Sejarawan Koleksi 10 Surat Habibie dari Ibunda Saat Menimba Ilmu di Jerman

Reportase.tv Medan – Sejarawan dan dosen yang masih aktif mengajar di Univesitas Negeri Medan, Ichwan Azhari ternyata memiliki beberapa pucuk surat yang diperuntukkan untuk Mantan Presiden ke-3 Indonesia BJ Habibie, yang baru saja berpulang ke Rahmatullah.

“Komen Sie hier. Ich habe viele Briefumslag fuer Habibie aus Indonesien,” sapa seorang pedagang Jerman kepada Ichwan Azhari, di Stuttgart, Jerman 1997 silam.

Kira-kira, artinya begini; Tuan kemarilah, saya memiliki banyak sampul surat yang dikirim untuk Habibie dari Indonesia.

Ichwan terkejut. Pemuda Indonesia, yang sedang berkuliah di Hamburg ini kemudian menghampiri si pedagang.

Ternyata, pedagang itu sudah lama mencari Ichwan. Dia mengenali Ichwan sebagai pengumpul benda-benda filateli asal Indonesia di berbagai bursa dan lelang (Auction) prangko di Jerman.

Belakangan, usai melanjutkan studi di Jerman, Ichwan menjadi sejarawan dan aktif mengajar di Univesitas Negeri Medan, hingga kini.

Ichwan bercerita, saat musim dingin 1997 di Jerman, dia bertolak dari Hamburg, tempatnya berkuliah, menuju Stutgart untuk menghadiri Briefmarken Internasional Messe (Pameran Internasional Prangko/Filateli).

“Pedagang prangko orang Jerman ini tahu nama Habibie. Nama yang juga jadi legenda bagi banyak orang Jerman yang mengenal Indonesia,” kata Ichwan, di Museum Sejarah Al Quran, GOR Pemprov Sumut, Kamis (12/9/2019).

Kala itu, Ichwan terkejut dan bertanya, dari mana pedagang itu bisa mendapat banyak surat unutk Habibie tersebut.

Surat yang berada di tangan pedagang itu bukan hanya selembar dua lembar, tetapi satu kardus. Sebagian surat itu berasal dari R.A Habibie, ibunda tersayang BJ Habibie.

Surat-surat itu berasal dari Ibunda Habibie di Bandung yang dikirim ke Hamburg antara 1967 hingga 1970 silam.

Pedagang prangko Jerman itu sambil tertawa, dengan enteng menjawab bahwa itu didapatnya dari tukang botot di Hamburg.

“Hah?” kata Ichwan, terpelongo.

Tulisan tangan sang Ibunda Habibie dalam surat itu, masih terlihat jelas. Pada amplop suratnya disebut dikirim R.A Habibie beralamat di Jalan Imam Bondjol 24 Bandung. Surat dikirim ke Dr.Ing.B.J.Habibie, Heinrich Bomhoff Weg 2, (2) Hamburg 52. W.Djerman.

Saat mendengar Presiden Ketiga RI itu wafat, Rabu (11/9/2019) kemarin, Ichwan teringat akan surat-surat yang disimpannya di lemari pakaian.

Dengan haru, dia mengelusnya, membaca sambil mengurut dada karena menyesal.

“Gagal, tak sempat mendapat peluang untuk memberikan langsung kepada pemiliknya, Habibie. Sampai tokoh yang saya kagumi ini wafat,” tutur Ichwan.

Ichwan lantas membaca satu per satu surat yang berhasil dibelinya dari pedagang prangko di Jerman itu.

Surat yang dikirim kepada Habibie, 50 tahun lalu yang dia temukan dan di simpan selama 20 tahun lebih.

“Liebste Rudy, Ainon, Ilham En Thareq” begitu sang ibu selalu menyapa dari Bandung di awal suratnya, ke belahan jiwa yang dirindukannya di tempat yang jauh di Hamburg.

“Surat-surat ibunda Habibie selalu menyapa dengan cinta dan sayang,” ucap Ichwan haru.

