Sambut Hari Santri, Dewan Da’wah Banyumas Bertekad Menjadi Lembaga Dakwah Terbaik

Reportase.tv, Banyumas – Dewan Da’wah didirikan pada 27 Februari 1967 oleh para tokoh-tokoh Islam terkemuka di Indonesia, yang juga para pendiri bangsa (founding fathers), seperti Dr. Mohammad Natsir (Perdana Menteri pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia), Mr. Mohammad Roem (Menteri Luar Negeri RI, dan penandatangan Perjanjian Roem-Van Roejen), Mr. Sjafroedin Prawiranegara (Presiden Pemerintahan Darurat Republik Indonesia dan Gubernur Bank Indonesia pertama), Prof. Dr. HM Rasjidi (Menteri Agama pertama RI), Mr. Burhanuddin Harahap, Prawoto Mangkusasmito, Prof. Kasman Singodimedjo, KH. Faqih Usman (Mantan Menag), dan KH Hasan Basri (mantan ketua MUI), ungkap Humas Dewan Da’wah Banyumas Ir.H.Alief Einstein,M.Hum.

Menurut H. Einstein” bahwa hingga saat ini Dewan Da’wah yang sudah berusia 53 tahun memiliki perwakilan (Pengurus Wilayah) di 32 provinsi yang mengelola 17 kampus da’wah (Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah M Natsir dan 16 Akademi Da’wah Indonesia) dengan 600-an kader da’i, dan menempatkan ratusan dai yang tersebar di berbagai pelosok Nusantara. Mereka juga memakmurkan 700-an Masjid yang didirikan Dewan Da’wah dan masjid yang berafiliasi pada lembaga da’wah ini. Program-program kerja Dewan Da’wah disusun dengan merujuk pada lima misi atau panduan gerak Dewan Da’wah.yaitu Mengokohkan Aqidah, Menegakkan Syariah, Mempererat Ukhuwah, Menjaga NKRI, dan Menggalang Solidaritas Dunia Islam.

H. Einstein menambahkan,” Pimpinan Pengurus Pusat Dewan Da’wah di Jakarta terdiri dari dua tokoh nasional di bidang da’wah dan pendidikan yang diamanahi masing-masing Prof.Dr.KH.Didin Hafidhuddin,MSc. sebagai Ketua Dewan Pembina dan Ketua Umum Pengurus Pusat Dewan Da’wah yakni Dr.Adian Husaini. Adapun Ketua Dewan Da’wah Banyumas adalah Prof.Dr.H.Abdul Basit,M.Ag. saat ini sebagai Dekan Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto.

“Dewan Da’wah Banyumas yang beralamat di Jalan Pelajar Imam Gang Kenanga Pamijen Sokaraja Kabupaten Banyumas, tepat nya di timur Rumah Sakit (RS) Margono, Purwokerto

bertekad menjadi lembaga da’wah yang baik. Dari strategi Tiga Pilar Da’wah (Kampus, Masjid, dan Pesantren) salah satu tokoh pendiri Dewan Da’wah Dr.Mohammad Natsir, Dewan Da’wah Banyumas memprioritaskan dalam penguatan program da’wahnya yaitu sudah lama didirikannya Masjid Al Ikhlas dan adanya Pondok Pesantren (PP) CENDEKIA,” kata H. Einstein.

Sementara itu, Pengurus Takmir Masjid Al-Ikhlas Dewan Da’wah Banyumas sudah bekerja keras menyiapkan program terbaik, di antaranya TPA, TPQ, Kajian Mahasiswa, Kajian Umum untuk jamaah sekitar, Kajian Tahfid Al Quran, Kajian Tahsin Al Quran, Kajian Bahasa Arab, Kajian Bahasa Inggris, Riyadhoh (olahraga) bela diri Mua Tae, kata Ustadz Asgar yang saat ini sedang menyelesaikan S2 di IAIN Purwokerto.

Pondok Pesantren Cendekia beelokasi sekitar 200 meter dari Fakultas Kedokteran Unsoed dan 100 meter dari RS Margono, memiliki 25 santri yang menetap yakni, mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsoed dan ada juga santri yang sudah bekerja sebagai apoteker, perawat, bahkan dokter. Sedangkan yang sudah lulus dari pondok tersebut ada 8 santri.

Ustadz Syahid Asgar,S.S., Al Hafidz (ust.Asgar) selaku Direktur (Mudirul Am) Pondok Pesantren (PP) CENDEKIA menyatakan” akan berusaha semaksimal mungkin untuk memajukan PP CENDEKIA menjadi PP teladan. Pelajaran yang diajarkan untuk para santri meliputi Islamic Studies (aqidah, akhlaq, dan muamalah), ada juga lughoh (Bahasa Arab dan Bahasa Inggris), serta Tahfidzul Qur’an. Untuk santri yang akan mengajarkan ilmu yang sudah dia dapat di pesantren, menjadi imam di masjid, maka para santri umumnya sudah membekali dirinya dengan menghafal Al-Qur’an ada yang sudah hafal 1 juz sampai 30 juz.

“Bentuk pengabdian pada masyarakat yang di lajukan santri-santri PP CENDEKIA antara lain baksos seperti bedah rumah, pembagian sembako untuk terdampak ekonomi karena Covid-19, dan kerja bakti di lingkungan RT dan RW, setiap bulan santri InsyaAllah pasti ikut,” kata Ust.Asgar.

Dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2020 dua santri PP CENDEKIA yang merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsoed Rudi Margono mengatakan,” Hari santri bagi kami adalah sebagai bentuk penghargaan juga reminder bahwa kita dulu pernah mempunyai andil besar untuk bangsa ini, bersama para kyai, ustadz, dan santrinya. Kita turut memperjuangkan kemerdekaan melawan penjajah di Nusantara. Hari santri mengingatkan kita untuk selalu memperbaiki diri, lebih baik dari hari-hari sebelumnya, mempersiapkan generasi untuk menyongsong kebangkitan islam, mulai dari diri kita sendiri sekalipun dengan hal-hal yang paling kecil, merapikan tempat tidur, membersihkan pondok, selalu tersenyum pada orang lain misalnya.

“Kami di pondok selaku mahasiswa juga mendapatkan hal-hal yang tidak didapatkan apabila kami tinggal di tempat lain, mengaji, bangun tepat waktu, membersihkan pondok, menurut saya hal kecil ini mempunyai andil dalam pembentukan karakter kita dalam menjadikan mahasiswa yang seimbang antara urusan dunia dan akhirat. Semoga hari santri ini menjadi momentum tidak hanya bagi santri tetapi seluruh warga Indonesia lebih baik. Hari santri bermanfaat bagi sesama, mengingatkan bagi kita semua, jika santri adalah sosok penuntut dan pengembara ilmu, yang rela pergi jauh untuk mencari keberkahan dan ridho-Nya serta sosok yang punya peran penting bagi bangsa ini, dulu, sekarang, maupun nanti.” Pungkasnya. (kus)