Perubahan Gaya Hidup di Era “New Normal”

Sugiyarto, S.E, M.M, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pemulang Kota Tangerang Selatan. ( Foto/dok )

Penulis : Sugiyarto, S.E, M.M, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pemulang

Reportase.tv, Jakarta – Sebagian besar umat Islam dalam merayakan hari raya Idul Fitri 1441H/2020 dirayakan dengan cara yang berbeda di bandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Ada sebagian masyarakat yang bisa menerima kondisi the new normal ini, namun tidak sedikit masyarakat yang melakukan penolakan dan belum bisa menerima kondisi saat ini.

Majelis Ulama Indonesia, atas dasar masih tingginya penyebaran virus covid-19 kemudian mengeluarkan fatwa nomor 06 Tahun 2020 tentang pelaksanan sholat Idul Fitri 1441H kepada umat Islam yang isinya antara lain agar umat Islam melaksanakan salat Idul Fitri di rumah masing-masing. Tidak mudah melaksanakan fatwa MUI tersebut di lapangan, karena tidak setiap keluarga memiliki kemampuan sebagai sebagai imam salat, walaupun MUI dalam fatwanya juga melampirkan panduan, namun tidak sedikit masyarakat yang melakukan penolakan dan tetap melaksanakan sholat Idul Fitri secara berkelompok dan mengabaikan protokol kesehatan.

Bahkan daerah yang di anggap zona merah oleh pemerintah tetap melaksanakan salat Idul Fitri 1441H. Namun ada juga sebagian masyarakat yang mengikuti protokol
kesehatan namun tidak sedikit yang mengabaikan. Bahkan satu hari sebelum hari raya Idul Fitri banyak masyarakat yang pergi ke pasar tradisional berbelanja kebutuhan Lebaran dengan tidak menggunakan masker dan bergerombol tanpa batas.

Begitu juga larangan mudik untuk memotong mata rantai penyebaran virus Covid-19 diabaikan oleh masyarakat. Mereka mencoba tetap mudik dengan berbagai macam cara yang mengancam kesehatan mereka dan keluarga di kampung halaman masing masing. Bahkan sebelum lebaran kurang satu hari ada 72.000 kendaraan yang masuk ke wilayah Bandung diminta untuk putra balik ke daerah asal.

Perlu kita pahami bersama bahwa rumah sakit di kampung halaman belum tentu memiliki perlengkapan medis yang lengkap untuk melakukan pertolongan kepada pasien yang terindikasi gejala terserang virus covid-19. Tenaga medis dan APD di kampung juga masih terbatas.

Terkait kondisi daerah seperti ini, maka diperlukan kesadaran masyarakat menahan diri tidak pulang kampung untuk sementara waktu dan melakukan silaturahmi secara virtual. Kita harus memahami bahwa kampung adalah salah satu daerah penyangga pangan secara nasional. Di mana kebutuhan beras, sayuran, bumbu dapur dan lainnya sebagian besar masih dipasok dari beberapa daerah penghasil komoditas tersebut. Sangat bahaya jika sumberdaya manusia yang ada di kampung terpapar virus Covid-19, maka akan mengganggu supply pangan di kota besar dan secara nasional.

Adapatasi dengan situasi dan kondisi yang di sebut dengan istilah baru The New Normal, tidak mudah bagi sebagian masyarakat dan tentu di butuhkan waktu yang relatif lama untuk menyesuaikan diri. Menjalani hidup sehari- hari dengan menggunakan masker, cuci tangan, menjaga jarak serta selalu menghindari berkumpul dengan banyak orang adalah gaya hidup baru yang harus di jalani masyarakat di era the new normal. Perubahan ini tentu akan membuat sebagian masyarakat merasa agak berat, Mereka dipaksa oleh keadaaan untuk mengikuti perubahan, kalau tidak, maka mereka akan menjadi penonton.

Perilaku konsumen dengan kondisi the new normal juga akan mengalami perubahan secara cepat. Pertama gaya hidup konsumen lebih memilih tinggal dirumah (stay at home). Kedua konsumen akan memilih menggunakan teknologi (go digital). Ketiga konsumen membatasi pertemuan dan kembali kepada kebutuhan dasar individu terkait dengan kesehatan dan kemananan dengan go virtual. Keempat akan tumbuh masyarakat yang suka menolong (Empathy society and solidarity).

Sebuah perusahaan alat berat di Belgia sebagai salah satu contoh perusahaan yang melihat the new normal sebagai peluang dalam menjalankan bisnis. Kren yang merupakan alat berat untuk membersihkan bangun bertingkat, berubah fungsi menjadi alat yang bisa digunakan oleh keluarga yang ingin melakukan kunjungan di rumah panti jompo untuk menengok orang tua mereka melalui jendela karena adanya pembatasan kontak secara secara langsung. Di samping pihak pengelola rumah panti jompo yang membatasi akses dan ruangan yang terbatas untuk keluarga bertemu orang tua mereka secara langsung yang berusia lanjut dengan risiko tertular virus covid-19 sangat tinggi.

The New Normal juga telah memberikan inspirasi usaha rumahan di Bandung untuk memenuhi permintaan pasar secara daring masakan lauk untuk kebutuhan lebaran semakin meningkat. Begitu juga tren new normal mampu di tangkap sebagai peluang oleh pelaku usaha kecil parcel dari Blitar, Jawa Timur, di mana mereka merubah isi parcel dengan alat pelindung diri untuk kesehatan penerima parcel.
Bahkan pelaku usaha wedding organizer perkawinan di Yogjakarta menawarkan konsep baru resepsi pernikahan secara virtual dan di luar dugaan respon masyarakat khususnya pasangan dan keluarga yang akan melaksanakan pernikahan sangat bagus. Pernikahan secara virtual yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh masyarakat pada akhirnya bisa dijalankan dengan tetap menjalankan protokol kesehatan. Para tamu undangan bisa mengirimkan donasi melalui rekening yang tercantum pada layar handphone tamu undangan di rumah masing-masing. Sedangkan hidangan resepsi pernikahan di kirirm ke rumah tamu undangan. Sebuah budaya baru dan akan menjadi trend resepsi pernikahan di era the new normal.