Prihatin Keselamatan Petani, Perempuan Tani HKTI Bantu Asuransi Kerja

Perempuan Tani HKTI Jatim Turun ke Sawah Tinjau Langsung Keluhan Petani
Perempuan Tani HKTI Jatim Turun ke Sawah Tinjau Langsung Keluhan Petani

Reportase.tv Gresik – Penandatanganan MOU antara Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Gresik dengan Perempuan Tani HKTI Propinsi Jawa Timur yang sudah berlangsung pada 11 Oktober lalu menunjukkan komitmen organisasi sayap Moeldoko di Jatim tersebut benar-benar serius menggalakkan program Jatim Asri.

“Kami sangat berterimakasih kepada Ibu Dekan Fakultas Pertanian Unmuh Gresik, Ibu Ir. Endah Sri Reejeki, M.P., M.Phil atas kesempatan bersinergi dengan Perempuan Tani HKTI Jatim. Tentu ini merupakan bagian penguatan spirit agraris yang sedang kami giatkan dalam program Jatim Asri,” ujar Dr. Lia Istifhama, ketua PT HKTI Jatim, saat itu.

Selepas penandatanganan MOU Perempuan Tani HKTI Jatim dengan Unmuh Gresik yang didampingi Ketua DPK PT HKTI Gresik, dr. Nila Hapsari, rombonganpun menyambangi desa bersama Petani Perempuan di Desa Tubuwung, Kecamatan Dukun, Gresik.

Difasilitasi oleh salah satu aktivis perempuan, yaitu Duta, rombongan PT HKTI menerima beberapan keluhan petani, diantaranya adalah, gagal panen yang disebabkan oleh serangan hama tikus, saat musim tanam, harga bibit dan pupuk mahal dan langka, sementara disaat musim panen, harga panen dibeli dengan harga murah, banyak petani yang meninggal dikarenakan tersengat aliran listrik, yang sebenarnya untuk membunuh hama tikus.

Selain mendengar keluhan, rombongan Perempuan Tani HKTI juga melihat secara langsung fakta lapangan. Hal ini menjadi alasan bagi mereka untuk mensupport asuransi kerja bagi 25 petani perempuan yang hadir saat itu. Jaminan tersebut adalah tanggungan Premi BPJS Ketenagakerjaan berupa Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian.

“Alhamdulillah, tepat hari ini (15/10), kartu BPJS Ketenagakerjaan para petani perempuan sudah tercetak dan segera kami distribusikan,” ujar Nila Hapsari yang dihubungi via telpon.

Sedangkan Lia Istifhama, selaku ketua PT HKTI Jatim, menjelaskan bahwa hasil keluhan para petani saat ini menjadi salah satu fokus target yang dikajinya.

“Kebetulan di Mojokerto, ada petani yang sedang merintis penakaran burung hantu, rencananya bekerjasama dengan petani Gresik. Ini murni dari petani secara personal, karena memang melihat kebutuhan burung hantu agar tidak selalu gagal panen. Dan siang tadi sudah ada tim kami yang turun untuk cek lapangan,” ujarnya.

“Langkah kongkrit ini tentunya insya Allah akan kami imbangi dengan koordinasi pada instansi terkait, bahwa bukan hanya ketersediaan pupuk yang menjadi kebutuhan petani di areal persawahan, melainkan juga burung hantu sebagai penangkal hama tikus,” pungkasnya. (Sfy)