Viral Foto Retakan Permukaan Laut, Ternyata Begini yang Sebenarnya

Reportase.tv, Jakarta – Media sosial dihebohkan dengan kabar adanya keretakan di permukaan air laut. Dalam artikel yang viral di Facebook itu, disebutkan, tanda retakan permukaan laut merupakan pertanda akan terjadinya gempa besar.

Warga Lombok pun diminta untuk bersabar dan banyak berdoa agar gempa besar itu tidak terjadi. Pesan tersebut salah satunya diunggah oleh akun Facebook Muhammad Alexander Zen.

Akun tersebut memuat informasi panjang soal foto udara yang diklaim sebagai retakan di permukaan air laut. Namun ia tidak menyebutkan dengan jelas di mana foto laut yang disebut retak tersebut diambil.

Kendati demikian, ia menyebut akan ada potensi gempa di Pulau Jawa sebagaimana dijelaskan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Berikut potongan narasi yang dituliskan:

“Nestapa Lombok blm Berakhir laut mulai Retak2 Sudah.. Buat yg lg d pulau Jawa atau ada keluarga d pulau Jawa.. PERBANYAK DO’A…TETAP WASPADA… Lempeng Jawa Terus Bergerak, LIPI Ingatkan Potensi Gempa Sahabat LIPI, LIPI mewaspadai akan terjadinya gempa dengan kekuatan skala besar khususnya di Pulau Jawa beberapa waktu ke depan.

Hal ini akibat meningkatnya aktifitas seismik dengan seringnya terjadi subduksi atau pergerakan lempeng selatan mulai dari Selat Sunda hingga timur Pulau Jawa.”

Unggahan tersebut menjadi viral dan sudah dibagikan sedikitnya oleh 24 ribu akun Facebook dan mendapat komentar sebanyak 3,5 ribu kali.

Terkait informasi tersebut, Badan Meteorolgi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) membantah adanya isu potensi gempa yang akan terjadi di Pulau Jawa, sebagaimana diunggah oleh akun Facebook Muhammad Alexander Zen.

Gempa Megathrust

Merespons hal tersebut, Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono dengan tegas menyebutnya sebagai hoaks.

“Foto lautan retak yang berpotensi gempa besar di Jawa adalah tidak benar. BMKG menegaskan isu mengenai gempa Lombok yang akan memicu aktifnya gempa megathrust Selatan Jawa-Selat Sunda adalah kabar bohong atau hoaks,” kata Daryono seperti dilansir Kompas.

Menurutnya, gempa besar yang mengguncang Lombok tahun lalu tidak memiliki hubungan langsung dengan zona megathrust di Samudera Hindia, sehingga tidak dapat disebut mendatangkan potensi gempa bagi Pulau Jawa.

“Sumber gempa di Lombok tahun 2018 lalu adalah Sesar Naik Flores yang tidak memiliki hubungan langsung dengan zona megathrust di Samudra Hindia. Kedua sumber gempa tersebut berbeda dan dipisahkan dengan jarak yang sangat jauh,” jelasnya.

Satu hal paling penting yang harus dipahami masyarakat luas agar tidak terus menerus termakan informasi hoaks mengenai isu gempa adalah mengetahui fakta bahwa belum ada alat yang dapat memprediksi gempa.

Jadi, jika ada yang menyampaikan prediksinya tentang gempa dapat dipastikan sebagi hoaks. Hal ini juga sudah berulangkali disampaikan oleh BMKG.

“Sampai saat ini belum ada negara dengan teknologi apapun yang mampu memprediksi kapan, dimana dan berapa kekuatan gempa bumi yang akan terjadi secara tepat hari dan tanggalnya,” ucap Daryono.

“Maka jangan pernah percaya ramalan dan prediksi gempa bumi. Mohon masyarakat agar mengabaikan berita hoaks tersebut dan tak ikut menyebarkannya,” lanjutnya.