Petani di Desa Dawuhan Banjarnegara Menjadikan Kopi Sebagai Tanaman Konservasi

, Tuhri , Ketua Kelompok tani petak bumi sejahtera Desa Dawuhan menjadi salah satu pelopor tanaman kopi di Desa Dawuhan. Tuhri berharap lahan kopi di wilayahnya semakin bertambah karena mampu membawa manfaat secara ekonomi dan konservasi.(foto/anhar)

Reportase.tv.Banjarnegara – Berbicara tentang kopi, tahukah kamu bahwa kopi asli Banjarnegara sudah dikenal di Indonesia. Sebut saja kopi senggani dari Kecamatan Pejawaran, Banjarnegara , Jawa Tengah  yang menjadi salah satu kopi yang mendapat rekomendasi sebagai  salah satu kopi unggulan di Indonesia. Petani kopi senggani bahkan pernah diundang presiden Jokowi untuk minum kopi bareng di Istana Negara beberapa waktu lalu.

Tanaman kopi tidak hanya menjadi komoditas para petani yang mempunyai manfaat secara ekonomi semata, namun tanaman kopi juga mempunyai manfaat sebagai tanaman koservasi.

Seperti di Desa Dawuhan Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara ini dimana petani di Desa tersebut telah merasakan manfaat tanaman kopi

Para petani di Desa Dawuhan saat ini merasakan tanaman kopi tidak hanya sebagai tanaman konservasi, namun kopi juga memiliki nilai ekonomis lebih tinggi dibandingkan sayur mayur.

Ketua Kelompok tani petak bumi sejahtera Desa Dawuhan, Tuhri mengatakan, wilayahnya merupakan desa yang rawan bencana dan termasuk masuk zona merah di Kabupaten Banjarnegara.

Untuk itu Ia berinisiatif mengajak masyarakat untuk menanam kopi di daerah rawan bencana khususnya di Gunung wangi,” katanya.

Tuhri yang juga anggota destana Desa Dawuhan Dia menyebut saat ini pihaknya telah menanam kopi sebanyak 20 ribu batang.

Dia juga mengajak masyatakat untuk menanam kopi, agar bisa mengambil manfaat secara ekonomi dan konservasi.

“Kelompok tani petak bumi sejahtera memiliki 45 orang yang semuanya memiliki lahan, ada yang setengah hektar, seperempat da nada juga yang memiliki satu hektar,” katanya.

Selain itu juga ada 25 orang yang tidak tergabung dalam kelompok tani dari dusun pring wulung.

Sedangkan luas lahan yang ditanami kopi, khusus di gunung wangi hampir mencapai 15 hektar yang tersebar di gunung wangi, gunung gendil dan gunung gajah di wilayah Desa Dawuhan.

Sedangkan jenis Kopi yang ditanam adalah kopi arabika dengan jenis gayo, ateng super klining s.

Menurutnya kopi tidak hanya menyelamatkan lahan, namu juga merubah lahan yang semula tidak produktif menjadi produktif. Sehingga pendapatan petani meningkat.

“Kalau dari penghasilan lebih tinggi kopi, dengan satu kali tanam, setiap tahun panen, sehingga kami mengerahkan petani agar menanam kopi,” lanjutnya

Konservasi dengan tanaman kopi ini telah dimulai sejak tiga tahun lalu. Saat ini petani sudah mengenyam hasilnya.   Ia menyebut untuk harga kopi saat ini masih stabil yaitu  Rp. 50 ribu perkilogram.

“Dalam satu hektar ditanami  5.000 batang, Setiap pohon panen dua kilo saja, hasilnya banyak, ,” tambahnya.

Dia menyebut pada tahun 2020, produksi mencapai tiga ton beras kopi. Dalam penjualan hasil panen, 10 persen masuk dana sosial untuk penaggulangan kebencanaan di Desa Dawuhan. “Semakin lama maka produksinya semakin meningkat karena pohonnya lebih besar,”katanya.(anhar)