Pro Kontra Makin Meruncing

Dosen Universitas Pamulang, Bambang Santoso S.Si, M.Sc (foto: Dok.pribadi)

Oleh: Bambang Santoso

Pengamat sosial, staf pengajar di Universitas Pamulang, Tangerang Selatan

Reportase.tv, Tangsel – Di jaman fitnah sekarang ini, pro kontra akan satu pendapat bisa sangat tajam. Pihak pertama mengklaim A, pihak kedua mengklaim B. Perbedaan dapat setajam bambu runcing yang dipakai di jaman revolusi. Contoh terbaru adalah mengenai makhluk misterius Covid-19.

Pihak pertama percaya sepenuhnya akan takdir Allah. Tiap virus sudah punya “nama” sebagai sasaran untuk ditempati. Kalau nama anda tidak tertulis di virus maka anda bebas, walau tak mengikuti protokol kesehatan. Bila nama anda tertulis di virus, maka penyakit akan mengejar anda, walau aturan ketat anda terapkan.

Pihak kedua mengatakan kesehatan tergantung diri sendiri. Kalau makan di tempat jorok kotor, anda akan kena tipus. Kalau terlalu banyak mengkonsumsi jeroan, asam urat anda akan tinggi. Kalau tidak menerapkan protokol kesehatan, anda akan tertempel Covid-19.

Sejak jaman dahulu kala pro kontra itu ada. Perbedaan pendapat selalu terjadi. Hanya akhir-akhir ini terasa pro kontra lebih sering meruncing. Dua pihak saling ngotot, tidak ada titik temu. Masing-masing merasa pihaknya benar dan pihak lain tidak ada benarnya setitik pun.

Berikut beberapa faktor pendorong terjadinya fenomena tersebut.

1. Informasi Melimpah tapi Berat Sebelah

Saat ini dunia digelontor informasi bertubi-tubi. Semua kejadian dilaporkan secara detail dan sangat cepat. Sayangnya, orang berlangganan kanal berita sesuai dengan minatnya saja. Berlangganan yang saya maksud adalah mengkonsumsi berita. Mereka punya group WA dari kalangan mereka sendiri. Membaca Facebook, Instagram, Twitter yang pro mereka saja. Membaca berita internet hanya dari media sefaham. Ini sudah banyak menyita waktu untuk membaca karena informasi yang detail dan melimpah. Akibatnya mereka merasa sudah membaca semua berita. Padahal itu baru setengah. Baru satu sisi dari sebuah koin.

Setengah berita lagi mereka tidak sempat membaca. Apa boleh buat. Waktu terbatas. Apalagi jika memang itu bukan spesialisasi mereka. Misal orang teknik belajar politik, atau orang akuntansi belajar agama. Karena bukan spesialisasi, bidang kedua ini dipelajari hanya kalau ada waktu tersisa. Tak heran kalau hanya setengah berita saja yang sempat dibaca.

Lawannya juga membaca hanya separuh berita. Bedanya, mereka membaca berita yang kontra. Sisi lain dari koin yang sama.

Bisa dibayangkan ketika bertemu, yang satu berbicara head (kepala) yang kedua berbicara tail (ekor). Jaka Sembung makan rebung alias tidak nyambung. Beda perpepsi, beda cara pandang, dan berakhir saling gontok-gontokan.

Saat kuliah dulu saya punya sepeda. Saya bagi dua, yang kiri saya cat kuning, yang kanan saya cat hijau. Ada yang mengatakan warna sepeda saya kuning. Ada yang mengatakan sepeda saya hijau. Mana yang benar? Keduanya dapat benar dapat salah tergantung dari sisi mana mereka melihat. Mereka hanya punya setengah pengetahuan. Jika mengetahui keseluruhan, kedua pendapat ini akan dapat dipadukan. Emosi dapat diredam.

2. Banyak Ilmu tapi Semu

Banyak orang belajar ilmu dari internet. Memang ilmu melimpah dan dapat diakses dengan mudah. Tapi ilmu ini hanya di lapisan teratas saja. Ketika ditanya lebih dalam, mereka tidak dapat menjelaskan. Itulah beda antara menyelam dan berenang di permukaan.

