Pandemik Covid-19 Menjadi Dilema Bagi Sektor Pariwisata di Indonesia

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang, Veta Lidya Delimah Pasaribu. S.E., M.M

Oleh: Veta Lidya Delimah Pasaribu. S.E., M.M.

Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Pamulang

Reportase.tv, Tangsel – Sektor pariwisata merupakan sektor yang potensial untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber pendapatan daerah. Program pengembangan dan pendayagunaan sumber daya dan potensi pariwisata daerah diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pembangunan ekonomi. Kedatangan wisatawan pada suatu Daerah Tujuan Wisata (DTW) telah memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi penduduk setempat. Seperti halnya dengan sektor lainnya, pariwisata juga berpengaruh terhadap perekonomian di suatu daerah atau negara tujuan wisata. Besar kecilnya pengaruh itu berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya atau antara suatu Negara dengan negara lainnya (Sammeng 2001). Menurut Salah Wahab (Salah,2003) dalam bukunya “Tourism Management” pariwisata adalah salah satu jenis industri baru yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam penyediaan lapangan kerja, standar hidup serta menstimulasi sektor-sektor produktivitas lainnya.Dampak pandemi Covid-19 terhadap sektor pariwisata global bisa memangkas 50 juta pekerjaan industri pariwisata. Asia terkena dampak yang paling buruk ini dapat mempengaruhi tingkat pendapatan penduduk dan perekonomian Indonesia terutama disektor pariwisata, yang mana banyak pekerja yang sudah tidak dipekerjakan lagi oleh perusahaannnya atau para pengusaha. Berdasarkan data Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) jumlah kunjungan wisatawan di seluruh dunia menurun 44 persen selama pandemi jika dibandingkan tahun lalu. Dalam sebuah diskusi online, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrasturktur Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Hari Santosa Sungkari, memprediksi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia mentok di angka 4 juta orang. Bahkan Bali yang merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara, masih harus menutup pintu untuk wisman hingga akhir tahun sebagai upaya menahan laju penyebaran virus corona di Tanah Air. Pulau Dewata pun mencatat kerugian pariwisata Rp 9,7 triliun setiap bulan.

Berbagai aktivitas perekonomian mulai dari sektor pariwitasa hingga perdagangan terpaksa harus menutup usahanya dan mengurumahkan para karyawannya. Hal ini juga mendukung peraturan pemerintah untuk menerapkan social distancing. Cara ini tentu memberi dampak langsung terhadap perekonomian bangsa, karena akan banyak pengurangan aktivitas bekerja di luar rumah. Misalnya, berbagai pusat perbelanjaan memutuskan untuk menutup sementara operasionalnya, sehingga pendapatan otomatis menurun. Sejumlah hotel di daerah-daerah wisata seperti Bali, Jakarta, dan Yogyakarta Surabaya ditutup. Padahal aktivitas ekonomi adalah salah satu bentuk upaya manusia dalam konteks pemenuhannya kebutuhan. Karena keberadaan manusia tidak dapat dipisahkan dari sifat alami untuk berusaha mempertahankan dan menjaga kelangsungan hidup.

Di indonesia pemerintah melakukan berbagai strategi dan kebijakan untuk menstabilkan kembali aktivitas perekonomian. Terlebih pada aktivitas lintas sektor pariwisata juga berdampak pada lintas pelaku ekonomi lainnya. Seperti penawaran barang dan jasa secara tidak langsung dapat membantu kegiatan ekonomi masyarakat melalui sektor parawisata. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar Rapat Koordinasi Nasional bahas amplifikasi kebijakan, program serta langkah rekativasi dan pemulihan pariwisata dan ekonomi kreatif yang berdampak akibat pandemi COVID-19 tanggal 26-28 November 2020 di Bali. Dalam kesempatan tersebut Menteri Kesehatan RI dr. Terawan Agus Putranto menekankan kepada pihak di sektor pariwisata untuk tetap mengedepankan protokol kesehatan. Menkes Terawan mencontohkan salah satu protokol kesehatan bagi pekerja di lokasi wisata yaitu memastikan diri dalam kondisi sehat sebelum berangkat bekerja, sedangkan salah satu protokol kesehatan yang harus diterapkan oleh pengunjung adalah memastikan diri dalam kondisi sehat sebelum melakukan kunjungan ke lokasi wisata.

Ekonomi sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih pasca pandemi ini tetapi ada juga yang meyakini ekonomi pariwisata optimis bangkit untuk memulihkan perekonomian Indonesia saat new normal. Dibukanya objek wisata di beberapa daerah diharapkan diikuti bangkitnya optimisme karena roda perekonomian kembali berputar. Dalam hal ini perubahan tren di sektor pariwisata akan bergeser ke alternatif liburan yang tidak banyak orang, disebut dengan solo travel tour atau virtual tourism untuk menghindari kerumunan banyak orang. Perlunya dilakukan banyak inovasi oleh para pelaku ekonomi sektor pariwisata.

Dan untuk saat ini masa pandemic covid-19 pebisnis Melihat peluang dari berbagai sektor khususnya sektor pariwisata berkontribusi besar dalam ekonomi masyarakat. Pengembangan pariwisata ini diharapkan dapat menstabilkan kembali keadaan ekonomi. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk menggerakkan kembali aktivitas roda perekonomian yang sedang melemah. Dengan mengeluarkan beberapa kebijakan seperti New Normal yang akan diterapkan diharapkan dapat menstabilkan keadaan ekonomi kembali. Bagaimanapun juga keadaan ekonomi, sosial, politik bahkan keamanan suatu negara tidak akan menjadi alasan bagi para wisatawan untuk tidak melakukan kunjungan wisata karena berwisata sudah menjadi kebutuhan utama bagi generasi milenial sehingga diharapkan sector pariwisata akan segera pulih. Di samping itu peranan pemerintah untuk tetap mengambil langkahlangkah strategis untuk keberlangsungan pariwisata Indonesia, Bali khususnya sangat diharapkan seperti memberikan berbagai stimulus yang dibutuhkan pekerja maupun industri pariwisata bisa terpenuhi selama masa tanggap darurat maupun pemulihan pasca pandemi covid 19.