Membaca Peluang PKB di Dapil Cirebon-Indramayu

Oleh : Adlan Daie (Wakil Sekretaris PWNU Jawa Barat).

 

INDRAMAYU, REPORTASE.TV – Hasil survey Retroverso Institute yang dirilis pada 3 April 2019 menempatlan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Daerah Pemilihan (Dapil) kabupatan/kota Cirebon- Indramayu (Dapil Jabar VIII untuk DPR RI dan Dapil Jabar XII untuk DPRD provinsi) secara elektoral dalam posisi elektoral 14 persen dengan sisa-sisa pemilih galau”, yakni undecided and swing votes (pemilih yang belum menentukan.pilihan dan potensi migrasi pilihan) sebesar 24 persen. Potret hasil survey ini relatif sama dengan data elektoral PKB di Dapil yang sama pada Pemilu 2014 dan update data survey pemilu 2019 yang dipublish sejumlah lembaga survey lain dengan perbedaan pada level metodologi sampling, jumlah respondens, dan peta kompetisi elektoral dalam lanskap seluruh partai politik peserta Pemilu di dapil tersebut.

Angka elektoral PKB sebesar 14 persen di atas, berdasarkan riset data elektoral adalah dua kali lipat diatas angka prosentase minimalis (6 persen) bagi partai politik peserta pemilu di sebuah dapil untuk meraih satu kursi dari 9 kouta kursi di dapil. Karena itu, PKB berpeluang besar meraih dua kursi jika kerja elektoral para calon anggota legislatifnya meluas daya jangkaunya, menyasar dan meraup setidaknya 4 persen dari sisa 24 persen “pemilih galau” yang bersinggungan secara magnitik dengan branded elektoral partai sambil berharap “berkah” dari effect “hukuman” ambang batas parlemen secara nasional. Di sisi lain, untuk DPRD provinsi dengan trend angka elektoral di dapil yang sama, PKB meraih dua kursi dari kuota 12 kursi untuk DPRD provinsi pada Pemilu 2019, dari kouta sebelumnya hanya 10 kursi pada pemilu 2014.

Pertanyaan sensitifnya, siapakah calon anggota legislatif yang paling berpeluang terpilih untuk DPR RI dan DPRD provinsi dari kemungkinan peluang jumlah kursi yang akan diraih PKB sebagaimana paparan proyektif diatas? .Tentu tidak mudah menjawab pertanyaan ini dengan angka prosentase kuantitatif pada level elektabilitas para calon anggota legislatifnya. Penelusuran penulis hingga saat ini belum terkonfirmasi secara valid data survey elektabilitas partai dengan penyertaan elektabilitas calon anggota legislatifnya yang diusung partai kecuali survey internal sejumlah partai politik peserta pemilu yang bersifat private (tertutup).

Pendekatan fakultatif yang paling mungkin untuk membaca peluang keterpilihan calon anggota legislatif PKB adalah dari sisi konstruksi kekuatan basis tradisional elektoralnya dan daya magnitik unsur ketokohannya. Dalam perspektif ini, hampir dipastikan potensi PKB meraih dua kursi untuk DPR RI akan “diambil” H. Dedi.Wahidi, calon anggota legislatif PKB no urut 1 dan Hj Imas Masyitoh no urut 2 dari daftar 9 calon anggota legislatif PKB untuk DPR RI di Dapil Jabar VIII.

Keduanya “mapan” dan terpelihara basis tradisionalnya dan memiliki daya magnit elektoral ketokohan di masing masing segmentasi sosialnya. Perbedaannya, daya jangkau basis elektoral H. Dedi Wahidi lebih luas dan “mesin” tim suksesnya lebih terstruktur, sistemik dan massif, bersifat transformatif dari pola kerja “kerumunan” ke pola kerja “rapat barisan” secara terukur.

Karena itu, jika trend elektoral PKB sebesar 14 persen tidak berhasil meraup insentif elektoral dari sisa 24 persen “pemilih galau”, implikasinya PKB hanya akan meraih satu kursi untuk DPR RI di Dapil JabarVIII dengan peluang tertinggi berdasarkan kekuatan basis tradisional, power personal ketokohan, dan daya jangkau elektoralnya sebagaimana dipaparkan diatas akan menjadi milik H. Dedi Wahidi, calon anggota legislatif PKB no urut 1.

Disinilah tantangan bagi PKB bahwa peluang besar untuk meraih dua kursi DPR RI titik krusialnya terletak pada pola kerja elektoral para calon anggota legislatifnya dengan sharing daya jangkau yang meluas melampau basis tradisional partainya, tentu dengan injeksi daya akses di segala tingkatan yang dimiliki struktural partai.

Dalam konteks DPRD provinsi dengan kouta 12 kursi pada pemilu 2019, secara kalkulatif data elektoral survey, PKB akan meraih dua kursi. Yuningsing, calon anggota legislatif no urut 3 selangkah lebih “beruntung” untuk meraih satu kursi dari 12 daftar calon anggota legislatif PKB untuk DPRD Provinsi meskipun dari sisi power personal relatif berimbang satu sama lain. Posisinya sebagai unsur pimpinan DPRD kabupaten Cirebon memiliki keunggulan akses dibanding calon anggota legislatif PKB yang lain ditopang oleh intensitas interaksi sosial di basis teritorial PKB yang selama ini menjadi lumbung elektoralnya dua kali sukses duduk di DPRD kabupaten Cirebon.

Dalam hal kursi kedua PKB untuk DPRD Provinsi, setidaknya 4 calon anggota legislatif yakni Sidqon Djampi, SH, Jaenal Waud, Sahidin dan Hermindo memiliki peluang yang sama besarnya. Titik keberhasilannya lebih ditentukan langkah taktis mereka secara personal dengan massifikasi gerakan di titik-titik basis elektoral tradisional PKB yang lebih meluas dibanding sekedar bertumpu pada langkah taktis aliansi dengan calon anggota legislatif kabupaten/ kota karena kesamaan no urut pencalonan yang dalam sistem rejim Pemilu “open list” berdasarkan riset data dari pemilu ke pemilu sangat rendah tingkat keberhasilannya. Dalam perspektif ini, Sidqon Djampi, SH dan Sahidin, berada di “pacuan kuda” terdepan yang sama untuk menyentuh “garis finish” kursi kedua PKB.

Konstruksi analisis diatas sebagaimana umumnya hasil survey bersifat tentatif, temporer dan tidak “kedap suara” terhadap dinamina fluktuasi kemungkinan lain yang akan terjadi. Pepatah arab mengajarkan kita bahwa “Waktu ibarat pedang bermata dua. Jika kalian tidak bisa menaklukkannya, kalian lah yang akan ditaklukan”. Sebuah pesan tajam betapa waktu yang tersisa menuju hari pencoblosan tanggal 17 April 2019 yang sudah di depan mata membuka segala kemungkinan bisa terjadi. Hanya percayalah, hasil akhir secara prinsip tidak akan pernah mengkhianati konsistensi proses panjang bersama perputaran waktu yang dilaluinya. Marilah, ber ‘fas tabiqul khoerat’. Semoga bermanfaat !