Yayasan Prisma dan Badan Perfilman Nasional Gelar Pemutaran Film Terbatas di Sekolah

Yayasan Prisma dan Badan Perfilman Nasional Gelar Pemutaran Film Terbatas di Sekolah.(foto/ahr)

Reportase.tv,Banjarnegara –  Yayasan Prima Surya Multimedia (Prisma) Sinema menggelar even sinema mikro atau pemutaran film terbatas ke sekolah-sekolah. Kali ini giliran SMAN 1 Purwanegara Banjarnegara, Jawa Tengah yang mendapat kesempatan mendapat kunjungan pada Selasa (24/01/2023),

50 siswa menjadi peserta dari kegiatan yang didukung oleh Dana Indonesiana, LPDP dan Badan Perfilman Nasional ini.

Empat film  disuguhkan dalam kegiatan ini, yaitu ‘Sinema Pelajar Kebumen’, sutradara Nanda Taufik Hidayat produksi SMKN 1 Gombong, ‘Pasukan Gemplong’, sutradara Deva Iqbal Baidilah produksi SMPN 4 Kalibening, ‘Lakon Ki Jhono Lan Ki Jalu’, sutradara Fikri Cahya Putra Wara produksi SMKN 2 Bawang, dan film Pekan Kebudayaan Nasional ‘Cerlang Nusantara Menuju Masa Depan Cerita dari Budaya’ (Solok Selatan), sutradara Riri Riza produksi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Ketua Yayasan Prisma Aziz Arifianto mengatakan, saat ini sudah menjadi rahasia umum bahwa kekuatan dunia film di Banyumas Raya ada pada film pelajar.

“Kegiatan ini merupakan putaran ke lima di wilayah Banyumas raya dari total sepuluh putaran yang akan dilakukan,” kata Azis

Kegiatan  akan menyasar pelajar, karena menurutnya merekalah amunisi yang tidak pernah habis untuk menghidupkan film di Banyumas Raya. Saat ini juga sedang kita susun dan sosialisasikan kurikulum film pelajar.

“Kami berharap kegiatan seperti ini mampu mengoptimalkan film pelajar,” harap Aziz.

Kegiatan perfilman, tambah Aziz, pasca pandemi memang mengalami kelesuan. Hal itu karena beberapa even kompetisi dan festival sempat terhenti.

“Dengan sinema mikro ini, kita coba gerakkan lagi komunitas film pelajar yang ada di Banjarnegara,” tambah Aziz.

Selain pemutaran film, juga diadakan diskusi dengan menghadirkan Ketua Pegiat Film Pelajar (Pijar) Banjarnegara Tjatur Budijantoro, Ketua Yayasan Sahabat Muda Indonesia Heni Purwono serta sutradara muda Sevi Aolina dengan moderator Founder Instambanjarnegara Opan.

Tjatur mengungkapkan pentingnya even film di masing-masing sekolah untuk menjaga ritme semangat memproduksi film, Heni lebih banyak mengulas tentang pentingnya riset dalam membuat film, sedangkan Sevi lebih banyak bercerita tentang suka duka memproduksi film.

“Susahnya dalam membuat film butuh waktu yang lama, sabar dan harus peras otak. Senangnya, kita bisa jalan-jalan ke berbagai festival kalau film kita lolos. Juga prestasi kita di dunia film bisa jadi bekal untuk masa depan seperti untuk mendaftar kuliah atau kerja,” kata Sevi.(Ahr13)