Sidang Kasus Pencemaran Nama Baik di PN Medan

 

Reportase.tv Medan –  Sidang kasus perkara pencemaran nama baik melalui unggahan media sosial “tagih utang via Instastory”, terdakwa Febri Nur Amelia kembali digelar di Pengadilan Negeri Medan, Selasa (18/2/2020) sore. Kali ini menghadirkan saksi Fitriani Manurung yang juga pelapor kaus tersebut.

Digelar di Ruang Cakra V Pengadilan Negeri Medan dipimpin Ketua Majelis Hakim, Sri Wahyuni Batubara, sekitar pukul 15.00 WIB.

Didampingi empat orang penasehat hukumnya, terdakwa Febri Nur Amelia yang mengenakan baju coklat dengan balutan hijab dan celana panjang berwarna putih. Tampak berusaha tegar meski perasaan tertekan atas jeratan kasus itu tak bisa disembunyikan dari raut wajahnya saat mengikuti persidangan.

Pada persidangan yang berlangsung kali ini, ketiga orang saksi termasuk pelapor dalam perkara kasus Pidana Undang Undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE). Laporan Fitriani Manurung yang menjadikan terdakwa sebagai pesakitan tersebut turut hadir memberikan keterangan di depan majelis hakim.

Dalam kesaksiannya yang terdengar berbelit, Fitriani Manurung sebagai saksi korban mengaku bahwa dirinya mengenal terdakwa sejak tahun 2016 silam. Keduanya saling kenal di Organisasi Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI). Namun Fitriani berkelit, membantah bahwa dirinya pernah berutang kepada terdakwa. Namun di sisi lain, dia mengakui sempat mengetahui adanya transfer uang yang masuk ke rekeningnya sebesar Rp 70 juta.

“Saya mengenal terdakwa sejak tahun 2016 di organisasi Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI). Tapi selama mengenalnya, saya tak pernah berutang dangan terdakwa Febri Nur Amelia,” ujar Fitriani dalam kesaksiannya.

Fitriani juga menjelaskan, ketika mengetahui terdakwa telah memposting penagihan utang melalui instagram itu, dirinya langsung memberitahukan hal tersebut kepada suaminya.

“Saat itu juga saya lapor sama suami saya Ilsarudin. Suami saya dengan suami terdakwa kan saling kenal. Suami saya lalu menelepon suami terdakwa. Menyampaikan agar jangan memposting soal penagihan hutang di Instagram lagi,” jelas Fitriani.

Fitriani Manurung Sebut Enggan Telepon Terdakwa Atas Postingannya
Selain itu Fitriani juga mengaku tidak menelepon terdakwa karena adanya postingan tersebut. Dia mengaku tak mau menelepon karena tidak mau berdebat. Tapi dia mengaku sudah mengingatkannya berkali-kali hingga akhirnya Fitriani melaporkan terdakwa kepada pihak berwajib.

“Saya tidak menelepon terdakwa karena ia sudah memposting soal itu dan sudah mengingatkan berkali-kali. Jadi saya melaporkan terdakwa ke pihak berwajib. Saya tidak menelepon terdakwa karena tak ingin berdebat,” ujarnya.

Mendengar jawaban itu, majelis hakim menanyakan hal menohok kepada saksi pelapor.

“Kenapa harus takut berdebat? Apa kamu punya masalah sebelumnya dengan terdakwa Febi Nur Amelia?,” tanya majelis hakim kepada saksi korban.

Namun pertanyaan majelis hakim itu disangkal oleh Fitriani Manurung “Saya tidak pernah bermasalah sebelumnya dengan terdakwa Febi Nur Amelia,” jawabnya kepada majelis hakim.

Anehnya, Fitriani Manurung mengaku mengetahui adanya transfer uang dari suami terdakwa ke rekening suaminya sejumlah Rp 70 juta yang masuk melalui dua tahap pengiriman. Pada pengiriman pertama, transfer uang masuk sebesar Rp 50 juta dan yang kedua sebesar Rp 20 juta.

Fitriani Sebut Transfer Uang ke Rekening Suaminya Untuk Beli Tas Bermerek
Menurut Fitriani Manurung, sang suami mengatakan kepadanya bahwa suami terdakwa Febri Nur Amelia meminta tolong membelikan tas bermerek.

Pengakuan Fitriani spontan membuat Majelis Hakim Sri Wahyuni bertanya lagi. “Suami kamu kombes, berani sekali suami terdakwa menyuruh Pak Kombes membeli tas,” ucap majelis hakim Sri Wahyuni.

Fitriani Manurung mengakui bahwa dirinya merasa bingung kenapa dirinya diberi tas oleh suami terdakwa. Dia berdalih suami terdakwa meminta suaminya untuk membelikkan tas merek Chanel seharga Rp 68 juta tersebut.

Ini Bantahan Terdakwa Terhadap Kesaksian Saksi Pelapor
Mendengar keterangan yang disampaikan saksi korban, terdakwa Febi mengaku keberatan dan membantahnya. Namun bantahan tersebut justru semakin membingungkan jalannya sidang. Pasalnya tak berkaitan dengan duduk persoalan dalam perkara tersebut.

“Yang pertama saya tidak pernah mengundang beliau saat saya melahirkan. Yang kedua saya tidak pernah menerima tas chanel dan juga tidak pernah menyuruh suaminya untuk membelikkan tas. Yang ketiga saat saya menjenguk suaminya ketika terkena sakit jantung jelas-jelas saksi memohon agar pembayaran utangnya ditunda. Karena sedang mengalami musibah. ‘Sabar ya utangnya nanti dulu tunggu tanah saya yang di Aceh laku’. Saya sebagai seorang sahabat merasa iba dan memaklumi alasan yang disampaikannya waktu itu,” ujar Terdakwa Febri Nur Amelia menirukan ucapan Fitriani dengan ledakan tangisnya.

Karena alasan ketersediaan waktu, majelis hakim kemudian menunda persidangan masih dengan agenda keretangan saksi-saksi untuk dilanjutkan pada pekan depan. Pada sidang sebelumnya dengan agenda putusan sela Majelis hakim diketuai Sri Wahyuni menolak eksepsi terdakwa Febi Nur Amelia

Sebagaimana diektahui terdakwa Febri Nur Amelia didakwa melakukan pencemaran nama baik melalui unggahan media sosial dengan menagih ‘utang’ lewat story instagramnya.

Atas postingan yang diunggah Febi Nur Amelia tersebut dirinyaa terjerat Pasal 45 ayat (3) jo Pasal 27 ayat (3) UU RI Nomor 19 Tahun 2016. Tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). (Re)