Rapat Pleno SMSI: Cabut RUU HIP, Pancasila Sudah Final

Ketua Umum SMSI, Firdaus (foto: Dok)

Reportase.tv, Jakarta – Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) menggelar rapat pleno melalui aplikasi Zoom, Jumat (26/6). Rapat pleno daring ini turut dihadiri oleh para pengurus SMSI.

Rapat pleno antara lain membahas rencana rapat kerja nasional dan persoalan bangsa terkini, termasuk soal Pancasila. Rapat dipimpin langsung oleh Ketua Umum SMSI Firdaus, didampingi Sekretaris Jenderal SMSI, HM Untung Kurniadi.

Firdaus menjelaskan, sebagai organisasi siber terbesar yang kini beranggotakan lebih dari seribu perusahaan media siber yang tersebar di seluruh Indonesia, merasa terganggu dengan adanya Rancangan Undang-Undang Haluan Idiologi Pancasila (RUU HIP).

“Jika Pancasila diubah, mau jadi apa negara ini? Pancasila selain menjadi landasan negara, juga menjadi sumber hukum. SMSI yang azasnya berlandaskan pancasila, jika Pancasila diubah, mau dikemanakan arah organisasi ini,” kata Firdaus yang disambut para peserta pleno dengan kata sepakat, “Cabut RUU HIP”.

Firdaus juga mengimbau agar seluruh pengurus mensosialisasikan keputusan SMSI pusat ini kepada seluruh pengurus, anggota dan pemuka agama, serta masyarakat diseluruh tanah air. Karena menurutnya menyelamatkan Pancasila merupakan suatu keharusan.

“Kita mendiskusikan keselamatan dan keberlangsungan bisnis media itu penting, tetapi menyelamatkan Pancasila sebagai dasar negara itu lebih penting. Untuk itu, kita minta kepada pemerintah pembahasan RUU HIP dihentikan. Pemerintah fokus saja menangani masalah Covid-19 dan dampaknya,” katanya.

Menurutnya, ada beberapa poin dalam RUU HIP yang kontroversial sehingga paling banyak digugat oleh berbagai kalangan. Pertama, tidak dicantumkannya TAP MPRS soal pelarangan PKI dan komunisme dalam konsideran.

Kedua adanya frasa “Ketuhanan yang berkebudayaan” dalam pasal 7 ayat (1) dan konsep Trisila dan Ekasila dalam pasal 7 ayat (2) yang dinilai mengesampingkan agama. RUU HIP tersebut telah disahkan menjadi RUU inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Terlepas ada atau tidaknya hal yang kontroversial, kata Firdaus, SMSI menyepakati bahwa rumusan Pancasila sudah final. Pembahasan RUU HIP tersebut harus dihentikan.

“SMSI juga akan melakukan kajian, apakah gagasan RUU HIP dapat dikategorikan rencana makar? Dan apakah para penggagas RUU HIP ini dapat dipidanakan,” jelasnya.

Pada ahir pleno SMSI menyampaikan rasa keprihatinannya kepada lembaga legislatif.

Pertama

Prihatin terhadap produk DPR yang hanya meninmbulkan polarisasi dan perpecahan dalam masyarakat.

Kedua

Prihatin dengan sikap DPR yang lebih mendahulukan kepentingan politik, ketimbang masalah bangsa yang sangat mendesak, yaitu penanganan pandemi Covid dengan segala dampak negatifnya.

Dalam akhir rapat pleno, SMSI berkesimpulan jika Pancasila yang selama ini menjadi dasar negara yang melandasi kehidupan berbangsa dan bernegara tetap harus dipertahankan. Jangan ada pihak-pihak yang mengganggu, melemahkan, atau berniat mengubah Pancasila melalui cara apapun.