Kerja dari Rumah Selama Pandemi Corona, Ini Langkah yang Harus Diperhatikan

Ilustrasi virus Corona (sumber: Ist)

Reportase.tv, Jakarta – Pandemi virus corona atau Covid-19 merebak hampir di seluruh bagian bumi. Hal ini tentu juga berdampak besar ke tanah air.

Presiden Joko Widodo dan beberapa kepala daerah telah memberi pengumuman untuk mulai mengurangi aktivitas di luar rumah. Bagi yang bisa melakukan pekerjaan dari rumah atau WFH (Work From Home).

Penyebaran virus corona yang cepat telah membuat pemerintah meliburkan sekolah selama dua pekan, dan setelah dua pekan akan dilihat kembali. Pelaku usaha juga terus mengakali agar produktivitas tidak berkurang drastis dengan metode WFH.

Pakar keamanan siber Dr. Pratama Persadha melihat ini momentum pemerintah dan swasta untuk mengadopsi teknologi yang mendukung WFH. Menurutnya, ada faktor keamanan dan kemudahan yang harus diperhatikan sehingga produktivitas tetap terjaga.

“Pertama yang harus dilakukan perusahaan dan pemerintah adalah edukasi keamanan siber paling mendasar untuk para pegawai. Misalnya bagaimana mengamankan email, akun medsos dan wifi di rumah. Juga imbauan untuk tidak memakai wifi publik saat mengakses sistem kantor,” jelas chairman Lembaga Riset Siber Indonesia CISSReC (Communication & Information System Security Research Center) ini.

Pratama menambahkan, harus ada pengecekan keamanan pada device atau perangkat yang dipakai para pegawai untuk WFH. Minimal ada anti virus dan VPN sebagai tambahan keamanan. Pada tingkat lebih lanjut, pegawai juga harus dilengkapi oleh sistem yang lengkap dengan enkripsi, sehingga data terlindungi.

“Keamanan adalah hal yang paling utama disamping kemudahan pemakaian. Karena itu perlu dilakukan audit password dan juga memastikan update OS pada perangkat yang dipakai. Hal ini melengkapi pemakaian VPN dan anti virus untuk keamanan,” katanya.

Menurut Pratama, WFH sangat membutuhkan pemakaian teknologi cloud. Untuk skala menengah kecil penggunaan cloud yang gratis dan basic sudah cukup, ada dropbox, mycloud dan berbagai cloud lokal yang berasal dari tanah air.

“Idealnya memakai enterprise mobility management atau EMM, namun memang perlu proses. Industri besar biasanya memakai teknologi EMM ini. Penggunaan EMM seharusnya lebih memudahkan dan lebih aman,” terang Pratama.

“Pengamanan perangkat dan jaringan pegawai juga harus diikuti oleh update sistem dan pengamanan jaringan kantor. Juga pegawai kunci seperti admin dan super admin harus terus mendapatkan perhatian dan prioritas keamanan, sehingga menutup celah terjadinya data breach,” jelasnya.

Pria asal Cepu, Jawa Tengah ini menilai, pasca krisis corona pasti akan banyak kebijakan pemerintah dan swasta untuk membangun sistem kerja yang fleksibel, namun juga aman. Untuk mencapai hal tersebut, setidaknya ada 5 hal yang harus disiapkan, yaitu desain arsitektur sistem, metode otentikasi, teknologi enkripsi, access control dan endpoint security.

“Saat model kerja remote akan dijalankan secara menyeluruh di sebuah lembaga, harus dilakukan tes dan evaluasi sistemnya. Meliputi tes pada konektivitas, traffic connection, otentikasi, sistem manajemen, proses logging, performa, implementasi keamanan dan kemudahan pemakaian sistem,” terang Pratama.

Kesiapan SDM dalam menjalankan WFH mungkin belum umum di tanah air. Menurut Pratama, kunci WFH bisa berjalan dan memiliki output yang bagus adalah pada tata kelola SDM. Misalnya soal keamanan, pegawai saat menjalankan WFH harus melakukan reset password wifi rumahnya. Juga mengurangi bahkan tidak memakai flashdisk saat memindahkan data, karena itu penggunaan cloud sangat dianjurkan.

“Kita juga bersyukur, ruangguru dan zenius memberikan akses gratis untuk masyarakat dalam menghadapi libur sekolah selama dua pekan. Ini bukti aplikasi lokal bisa menjadi solusi bagi masyarakat dalam kondisi krisis seperti saat ini,” terang Pratama.