Tersangka Rapid Test Cabul Bandara Soetta Pernah Dilaporkan Karena Bawa Kabur Perempuan

Reportase.tv, Jakarta – Polisi berhasil menangkap EFY, tersangka kasus pemerasan dan pelecehan seksual terhadap LHI saat rapid test di Bandara Soekarno-Hatta. Tersangka berhasil ditangkap di Balige, Sumatera Utara bersama seorang wanita berinisial E.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, ini bukanlah kali pertama tersangka berurusan dengan pihak kepolisian. Sebelumnya, EFY pernah dilaporkan ke Polda Sumatera Utara karena diduga membawa kabur E.

“Tersangka pernah bermasalah di Polda Sumut tahun 2018, kasus dilaporkan oleh keluarga yang diakui (tersangka melupakan) istrinya, saudari E ini,” ujar Yusri di Mapolres Bandara Soetta, Senin (28/9).

Sementara, sambung Yusri, perempuan berinisial E tersebut saat ini turut diamankan pihak kepolisian. Dia diamankan saat polisi meringkus EFY di tempat persembunyiannya.

“Kami terus koordinasi dengan Polda Sumut untuk bagaimana langkah selanjutnya. Tetapi sekarang yang bersangkutan sudah diamankan disini,” katanya.

Lebih jauh Yusri mengakui, pihaknya belum memastikan terkait bagaimana proses hukum EFY di Polda Sumatera Utara. Pihak Polda Metro Jaya masih tetap berkoordinasi dengan Polda Sumatera Utara.

“Kan dulu ada laporan melarikan wanita yang sekarang diakui istrinya dan punya seorang anak. Ini kami masih dalami semuanya,” tukasnya.

Akibat perbuatannya, tersangka akan dijerat dengan Pasal 289 KUHP tentang pencabulan dan atau Pasal 378 KUHP tentang penipuan dan atau Pasal 268 KUHP tentang pemerasan.

Seperti diketahui, sebuah akun Twitter @listongs membagikan sebuah utas tentang dugaan pelecehan seksual dan pemerasan yang terjadi di Bandara Soekarno-Hatta, Banten.

Korban yang merupakan seorang perempuan berinisial LHI (23) menceritakan hal yang menimpanya tersebut. Kejadian memilukan tersebut berawal saat dirinya hendak menjalani rapid test di Bandara Soekarno-Hatta.

Seperti diketahui, salah satu syarat bepergian menggunakan pesawat terbang pada saat pandemi ialah menunjukkan hasil rapid test. Bila calon penumpang tidak sempat melakukan di luar, maka pihak Bandara menyediakan ruang untuk melakukan rapid test.

Bukan mendapat layanan yang baik, LHI justru mendapat perlakuan yang tidak pantas dari seorang tenaga medis. Ia mengaku oknum tenaga medis tersebut melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya.

Selain itu, diakuinya, oknum tenaga medis tersebut juga meminta uang tambahan dari dirinya.

“Bener-bener kaget dan gak bisa ngapa2in, si dokter bajingan ini malah melanjutkan aksinya dengan meraba-raba payudara aku. perasaanku hancur. bener-bener hancur. nangis sekeras-kerasnya dari dalam. bahkan untuk teriak tolong aja gak bisa,” tulisnya dalam utas tersebut.