Wamen KLHK Apresiasi Kinerja Polisi Hutan Dalam Menjaga Kelestarian Hayati Indonesia

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong (foto: Reportase.tv/Tri)

Reportase.tv, Jakarta – Satuan Polisi Hutan Reaksi Cepat (SPORC) merayakan ulang tahun ke-14. Perayaan ulang tahun SPORC diselenggarakan di Gedung Manggala Wanabakti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta Selatan, Senin (6/1).

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong mengapresiasi kerja SPORC selama ini. Selama lima tahun terakhir saja, SPORC menyelesaikan 441 operasi. Selain itu SPORC juga berhasil mengamankan pembalakan liar sebanyak 34.934,82 meter kubik.

Alue juga menjelaskan, SPORC telah melakukan berbagai upaya dalam mengamankan sumber daya alam, hutan. Sehingga kekayaan milik Indonesia dapat terjaga.

“Menjaga keunggulan komparatif yang kita miliki akan meningkatkan daya saing Indonesia,” katanya.

Indonesia, lanjut Alue, memiliki kawasan hutan dan keanekaragaman hayati tinggi yang tidak dimiliki negara lain. Oleh karena itu, ia meminta semua pihak untuk turut serta menjaga dan memelihara kawasan hutan dan fauna Indonesia.

“SPORC juga berhasil menindak 460 operasi perambahan kawasan hutan dengan hasil luas yang bisa diamankan seluas 18.777.295 hektar, 279 operasi tumbuhan dan satwa liar. Hasil yang bisa diamankan 226.600 ekor satwa dan 12.688 buah bagian tubuh satwa. Serta 731 kasus telah dinyatakan P-21 bersama dengan Kepolisian dan Kejaksaan,” paparnya.

SPORC, sambung Alue, harus dapat meningkatkan kerja kerasnya. Dengan demikian, diharapkan kepercayaan publik kepada KLHK semakin meningkat.

“Publik berharap kepada kita untuk dapat menyelesaikan permasalahan kejahatan lingkungan hidup dan kehutanan yang terjadi saat ini. Harapan publik ini harus kita jawab dengan kerja-kerja yang lebih baik dan konsisten,” katanya.

Lebih jauh Alue mengingatkan, para pelaku kejahatan kehutanan terus mengembangkan modusnya. Mereka akan menggunakan berbagai cara untuk melindungi kejahatan yang mereka lakukan, termasuk melawan aparat penegakan hukum.

Para pelaku kejahatan di sektor kehutanan, Alue menjelaskan, terus mengembangkan modus operandi bahkan dengan melibatkan jaringan kejahatan antar negara. Dengan demikian, pelaku berharap akan mendapatkan keuntungan finansial yang lebih besar.

“Aparatur penegak hukum harus menjadi pembelajar agar dapat menjadi lebih cerdas, lebih kuat secara individu dan jaringan. Selain itu kita juga harus menguasai teknologi,” tandasnya.