Tebar Jasa Pahlawan Muda, Khatam Institute Gelar Seminar Lintas Agama

Reportase.tv Jakarta – Delegasi dari lima agama di Indonesia membahas soal jasa pahlawan muda dari masing-masing agamanya dalam sebuah seminar di Ponpes Khatamun Nabiyyin, Jakarta Timur, Sabtu (2/11/2019). Acara ini diinisiasi oleh Khatam Intitute, sebuah wadah pergerakan intelektual anak muda santri Ponpes Khatamun Nabiyyin yang sudah berjalan selama 5 tahun sejak 2015.

Pimpinan Ponpes Khatamun Nabiyyin, K.H. Akbar Saleh menyebut acara dialog lintas iman yang rutin digelar setiap tahun ini bertujuan untuk terus mendorong pesan toleransi antar umat beragama. Khusus untuk tahun ini, yang bertepatan dengan momen Sumpah Pemuda, seminar digelar dengan tajuk “Membangkitkan Spirit Patriotisme Pemuda; Meneladani Tokoh Pemuda Lintas Agama”.

“Patriotisme salah satu spirit penting yang harus ditumbuhkan dalam diri pemuda kita. Karena itu, perlu mereka diperkenalkan figur-figur patriot yang bisa menjadi sumber spirit dan penggerak mereka. Makanya seminar Syiar Cinta 6 ini diadakan dengan harapan bisa menggali jiwa patriotisme dari para tokoh patriot agama dan patriot bangsa yang pastinya mereka diantara figur nyata yang terbaik,” Katanya kepada Wartawan di Ponpes Khatamun Nabiyyin.

Akbar menambahkan bahwa seminar Syiar Cinta ini juga membawa misi umum untuk menebar pesan kedamaian bagi negeri. Sedangkan misi khususnya adalah mengajak para pemuda meneladani para tokoh pemuda pahlawan negeri dari berbagai agama.

Sifat kepahlawanan tokoh pemuda, lanjut Akbar, dapat menjadi kekuatan besar sebagaimana capaian yang diukir oleh sejumlah pahlawan muda di masa perjuangan kemerdekaan yang lampau.

Pahlawan yang meraih kesyahidan di usia muda seperti, Martha Christina Tiahahu (17 tahun), Supriadi (22 tahun), RA Kartin (25 tahun), Abdul Halim Perdana Kusuma (25 tahun), Radin Intan II (24 tahun), dan masih banyak lagi baik mereka yang sempat terrekam maupun tidak dalam jejak sejarah.

“Kontribusi mereka dalam kemerdekaan yang kita nikmati saat ini tidak membuat kita menanyakan apa latar belakang suku ataupun agama mereka, sebab hakikat kebaikan dan kebenaran adalah satu,” imbuhnya.

Seturut yang dikatakan Akbar, Direktur eksekutif Khatam Institute, Andi Arifah, mengatakan tujuan dari kegiatan lintas agama adalah untuk mempererat hubungan harmonis antar agama demi persatuan dalam NKRI.

“Acara Khatam Institute kali ini mengomparasikan konsep kebangkitan pemuda yang patriotis oleh masing-masing agama, juga emperkenalkan tokoh-tokoh pemuda teladan dari sejarah tiap agama yang mengajarkan nilai patriotis, dan menemukan bentuk gerakan bersama dalam membangun manusia religius Indonesia yang berkualitas pancasila,” tuturnya.

Melalui dialog lintas agama, Khatam Institute berupaya mempopulerkan citra damai dalam negara demokrasi. Melalui kegiatan ini pula, Khatam Institute mengajak peran aktif negara untuk secara bersama menyelenggarakan dialog lintas agama pada tingkat Nasional.

Hadir sebagai pembicara antara lain, Dr. Nuril Arifin Husain atau Gus Nuril dari tokoh Islam, Bhikkhu Dhammasubho yang mewakili tokoh Budha, Dr. Drs. Chandra Setiawan, M.M., Ph.D dari Tokoh Khonghucu, dan Dr. L.G Saraswati, M. Hum Tokoh Hindu, serta Miftah F. Rahmat sebagai cendekiawan muslim.

Para delegasi agama yang hadir memaparkan materi terkait tema Syiar Cinta 6 bersepakat menunjukkan satu suara bahwa tiap agama mengajarkan kecintaan terhadap bangsa dan negaranya.

Hal ini dapat dilihat dari keteladanan patriotik oleh tokoh-tokoh pemuda dalam sejarah tiap agama. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Bhikku Dhammasubho Mahatera, bahwa dalam Budha meneladani kehidupan sosok Sidharta Gautama yang memulai perjalanan penyempurnaannya di usia yang muda hingga menyebarkan ajaran cinta kasih yang prinsip-prinsipnya relevan untuk dijadikan landasan prinsip bermasyarakat dan bernegara.

Adapun perspektif Khonghucu yang dipaparkan oleh Dr. Drs. Chandra Setiawan, M.M,, Ph, (Anggota MATAKIN) mengangkat tokoh Confusius dan Kwan Khong sebagai simbol patriotisme yang telah dijalankan sejak usia muda bagi masyarakat Khonghucu. Dari kisah perjuangan kedua tokoh ini, menemukan sebuah prinsip bahwa pemuda adalah mereka yang harus pandai memanfaatkan peluang, tentunya dengan melewati berbagai tempaan melalui ‘ketahanmalangan’ dalam rangka membentuk ketangguhan.

Senada dengan tokoh di atas, Dr L.G Saraswati Putri, M.Hum mengatakn bahwa kemerdekaan Indonesia saat ini diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa dari berbagai latar belakang agama, salah satunya tokoh pahlawan muda I Gusti Ngurah Rai (wafat di usia 29 tahun) yang tercatat memperjuangkan tanah air dalam Perang Puputan.

Salah satu pesan dari I Gusti adalah menekankan bahwa kecintaan yang diajarkan agamalah yang melahirkan kecintaan dan keinginan merdeka pada suatu bangsa, dimana tugas tersebut ada di tangan para pemuda.

Adapun K.H Nuril Arifin Husein (Gus Nuril) menyebutkan bahwa dalam Islam sendiri terdapat banyak contoh teladan pemuda yang menunjukkan sikap patriotik. Tokoh-tokoh tersebut di antaranya selain Rasulullah saw terdapat juga pada keluarganya, yakni Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Sayyidina Hasan bin Ali dan Sayyidina Husain bin Ali. Salah satu sisi yang ditekankan oleh tokoh-tokoh ini dalam keteladanan style of leadership adalah menjadi para pemimpin yang dekat dengan rakyat.

Miftah Rahmat juga menambahkan bahwa tokoh-tokoh pemuda dalam Islam mengajarkan tentang pentingnya kepedulian terhadap sekitar, sebagaimana kutipan dari perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib “Jika engkau ingin melihat wajah Tuhan, maka lihatlah kaum yang tertindas”. Artinya, para pemuda yang berjiwa patriotik adalah mereka yang dekat dengan orang-orang miskin dan tertindas, sehingga untuk meraih keridhaan Tuhan haruslah memperjuangkan keadilan bagi orang lain. (Alf/Sfy)