Prabowo Membohongi Rakyat Indonesia

Ir. Ibnu Prakoso

Oleh : Ir. Ibnu Prakoso

Ada dua tokoh nasional yang perlu kita dengarkan dan perhatikan nasehatnya, yaitu Buya Syafii Maarif dan Magnis Suseno. Mengapa kedua tokoh tersebut menjadi bahan pisau analisa dalam tulisan ini, sebab menurut pengamatan beliau berdua dengan kesederhanaan dalam masa senjanya tulus memberikan pencerahan kepada generasi muda untuk kebaikan bangsa dan negara Indonesia.

Buya Safii Maarif mengatakan bahwa Hoax harus tetap dilawan dan bukan diberi ruang. Oleh sebab itu orang-orang yang waras jangan diam, sebab sekarang ini media sosial banyak dikuasai orang-orang yang tak waras. (detik.com, rabu 09 Januari 2019, 16:29 WIB). Magnis Suseno mengatakan bahwa “Pemilu itu bukan untuk memilih yang terbaik, tapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa”.

Adalah Prabowo yang pada tanggal 2 oktober 2018 bertemu dengan Ratna Sarumpaet yang mengaku dianiaya sekelompok orang. Dalam pertemuan itu, Ratna menceritakan penganiayaan yang dialaminya. (Breaking News TV One : Ratna Sarumpaet Dianiaya. Ratna menderita luka parah, langsung dari Jakarta Selatan).

Dengan adanya hoax diatas maka hubungan sosial masyarakat semakin menurun kualitasnya. Dan apabila kurang diperhatikan atau dibiarkan, kepercayaan antar elemen masyarakat dan antara masyarakat dengan para pemimpin, akan semakin menurun kadarnya. Kepercayaan merupakan unsur perekat utama terwujudnya persatuan bangsa. Dan persatuan sendiri merupakan proses yang harus dijaga dan dipelihara terus menerus. Persatuan bangsa dalam bingkai NKRI adalah kepentingan utama kita.

Dalam debat putaran kedua, terungkap bahwa Prabowo menguasai lahan kurang lebih 220.000 ha di Kalimantan Timur, dan 120.000 ha di Aceh Tengah (Kompas.com. rabu, 20 Februari 2019, 08:20 WIB). Penulis tidak membahas bagaimana cara Prabowo memperoleh lahan tersebut, juga status apakah HGU, HTI dll. Yang penulis kritisi adalah bagaimana mungkin sosok dan karakter Prabowo yang mengaku Nasionalis Patriot dan setiap kali pidato didepan khalayak maupun media, bicara tentang pasal 33 UUD NRI 1945, yang berhubungan dengan penguasaan dan keadilan sosial.

Kembali kedalam jiwa yang paling dalam, bahwa untuk penjadi Presiden Republik Indonesia tidaklah mudah. Dibutuhkan sosok dan karakter yang “mendekati sempurna” untuk membawa bangsa Indonesia mewujudkan cita-cita Republik ini didirikan. Karakter tersebut tidak hanya terbatas pada Nasionalis Patriot, tetapi lebih dari itu, yaitu Nasionalis Marhaenis, sosok pemimpin nasionalis yang terdidik dan tercerahkan.