Turunan Tajam Tulamben Jadi Dambaan Peserta Gowes Keliling Bali 300 Km

Reportase.tv Singaraja – Hampir semua jalan raya di Bali beraspal mulus, jarang yang bopeng-bopeng. Gowes pedal sepeda jadi terasa nyaman, apalagi ada tiupan angin dingin dari perbukitan di sekitar Karangasem, Bali. Jalanan kelas satu ini jadi dambaan peserta gowes sepeda keliling Bali The Paradise of East Bali loop sejauh 300 km.

Pada gowes hari ketiga ini, rute yang ditempuh dari Amlapura menuju Singaraja. Jarak tempuh etape ini sekitar 98 km menyusuri pantai timur dan utara Bali dengan jalan aspal mulus, lebar dan lalu lintas agak sepi.

Kontur pada awal 5 km pertama mendaki tipis dari 193 meter dari permukaan laut (MDPL) kemudian naik sampai 358 MDPL, kemudian menurun dan datar di sekitar 5 MDPL sepanjang menyusuri pantai di Desa Tulamben, Karangasem hingga Singaraja.

“Aku senang ini etapenya karena banyak turunan. Biarkan yang lain jago tanjakan, namun aku bisa nikmati turunan edan ini,” ungkap Umi Khulsum, salah satu peserta gowes, di Singaraja, Bali, Selasa (26/11/2019).

Dengan menggunakan sepeda vintage yang dimodifikasi, ia dengan sabar terus berupaya mengikuti rombongan gowes dari jarak sekitar 1 kilometer. Walau agak tertinggal dari rombongan, ia masih yakin bisa mengikuti pace (kayuhan) peserta yang sebagian besar kaum lelaki.

Memasuki Tanjakan Brine menuju Pura Puncak Luhur Karangasem, ada turunan ekstrim yang berkelok-kelok. Jalanan yang relatif sepi, memudahkan bagi siapa pun yang bernyali tinggi mengikuti putaran roda sepedanya di aspal.

Pemandangan di sekitar bukit ini, memanjakan mata. Hamparan sawah yang dikeliling bukit-bukit di Jalan Raya Kubu, Karangasem. Namun mata tak boleh lengah, karena di sebelah kiri ada jurang menganga dengan kedalaman ratusan meter.

“Jalanan tak terlalu ramai kendaraan bermotor. Kesempatan aku hajar turunan ini, agar bisa nyusul rombongan di depan. Pada kondisi ini, kita harus pandai-pandai memainkan rem belakang dan depan agar selalu ada traksi,” jelas wanita berparas ayu ini.

Gowes ratusan kilometer ini tetap menuntut konsentrasi tinggi, karena ketika energy terkuras mengaruni tanjakan-tanjakan edan biasanya peserta bisa kehilangan kendali menyusuri asyiknya turunan tajam. Untungnya dari 32 peserta ini, semuanya punya pengalaman yang hampir merata di atas sepeda.

Memasuki Jalan Kubu Raya, Tulamben, peserta juga disuguhi jalanan yang diapit Gunung Agung dan Selat Lombok dengan warna lautan biru.

Dari Jembatan Tukad Batu Niti, para peserta berhenti sejenak dan berfoto-foto dengan latar belakang Gunung Agung terhampar tinggi. Jembatan ini adalah tempat aliran sungai kering, yang disiapkan sebagai tempat tumpahan lahar dingin letusan Gunung Agung langsung ke laut.

Hal lain yang menarik, para peserta ini juga tak lupa menikmati kuliner sepanjang petualangan tersebut. Di Tulamben, mereka juga mencoba sate gurita dan seduhan nikmat kopi Tianyar. (Tata/Sfy)