Orang sekarang tidak belajar ilmu dari bawah atau dari dasar. Karena belajar dari dasar itu perlu ketekunan, waktu dan tenaga ekstra. Awalnya melelahkan, tengahnya membosankan, akhirnya seakan tidak mempelajari apa pun. Juga tidak bisa dibanggakan alias dipamerkan. Contoh ketika belajar bahasa Arab, apa yang bisa dibanggakan dengan kata-kata sederhana semacam “fa’ala”? Tapi ini sangat berguna ketika mempelajari ilmu yang lebih lanjut. Ibarat membangun rumah dengan fondasi yang kokoh. Tapi hanya fondasi saja tidak akan banyak berguna. Fondasi berguna dan sangat dibutuhkan ketika tembok dan atap didirikan. Dan tembok serta atap inilah yang berguna melindungi keluarga dari panas, hujan, dan pandangan orang dari luar. Bukan fondasi.

Di internet banyak ilmu instan. Misal di bidang kedokteran disebutkan “Rendaman lemon dapat mengobati kanker”. Kemudian orang berbondong-bondong minum rendaman lemon. Mereka dapat berbicara dengan bersemangat bahwa lemon mengandung anti oksidan yang dapat membunuh kanker. Tapi ketika ditanya mendalam bagaimana mekanismenya, mengapa rendaman lemon dapat menghancurkan kanker, mereka tidak dapat menerangkan. Mereka lemah dalam teori dasar mengenai metabolisme tubuh.

Teori instan banyak dianut masyarakat sekarang. Mereka merasa sudah mengetahui tembok dan atap dan tidak perlu mengetahui fondasi. Tapi karena tidak siap dengan teori dasar, maka teori instan yang berseberangan tidak dapat dikompromikan.

Contoh, satu teori mengatakan sinar matahari terbaik adalah jam 7-8 pagi. Lebih siang dari itu sinar matahari dapat menimbulkan kanker kulit. Teori kedua mengatakan sinar matahari terbaik adalah jam 10 pagi. Lebih pagi dari itu tidak bermanfaat karena gelombang sinar terlalu panjang. Bagi para penyuka teori instan, kedua teori ini tidak dapat dikompromikan. Tapi bagi para pakar, keduanya bisa dipadukan. Misal jam 7 pagi bagus tapi perlu waktu lebih lama. Jam 10 pagi bagus, tapi hanya boleh dalam waktu singkat. Dengan mengetahui fondasi kokoh, mereka dapat mengkompromikan dua teori instan.

3. Dialog Hanya dengan Rekan Satu Blok
Setelah mendapatkan berita melimpah tapi setengah dan banyak ilmu tapi semu, para pesaing pro kontra ini hanya mau melakukan dialog dengan teman yang berpaham sama. Sangat asyik dengan kelompok mereka. Dan kurang mau melakukan dialog dengan pihak yang berseberangan.

Kalau pun mau, mereka bukan dengan tulus ingin mengetahui jalan pikiran pendapat lain. Tapi pertemuan lebih berupa nafsu ingin mengalahkan pihak lain dan mencari kemenangan untuk diri sendiri.

Akibatnya, jurang kesenjangan makin melebar. Tidak ada yang mau mendekat. Padahal ketika mendekat, mereka akan mendapat masukan berharga yang berbeda dengan yang selama ini mereka dapat.

Ibarat mendaki gunung dari lereng berbeda, yang satu mengatakan tanah hijau subur, yang satu lagi melihat tanah tandus meranggas. Keduanya ngotot. Ketika bertemu dan berdialog, barulah mereka sadar bahwa yang satu mendaki dari barat, yang satu dari timur. Maka perbedaan menjadi cair. Pengetahuan bertambah.

Memang kecenderungan manusia ingin mendekat ke kelompoknya sendiri. Yang satu pemikiran dengannya. Hanya orang-orang terpilih yang berani keluar dari zona nyaman dan berusaha menyelami pemikiran orang lain. Dan orang-orang inilah yang menjadi bijaksana. Dengan kematangan emosi dan keluasan pemikiran.