Supply Chain Management Di Tengah Polemik Pandemi Covid-19

Rini Alfatiyah, S.T, M.T, CMA Dosen Teknik Industri, Universitas Pamulang. ( Foto/is )

Oleh : Rini Alfatiyah, S.T, M.T, CMA
Dosen Teknik Industri, Universitas Pamulang

Supply Chain Management atau lebih di kenal dengan pengelolaan rantai pasokan mulai dari bahan mentah dari para supplier, kegiatan operasional di perusahaan berlanjut ke distribusi sampai konsumen.

Integrasi pengelolaan supply dan demand yang saling berhubungan dengan pergerakan antara produk maupun pelayanan jasa dari pemasok ke pelanggan. Pemikiran pertama dari supply chain adalah bahwa secara praktikal setiap produk yang sampai kepada end user merupakan kumpulan usaha dari berbagai organisasi.

Organisasi-organisasi inilah yang secara kolektif dianggap sebagai rantai pasok. Dalam aliran fisik material melibatkan transformasi, pergerakan, penyimpanan barang (storage), bahan baku (raw material), daur ulang (recycle), limbah (waste) dan pembuangan.

Strategi dalam supply chain management terdiri dari lima, Strategi pertama adalah banyak pemasok pada strategi ini memainkan antara pemasok yang satu dengan pemasok yang lainnya dan membebankan pemasok untuk memenuhi permintaan pembeli. Strategi kedua sedikit pemasok (few supplier) dalam strategi ini, perusahaan mengadakan hubungan jangka panjang dengan para pemasok yang komit. Karena dengan cara ini, pemasok cenderung lebih memahami sasaran-sasaran luas dari perusahaan dan konsumen akhir.

Penggunaan hanya beberapa pemasok dapat menciptakan nilai dengan memungkinkan pemasok mempunyai skala ekonomis dan kurva belajar yang menghasilkan biaya transaksi dan biaya produksi yang lebih rendah.  Dengan sedikit pemasok maka biaya mengganti partner besar, sehingga pemasok dan pembeli menghadapi resiko akan menjadi tawanan yang lainnya.

Kinerja pemasok yang buruk merupakan salah satu resiko yang dihadapi pembeli sehingga pembeli harus memperhatikan rahasia-rahasia dagang pemasok yang berbisnis di luar bisnis bersama. Strategi ketiga vertical integration artinya pengembangan kemampuan memproduksi barang atau jasa yang sebelumnya dibeli, atau dengan benar-benar membeli pemasok atau distributor.

Strategi keempat kairetsu network yaitu pada strategi ini kebanyakan perusahaan manufaktur mengambil jalan tengah antara membeli dari sedikit pemasok dan integrasi vertical dengan cara misalnya mendukung secara finansial pemasok melalui kepemilikan atau pinjaman.

Pemasok kemudian menjadi bagian dari koalisi perusahaan yang lebih dikenal dengan kairetsu. Keanggotaannya dalam hubungan jangka panjang oleh sebab itu diharapkan dapat berfungsi sebagai mitra, menularkan keahlian tehnis dan kualitas produksi yang stabil kepada perusahaan manufaktur.

Para anggota kairetsu dapat beroperasi sebagai subkontraktor rantai dari pemasok yang lebih kecil. Strategi yang terakhir adalah perusahaan maya (virtual company) yaitu perusahan maya mengandalkan berbagai hubungan pemasok untuk memberikan pelayanan pada saat diperlukan.

Perusahaan maya mempunyai batasan organisasi yang tidak tetap dan bergerak sehingga memungkinkan terciptanya perusahaan yang unik agar dapat memenuhi permintaan pasar yang cenderung berubah. Hubungan yang terbentuk dapat memberikan pelayanan jasa diantaranya meliputi pembayaran gaji, pengangkatan karyawan, disain produk atau distribusinya.

Hubungan bisa bersifat jangka pendek maupun jangka panjang, mitra sejati atau kolaborasi, pemasok atau subkontraktor.
Ditengah Polemik Pandemi Covid-19, rantai pasokan logistik diharapkan meminimalkan pertemuan dan kerumunan pembeli, Menurut Chairman Supply Chain Management (SCI) Setijadi menyatakan untuk menekan penyebaran wabah Covid-19, pergerakan barang dan manusia memang harus dibatasi sekaligus dikendalikan, baik pada wilayah yang telah di tetapkan status tanggap darurat bencana maunpun yang belum. Dalam hal ini kebutuhan pokok seperti sembako tetap harus terpenuhi sehingga diperlukan rantai pasokan yang lancar.

Dalam strategi supply chain menghadapi polemik pandemi Covid-19 diperlukan pemetaan rantai pasokan baik permintaan maupun pasokannya, sehingga diperlukan sebuah perencanaan dan persiapan yaitu dengan meminimalkan frekuensi pembelian dengan menaikkan kuantitas pemesanan suatu barang.

Permasalahan disini terletak pada stok barang terbatas sehingga volume pembelian dapat dikurangi Dalam perencanaan menaikkan kuantitas pemesanan suatu barang perlu mempertimbangkan juga daya beli masyarakat, pertimbangan lainnya adalah penyimpanan dan ketahanan dari suatu barang. Diantara bahan yang tidak tahan lama seperti sayuran dan buah.

Dalam pemanfaatan sistem retail harus meminimalkan kedatangan, pertemuan dan kerumuman pembeli di toko ritel (supermarket maunpun minimarket). Toko ritel bisa difungsikan sebagai gudang (warehouse) tanpa kedatangan pembelian dengan melibatkan perusahan jasa transportasi online seperti gojek maupun grab.

Pada proses pemesanan dan pembayaran dilakukan secara online. Diperlukan sebuah prosedur dari packaging, pengirimiman barang (delivery) kepada konsumen agar tepat waktu, dan juga diperhatikan pemakaian APD seperti masker, hand sanitizer serta bahan antiseptik untuk pembersihan armada sehingga dapat meminimalkan penyebaran Covid-19.

Proses pengiriman barang juga harus memperhatikan keamanan seperti interaksi proses penyerahan barang kepada pemesanan cukup menaruh barang belanjaan di teras rumah pemesan.
Sosialisasi sistem belanja dilakukan secara masif dan terstruktur oleh pemerintah, pelaku usaha (perusahaan ritel dan transportasi online) sehingga program pemerintah dalam hal Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berjalan, PSBB diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 9 Tahun 2020 tentang Pedoman PSBB dalam rangka penanganan Corona Virus Diseases 2019 (Covid-19).

Dalam Permenkes tersebut, disebutkan bahwa PSBB adalah pembatasan kegiatan tertentu bagi penduduk dalam satu wilayah yang diduga terinfeksi virus corona.