria juga menekankan akan pentingnya menghidupkan asmosfer dan ekosistem budaya yang ada, sehingga terus tumbuh dan berkembang.

“Kita ibaratkan bidang kuliner, dimana Kita tidak cukup hanya ngomong kuliner. Tapi harus tahu progres dan cara pengolelolaannya,” lanjutnya

Demikian juga dalam pelestarian budaya, dimana dalam pembinaan harus dicari siapa maestronya, seninya, seniman sampai ke tingkat sekolah.  Untuk itulah diperlukan zonasi, untuk menentukan batas-batas keruangan situs cagar budaya dan kawasan cagar budaya sesuai kebutuhan.

“Atmosfernya dihidupkan. Event membuka ruang bagi senimam untuk aktifitas seninya. ekosistem harus dibuka. Kajian, narasi harus ditemukan,” lanjutnya.

Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono, saat memberikan sambutan pada  pembukaan  FGD tersebut mengatakan,  kegiatan FGD Zonasi Kawasan Cagar Budaya Nasional Dieng dilaksanakan   untuk menggali masukan, saran dan kritik yang bisa menjadi dasar pengambilan kebijakan dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata khususnya yang berhubungan dengan cagar budaya yang ada di Dieng.

“Harus ada sinergitas antara pemerintah pusat dan daerah, saya berharap FGD ini bisa menghasilkann ide-ide dan pemikiran yang dibutuhkan dalam konservasi dan pengelolaan Dieng,” kata Budhi

Albertus Napitupulu, staf dari Kemendikbud yang mengikuti kegiatan ini, menambahkan, dalam melaksanakan kajian zonasi tim kajian juga berkoordinasi dengan pemerintah desa serta pemerintah daerah dalam hal ini pemkab Banjarnegara dan Wonosobo.

Pada FGD tersebut juga dilibatkan seluruh pemangku kepentingan Kawasan Cagar Budaya Dieng, untuk memberi masukan dan mencapai kesepahaman bersama dalam upaya pelindungan, pemanfaatan, dan pengembangan Kawasan Cagar Budaya Percandian Dieng khususnya, di masa depan.(ahr)