Kesabaran dan Kebesaran Hati Calon Haji

Ilustrasi jemaah haji (foto: Ist)

Oleh : Sugiyarto.S.E.,M.M
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang

Reportase.tv, Tangsel – Seperti kita ketahui, bahwa sampai saat ini Pemerintah Arab Saudi belum memutuskan untuk membuka kembali Makkah untuk penyelenggaraan ibadah haji pada tahun 1441 Hijiriah atau 2020. Indonesia, Mesir dan Pakistan adalah tiga negara yang memiliki kuota terbesar jamaah haji di dunia. Ketiga negara ini sudah lama melakukan pendekatan kepada Pemerintah Arab Saudi sejak pandemi covid-19 pertengahan Maret masuk ke Indonesia. Namun sampai akhir bulan Mei belum juga ada kepastian dan keputusan Pemerintah Arab Saudi, maka Pemerintah Indonesia mengambil keputusan pada Selasa (02/06/2020) melalui Kementrian Agama, yang sampaikan melalui konferensi pers secara virtual oleh Menteri Agama Fachrul Razi, yang mengumumkan bahwa pemerintah Indonesia memutuskan tidak memberangkatkan calon haji pada tahun 1441 Hijirah atau 2020.

Indonesia adalah negara yang mendapatkan kuota 231.000 jamaah haji, dan merupakan negara yang paling banyak mendapatkan kuota, disusul Pakistan yang memperoleh kuota sebanyak 189.000 jamaah haji, dan Mesir merupakan negara tersbesar ketiga yang mendapatkan kuota sebanyak 80.000 jamaah haji.

Pandemi covid-19 telah merubah tatanan hidup dan bisnis, termasuk ibadah haji yang merupakan rukun Islam kelima bagi umat Islam ini tidak bisa di laksanakan seperti tahun sebelumnya. Banyak calon haji yang merasakan sedih yang luar biasa. Tidak hanya umat Islam di Indonesia, namun umat Islam di seluruh dunia merasakan hal yang sama. Banyak calon haji Indonesia yang sudah menunggu belasan tahun agar bisa berangkat haji. Tidak sedikit calon haji ini harus menabung hingga puluhan tahun agar bisa melaksanakan rukun Islam yang kelima ini.

Namun dengan adanya keputusan pemerintah yang tidak memberangkatkan jamaah haji pada tahun ini, maka antrian pemberangkatan haji akan semakin lama. Mengingat waktu persiapan yang sangat pendek, hanya sekitar 24 hari sejak pemerintah mengambil keputusan pada selasa (02/06/2020) maka keputusan yang telah di ambil oleh pemerintah dalam kondisi pandemik covid-19 saat ini adalah keputusan yang terbaik. Di samping proses pengurusan visa sebanyak 231.000 calon jamaah haji akan membutuhkan waktu, dan menghadapai kendala teknis di lapangan. Ada pepatah dalam Islam (adigum) dar’ul mafasid aula min jalbil mashalih, yang artinya mencegah datangnya keburukan jauh lebih di utamakan, ketimbang usaha untuk mendatangkan kemaslahatan.

Secara teknis memberangkatan haji seperti yang kita lihat setiap tahun sebelumnya selalu mengumpulkan banyak orang dalam kondisi pandemik covid-19 sangat berisiko. Apalagi budaya di Indonesia mengantar calon jamaah haji secara rombongan sangat kental dan susah untuk di hilangkan, sehingga risiko calon haji yang sudah tua terpapar virus covid-19 sangat besar. Belum lagi bus yang akan digunakan oleh calon haji dari asrama menuju bandara pemberangkatan yang harus dibatasi kapasitasnya, dengan adanya pembatasan ini, tentunya akan membutuhkan lebih banyak bus yang akan membawa calon haji, dan pada akhirnya akan terjadi penambahan biaya transportasi kendaraan untuk calon haji ketika di Indonesia ataupun setelah tiba di Madinah dan Makkah.

Pembatasan penumpang juga akan terjadi pada pemberangkatan calon jamaah haji dengan pesawat terbang. Dengan pengurangan kapasitas penumpang sebanyak 50%, maka di butuhkan tambahan pesawat sebanyak 50% dari kondisi normal. Penambahan pesawat ini juga akan menambah juga jadwal penerbangan Jakarta – Madinah. Sementara menyediakan pesawat berbadan besar untuk membawa calon haji dalam waktu singkat sangat tidak mudah, kalaupun bisa pasti akan mahal. Sedangkan negara tujuan juga belum tentu siap mengantisipasi kepadatan jalur penerbangan.

Biaya sewa penginapan calon haji di Madinah dan Makkah juga akan mengalami peningkatan karena adanya pembatasan kapasitas kamar. Untuk mencari hotel dalam waktu pendek juga tidak gampang, kalaupun ada sudah pasti jauh dari Masjid Nabawi dan Masjidil Haram.

Dengan banyak perubahan proses pemberangkatan jamaah haji ini, dampaknya akan menimbulkan biaya baru. Kenaikan biaya ini tidak mungkin di bebankan kepada calon haji dan juga tidak mungkin di tanggung oleh pemerintah melalui APBN. Maka apa yang menjadi keputusan pemerintah untuk tidak memberangkatkan jamaah haji pada tahun 1441 Hijriah atau 2020 dan pada masa pandemic Covid-19 sudah tepat.

Banyak calon haji merasa kecewa dengan keputusan pemerintah, namun tidak sedikit calon haji yang bisa memahami. Dalam situasi normal kota Madinah dan Makkah akan di datangi tiga juta umat Islam dari seluruh penjuru dunia untuk melaksanakan rukun Islam yang ke lima. Karena pandemic covid-19 juga melanda Arab Saudi, membuat calon haji dari Indonesia tertunda menjalankan ibadah haji sampai tahun berikutnya.

Ada sebuah hadist dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu’anhu, Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa yang berniat baik lalu tidak di kerjakannya maka Alloh mencatat baginya satu kebaikan, dan barang siapa yang niat berbuat baik lalu di kerjakan, maka di catat sepuluh kebaikan, mungkin juga di tambah tujuh ratus kali lipat bahkan lebih dari itu. Dan barang siapa yang niat berbuat jahat dan tidak di kerjakan, Alloh mencatat baginya satu kebaikan, dan jika niat jahatnya di kerjakan maka Alloh mencatat baginya satu kejahatan“ (HR Bukhori dan Muslim).