Pengungsi Wamena Asal Sumut Tiba di Medan

Reportase.tv Medan – Sebanyak 36 pengungsi Wamena asal Sumatera Utara, akhirnya tiba di Medan setelah menempuh perjalanan panjang, Rabu (9/10). Kedatangan para pengungsi menggunakan bus ini disambut keluarga dan Gubernur Sumatera Utara.

Gejolak yang terjadi di Papua beberapa bulan terakhir, memaksa masyarakat Sumatera Utara yang telah lama tinggal di Kota Wamena, Papua, pulang kembali ke Sumut untuk menyelamatkan diri.

Satu di antara pengungsi asal Wamena, Mardelina Manurung (40) yang sehari-harinya kerja sebagai
PNS di Puskesmas Homhom ini mengaku bahwa saat kejadian pada (23/9/2019) dia melihat massa mulai siram bensin dari api kecil hingga besar dan sampai hangus.

“Saya sudah 15 tahun tinggal di Wamena. Kalau mau kembali kesana masih mikir. Kalau memang langsung di ACC kita pengin pindah,” kata Mardelina di Aula Raja Inal Siregar Pemprov Sumut, Senin (9/10/2019) malam.

Mardelina menjelaskan bahwa saat dirinya pulang hanya bawa tas berisi pakaian tapi tidak beserta pakaian sekolah anak. Karena terburu-buru. Tapi sebagian besar banyak teman yang habis sama sekali tidak membawa apa-apa saat pulang.

“Disana sebenarnya sebelum kejadian itu baik-baik saja. Kita bangga, malahan anak saya lahir besar Wamena (Labewa). Anak saya empat lahir disitu. Kita harapnya bisa tinggal disini di Tiga Balata atau ke rumah orangtua suami di Sibolga,” tutur Mardelina.

Istri dari Bripka Mislon Miam Sinambela (38) yang bekerja sebagai polisi di Polres Jaya Jaya, mengaku empat anaknya semua lahir di Wamena. Anak paling besar telah berusia 13 tahun, anak kedua dan tiga kembar berusia 11 tahun dan yang paling kecil masih 4 tahun.

Dijelaskan Mardelina lagi, awalnya hanya isu-isu saja. Pas hari H nya kami santai dan rupanya disitulah meledak kerusuhan. Infonya demo mahasiswa tapi banyak penyusup. Karena dua minggu sebelum kejadian memang banyak isu beredar.

“Kondisi rumah tidak diapa-apain. Karena kami tinggal di Aspol, kan suami polisi toh. Jadi, saat kami keluar, pengungsi yang lain masuk menggantikan di rumah kami. Sedih melihat di sana, banyak rumah orang terbakar,” jelasnya.

Pengungsi lainnya, Marlina Ompusunggu (30) mengaku sudah 4 tahun terakhir bekerja sebagai guru kimia di SMA YPPGI Wamena dan berstatus PNS. Dia merasa nyaman tinggal di Wamena. Karena dia dan keluarga dianggap orang disana sebagai saudara.

“Orang disana baik, terbukti kami bisa mereka selamatkan,” kata Marlina.

Istri dari Devis Sibarani (30) yang bekerja membuka toko kelontong dan jual bahan bakar minyak (BBM) ini mengatakan pengin bertahan tapi tidak ada tempat tinggal.

“Tidak mungkin tinggal di pengungsian toh. Jadi kita menunggu bagaimana kebijakan pemerintah.
Apakah bersedia membangun tempat-tempat kita yang sudah dirusak. Dari hati yang paling kecil susah untuk meninggalkan Wamena,” tutur Marlina.

Marlina menjelaskan bahwa saat kerusuhan sebagian sekolah ada yang dihancurkan. Tapi karena mayoritas anak didik disekolahnya mengajar putra daerah, jadi tidak dihancurkan hanya sebagian yang dihancurkan.

Perempuan berambut sebahu ini menceritakan jarak rumahnya dan sekolah hanya sekitar 5 kilometer. Saat kejadian dirinya tidak ke sekolah. Kala itu, dia merasa bawaan seperti malas dan hanya berputar-putar jalan di dalam rumah. Suami sempat bertanya kenapa tidak pergi ke sekolah. Dia (suami) menyarankan tidak usah ikut upacara di sekolah dan menyusul saja.

Tidak lama kemudian, pas lagi pegang-pegang nasi anak. Keributan terjadi dan terdengar dimana-mana. Marlina lalu memutuskan untuk menutup kios untuk menghindari keributan terdampak ke kiosnya.

“Biasa kalau ribut sebentar saja. Ini luar biasa langsung pohon besar ditebangi di jalan dan tidak ada yang melintas. Setelah itu kebakaran sudah terjadi di mana mana. Puji Tuhan ada orang menyelamatkan kita. Kepala Desa datang dan memberitahukan api sudah dimana-mana,” tutur mantan lulusan Unimed tersebut.

“Terus mereka bantu kami bongkar pagar belakang dan bawa kerumahnya. Hampir satu hari kami dirumahnya dan dibawa ke Gereja. Disitu sudah kumpulan orang Batak semua,” sambungnya.

Masih kata Marlina, mereka sempat di sandera. Sampai malam mereka bertanya kenapa tidak diantarkan oleh pihak keamanan.Rupanya jalan itu di halangi dengan pohon pohon besar dan batu. Sehingga alat transportasi tidak bisa menjemput.

“Evakuasi tertunda karena ada massa aksi yang di tahan. Polisi membawa para perusuh yang membakar rumah.
Jadi mereka dikeluarkan dan barulah kami dilepas sekalian seperti di barter,” tukas Marlina yang kampung halamannya di Silangit.(Rez)