Pandemi COVID-19 Menyebabkan Wisata Selam Nyaris Berhenti Total

Reportase.tv Jakarta – Pandemi COVID-19 mempengaruhi seluruh lini kehidupan masyarakat, tak terkecuali pelaku usaha wisata selam di dalam negeri.

Perkumpulan Usaha Wisata Selam Indonesia (PUWSI) memperhatikan sejak merebaknya virus Corona di Wuhan, China, sektor wisata sudah langsung terdampak.

Apalagi, turis asal China merupakan salah satu pasar utama wisata bahari, khususnya selam, di Indonesia.

“Usaha wisata selam nyaris berhenti total dan menyebabkan peningkatan jumlah tenaga kerja yang dirumahkan,” kata Ricky Soerapoetra, Ketua Umum PUWSI, di Jakarta, Senin, (13/4/2020)

Dari catatan Ricky, Pelaku usaha mulai merasakan dampak virus ini pada Februari hingga Maret di mana pembatasan perjalanan dan sejumlah penutupan destinasi wisata mulai diberlakukan oleh otoritas nasional maupun setempat.

Survey PUWSI kepada anggota, menemukan adanya permintaan pembatalan perjalanan (trip) mencapai 40% hanya dalam waktu 1 bulan.

“Setidaknya 25% pelaku usaha memastikan akan mengurangi jumlah tenaga kerja,” jelas Ricky.

Meskipun belum dapat menyebutkan secara rinci nilai kerugian pelaku usaha wisata selam, angka ini diperkirakan akan semakin membengkak hingga miliaran rupiah jika situasi ini tidak segera membaik.

Padahal, sebanyak 40% pelaku usaha menanggung kredit perbankan sehingga perlu ada dukungan pemerintah maupun pihak terkait untuk meringankan beban pengusaha.

Situasi sulitnya industri wisata selam ini dibenarkan oleh Rendra Hertiadi, pengelola Spice Island Dive Resort di Ambon.

Rendra mengaku sangat terpukul dengan pandemi COVID-19 yang membuat usahanya nyaris koit. Sekitar 45 orang staf terpaksa dirumahkan, karena hampir semua tamu yang sudah booking batal dan meminta dikembalikan uangnya.

“Bulan April-Mei ini tingkat hunian biasanya lagi tinggi hingga 80% dan cuaca bagus untuk wisata selam. Sekarang ya tamunya batal semua, bahkan kami akan tutup hingga September,” tutur Rendra.

Dari usaha ini, Rendra memperkirakan kehilangan pemasukan hingga Rp 8 miliar. Situasi keuangan yang terasa sangat berat. (Tata)