Menumbuhkan Kesadaran Akan Safety Culture

Dosen Mata Kuliah Keselamatan Kerja, Prodi Teknik Industri, Universitas Pamulang, Sofian Bastuti, S.T, M.T

Oleh: Sofian Bastuti, S.T, M.T
Dosen Mata Kuliah Keselamatan Kerja, Prodi Teknik Industri, Universitas Pamulang

Reportase.tv, Tangsel – Safety Culture atau budaya keselamatan merupakan produk dari value individu atau sekelompok orang, attitude, persepsi, kompetensi, dan pola tingkah laku yang memperlihatkan komitmen dan bentuk implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Istilah safety culture sendiri sudah lama digunakan sejak kejadian ledakan pembangkit tenaga nuklir Chernobyl yang merenggut banyak korban jiwa serta kerugian berupa material dan non material dampak radiasi nuklir tersebut. Terlepas dari force majeur atau faktor alam, dari kejadian tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa terdapat kekurangan dalam pembentukan safety culture dalam beberapa level struktural maupun fungsional perusahaan.

Dewasa ini banyak perusahaan besar yang sudah menerapkan atau mengimplementasikan safety culture demi menjaga keberlangsungan proses produksi. Budaya keselamatan merupakan faktor penting penentu kontinuitas produksi. Setiap perusahaan selalu mendeklarasikan proses operasi sesuai dengan kaidah keselamatan, namun tantangan sebenarnya adalah untuk mengubah deklarasi tersebut dalam setiap aktivitas pekerjaan sehari-hari. Peraturan tertulis, Standart Operating Procedure (SOP), Instruksi Kerja memang memiliki peran besar namun di dalam pembentukan budaya keselamatan itu tidak cukup. Budaya keselamatan yang optimal menghasilkan sebuah gambaran yang jelas dan komprehensif risiko operasional, yang menggabungkan seluruh aspek aktifitas organisasi. Hal ini melalui alur informasi yang lebih baik dalam organisasi mengenai performa keselamatan sebagai prioritas.

Cara perusahaan mengukur keberhasilan suatu budaya keselamatan Pertama Pemimpin memiliki safety leadership yang kuat. Pemimpin yang memiliki kepemimpinan keselamatan (safety leadership), tentu akan menjadi teladan bagi para pekerjanya. Sebagai teladan, pemimpin akan melibatkan para pekerja agar sejalan dengan proses membangun budaya keselamatan dengan cara mengubah mindset dan perilaku mereka melalui komunikasi langsung. Kesediaan pemimpin mengoreksi langsung merupakan bentuk tanggung jawab dan komitmennya dalam membangun budaya keselamatan. Kedua Pekerja memiliki kompetensi K3 yang mumpuni. Dalam mencapai keberhasilan safety culture, seluruh pekerja di perusahaan wajib memiliki pengetahuan dan skill K3 yang baik. Ketiga Memiliki tujuan safety culture yang jelas. Dengan tujuan yang jelas, bisa mengukur tingkat safety culture perusahaan sudah sampai mana. Misalkan, tahun depan perusahaan harus mencapai zero accident. Dengan begitu, dapat melihat keefektifan safety culture dari hasil target yang sudah ditentukan.

Keempat. Memprioritaskan keselamatan dalam proses produksi. Perusahaan yang sudah memiliki safety culture yang baik selalu memprioritaskan keselamatan dalam proses produksinya, dibanding hanya peduli pada seberapa banyak barang yang sudah dihasilkan atau barang yang berhasil ia jual. Kelima Tindakan pencegahan dan pengendalian risiko K3 yang matang. Perusahaan yang memiliki safety culture yang kuat akan proaktif mengidentifikasi bahaya dan melakukan pengendalian risiko untuk menghindari terjadinya kecelakaan kerja. Keenam Melakukan training rutin bagi pekerja. Pelatihan kompetensi tidak hanya diberikan untuk pekerja baru saja. Pekerja lama pun wajib diberikan training untuk meningkatkan pengetahuan dan keahliannya. Perusahaan dengan safety culture baik, biasanya sudah memasukkan training ke dalam program tahunannya dan memastikan semuanya berjalan sesuai yang telah diagendakan.

Ketujuh. Pekerja aktif terlibat dalam upaya peningkatan K3. Lihatlah apakah pekerja di perusahaan Anda aktif dalam meningkatkan K3 atau malah mengabaikannya? Para pekerja yang selalu terlibat dan inisiatif dalam upaya peningkatan K3, ini merupakan hasil nyata bahwa perusahaan berhasil membangun safety culture yang kuat. Kedelapan. Keselamatan kerja selalu menjadi topik utama dalam agenda pertemuan Hal ini bisa dijadikan indikator untuk melihat seberapa besar perusahaan peduli pada keselamatan dan kesehatan para pekerjanya. Bila nyatanya dalam setiap pertemuan, perusahaan hanya membahas hasil atau keuntungan perusahaan dari segi materi saja, tanpa ada pembahasan sedikit pun tentang K3, Anda mungkin dapat menilainya sendiri seberapa pedulikah manajemen pada keselamatan kerja. Kesembilan Memberikan reward kepada pekerja yang berhasil menerapkan K3. Pemberian reward merupakan tanda perusahaan menghargai karyawannya. Karyawan berprestasi berhak mendapatkan reward atas kinerja dan keberhasilannya berperilaku aman saat bekerja. Selain sebagai bentuk penghargaan, reward ini juga bisa membuat karyawan lain merasa termotivasi untuk bekerja lebih baik.

Perusahaan memandang penerapan K3 sebagai investasi, bukan biaya Pandangan ini membuat perusahaan tak hanya berhasil dalam hal K3, tetapi juga berhasil dalam bisnisnya. K3 merupakan investasi jangka panjang yang bisa mendatangkan keuntungan di masa mendatang, terutama dalam menghadapi persaingan. Tak hanya itu, dengan penerapan K3 yang maksimal, perusahaan bisa mendapatkan benefit berupa penghematan-penghematan. Terutama menghemat kerugian biaya akibat kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

Safety culture tidak dapat diciptakan secara instan, dibutuhkan waktu dan proses yang kompleks untuk mengubah perilaku keselamatan terhadap semua orang yang terlibat dalam setiap lini perusahaan. Seiring berjalannya waktu dengan komitmen penuh akan K3, safety culture akan senantiasa terbentuk bahkan akan terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan yang tentunya akan semakin mendukung kinerja produksi suatu perusahaan.