Timbul pertanyaan dalam benaknya. Mengapa surat penting ibu Habibie itu bisa jatuh ke tukang botot (penjual barang bekas)? Ichwan lalu menyadari, bahwa hal ini mungkin saja terjadi di Jerman.

Pembantu di rumah Habibie di Hamburg mungkin ingin membersihkan keller (biasa ada di rumah di Jerman yakni ruang bawah tanah yang berfungsi sebagai gudang).

Saat gudang penuh dengan berbagai koran, majalah dan juga mungkin kumpulan surat-surat untuk Habibie terikut di dalam keller.

Biasanya orang menelpon tukang loak untuk mengangkut barang barang itu dengan imbalan sekedarnya.

Dari tukang loak seperti itulah pedagang prangko Jerman itu mendapatkannya dan menjualnya di bursa prangko internasional di Stuttgart.

Saat itu, karena keterbatasan uang , Ichwan hanya bisa membeli 10 surat yang dikirim dari ibunda Habibie untuk Habibie dan Ainun.

“Saya lihat ada satu kardus lagi surat surat yang dikirim ke Habibie yang jatuh pada pedagang itu,” ungkap Ichwan.

Dengan pilu, dia berharap satu waktu bisa memborong semua surat surat itu. Beberapa tahun berikutnya saat dia berjumpa lagi dengan pedagang itu, surat-surat itu sudah tidak ada pada si pedagang. Entah siapa yang membelinya.

Setelah membeli sepuluh pucuk surat itu, Ichwan kemudian menunjukannya kepada sahabatnya, seorang filatelis Jerman, Dr. Herbert Kaminski yang kebetulan menjadi dosen di Universitas Hamburg.

Kaminski terkejut, dan berulang kali membujuk Ichwan untuk mendapatkan surat-surat itu. Dia terkesan surat dari Ibunda Habibie itu.

Karena menyebut nyebut nama Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie, kedua anak Habibie yang dulu saat sekolah dasar di Hamburg adalah anak murid Margaret, istri Dr.Kaminski.

“Berulangkali dia datang dengan berbagai cara merayu dan ingin membeli surat surat itu untuk diberikan kepada istrinya, guru SD Ilham dan Thareq di Hamburg. Akhirnya tiga dari sepuluh surat itu saya berikan kepadanya,” urai Ichwan.

Sampai saat ini, selama lebih dari 20 tahun, Ichwan masih menyimpan tujuh pucuk surat yang sempat tercecer di Jerman itu.

Sewaktu masih di Jerman, pada tahun 2000 silam, dia pernah mengirim fotocopy surat itu, ke alamat rumah Habibie di Hamburg dan berharap bisa mengembalikannya.

Tapi sayang staf Habibie tidak menindaklanjutinya. Dia juga pernah menghubungi sekretaris Habibie di Jakarta, melalui seorang jurnalis yang kebetulan pernah meliput keberadaan surat-surat itu.

“Tapi tidak berlanjut karena saya katakan saya hanya mau menyerahkan surat-surat mengharukan ini langsung ke Pak Habibie,” tutur Ichwan.

Pun saat pembuatan Film Habibie Ainun, dia juga pernah dihubungi untuk meminta surat ini,tapi tidak berlanjut.

“Ingin saya, satu hari nanti menyerahkan sifat surat ini ke Pak Ilham Habibie atau Pak Thareq Habibie yang banyak disebut oleh eyang mereka,” sebutnya.

Surat surat ini berbicara tentang kerinduan, cinta seorang ibu kepada anaknya Habibie, juga kepada Ainun, Ilham dan Tareq, dua cucu yang disayanginya.

Suratnya dalam bahasa Belanda bercampur bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Terasa mengharukan getar-getar tarikan tulisan tangan sang ibu dengan tinta biru di atas kertas amplop aerogram (amplop yang berfungsi sebagai lembar surat).

Dalam surat-surat yang dituliskan, banyak kata nasehat, saran dan di atas segalanya adalah kerinduan. Auf Wiedersehen, Mr. Habibie.(Re)