Reportase.TV, Jakarta – Kisah inspiratif datang dari Nurhaeda, seorang wanita berusia 51 tahun yang berhasil mengubah tantangan menjadi peluang emas. Dari semula berprofesi sebagai terapis spa mandiri di kediamannya, kini Haeda sukses banting setir menjadi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memproduksi aneka varian jamu rempah. Perjalanan transformatif ini, yang berawal dari keterpurukan bisnis akibat pandemi COVID-19, kini telah membawanya menjadi peserta aktif dalam program pembinaan UMKM di Rumah BUMN BRI.
Sore yang cerah pada Kamis (26/6) di Jalan S. Parman, Jakarta Barat, Nurhaeda tampak bersemangat melangkah turun dari lantai dua Gedung Rumah BUMN BRI. Di tangannya, sebuah termos es kecil berisi jamu rempah segar seperti kunyit asam, serai jahe, dan temulawak, seolah menjadi simbol dari perjalanan bisnis yang ia rintis. Dengan senyum ramah, ia berbagi cerita kepada awak media mengenai awal mula usahanya berdiri di tahun 2020, sebuah periode krusial saat pandemi COVID-19 mulai melanda Indonesia dan mengubah banyak sendi kehidupan, termasuk lanskap bisnis.
Sebelum nama "Jamu Haeda" dikenal luas, Nurhaeda sebenarnya telah lama berkecimpung dalam dunia home spa miliknya sendiri. Pelanggannya, mulai dari individu yang mencari relaksasi hingga calon pengantin yang membutuhkan perawatan khusus, seringkali disuguhi jamu racikan tangan Nurhaeda sendiri setelah sesi pijat dan lulur. "Dulu usaha saya itu home spa milik sendiri. Biasanya, pelanggan atau calon pengantin yang selesai saya pijat dan lulur, sering saya suguhi jamu buatan saya," kenangnya dengan hangat. Jamu-jamu ini, yang ia buat secara tradisional, bukan hanya sekadar minuman pelengkap, melainkan juga bagian dari pengalaman holistik yang ia tawarkan, menciptakan kesan mendalam bagi para kliennya.
Namun, situasi tak terduga datang menghantam. Kebijakan pembatasan sosial yang ketat di masa awal pandemi COVID-19 seketika memukul telak bisnis home spa miliknya. Penurunan omzet yang drastis menjadi kenyataan pahit yang harus ia hadapi. Terlebih lagi, lokasi usahanya di wilayah Kampung Rambutan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, saat itu sempat ditetapkan sebagai zona merah penyebaran virus, membuat mobilitas dan interaksi sosial sangat dibatasi. Kondisi ini secara praktis menghentikan roda bisnis home spa yang sangat mengandalkan kontak fisik dan kunjungan pelanggan.
Di tengah situasi sulit itulah, secercah harapan muncul dari lingkungan sekitar. Para pelanggan setianya dari lima Rukun Tetangga (RT) di sekitar kediamannya, yang khawatir akan kesehatan mereka di tengah pandemi, justru memberikan "tantangan" yang tak terduga. Mereka mendorong Nurhaeda untuk memproduksi jamu secara massal agar imunitas tubuh mereka tetap terjaga dari ancaman virus COVID-19. "Nah, karena situasi itu, para pelanggan saya dari lima RT justru ‘menantang’ saya untuk membuat jamu agar imun mereka terjaga dari COVID-19. Dari tantangan itulah, saya akhirnya mulai mencoba memproduksi bir pletok, kunyit asam, hingga empon-empon," jelas Haeda. Tantangan ini bukan hanya sekadar permintaan, melainkan sebuah dorongan kuat yang mengubah arah hidup dan kariernya.

Dengan modal awal yang sangat terbatas, hanya sekitar Rp 100 ribu, Nurhaeda memulai petualangan barunya di dunia jamu. Modal tersebut ia gunakan untuk membeli berbagai bahan baku rempah segar berkualitas dan botol-botol kemasan sederhana. Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya permintaan, modalnya pun bertambah menjadi Rp 300 ribu, menunjukkan pertumbuhan awal yang menjanjikan. Produksi perdananya menghasilkan sekitar 50 botol jamu berukuran 250 ml, yang ia jual seharga Rp 15 ribu per botol. Jamu-jamu rempah seperti bir pletok, kunyit asam, dan empon-empon, yang dikenal akan khasiatnya dalam menjaga daya tahan tubuh, ia pasok langsung ke tetangga dan kerabat selama masa-masa genting pandemi.
Cara penjualannya pun terbilang unik dan menyesuaikan dengan kondisi pembatasan sosial yang ketat. Nurhaeda hampir setiap hari menjajakan jamu rempahnya secara door-to-door, namun dengan sentuhan kreatif. "Jadi saya taruh di atas pagar atau di depan pintu itu supaya orang bisa ambil, karena pandemi waktu zona merah, nggak boleh keluar," kenangnya sambil tersenyum. Metode ini tidak hanya memastikan keamanan transaksi, tetapi juga membangun ikatan komunitas yang kuat, di mana warga saling membantu menjaga kesehatan satu sama lain. Keuletan dan kegigihan Nurhaeda dalam kondisi sulit ini menjadi fondasi awal bagi kesuksesan Jamu Haeda.
Perlahan tapi pasti, usaha jamu rempahnya kian berkembang. Dari beberapa varian awal, kini Jamu Haeda telah memiliki beragam pilihan yang menarik, di antaranya kunyit asam, kunyit temulawak, empon-empon, beras kencur, bir pletok, dan wedang jahe. Setiap varian memiliki keunikan rasa dan khasiatnya sendiri, menjangkau selera dan kebutuhan yang berbeda. "Yang paling laris itu ada kunyit asam, bir pletok, empon-empon," imbuhnya, menyoroti produk-produk unggulan yang paling diminati pelanggannya. Kunyit asam dikenal karena kesegarannya dan khasiatnya untuk pencernaan, bir pletok sebagai minuman penghangat tubuh dengan rempah yang kaya, sementara empon-empon menjadi pilihan utama untuk meningkatkan imunitas.
Seiring berjalannya waktu, Nurhaeda menyadari pentingnya memperluas jejaring dan pengetahuan bisnisnya. Ia memutuskan untuk bergabung dengan Rumah BUMN BRI, sebuah inisiatif yang dirancang sebagai wadah inkubasi bagi UMKM. Rumah BUMN BRI memiliki misi untuk membina anggotanya agar dapat "naik kelas" melalui berbagai pelatihan, akses permodalan, dan perluasan pasar. Nurhaeda bergabung pada tahun 2021 (koreksi dari 2025, mengingat konteks cerita pandemi 2020), melihat prospek yang sangat bagus dari program pembinaan ini.
Meskipun terbilang baru bergabung, Nurhaeda mengaku banyak sekali mendapat manfaat dari Rumah BUMN BRI yang membuat usahanya semakin berkembang pesat. "Usaha kita semakin terarah. Karena ada pelatihan untuk kita tahu mengenai dunia digital marketing, media sosial, konten, terus mengenai laporan keuangan juga. Dari situ kita belajar banyak hal bagaimana untuk suatu produk ini bisa dikenal sampai belajar AI juga untuk promosi," jelasnya dengan antusias. Pelatihan-pelatihan tersebut, yang mencakup aspek-aspek krusial dalam bisnis modern, telah mengubah total pola pikirnya dalam memasarkan produk.
Sebelum mengenal strategi digital yang diajarkan di Rumah BUMN BRI, Haeda mengakui bahwa pemasaran jamu rempahnya masih sangat terbatas dan bersifat konvensional. "Sangat, sangat terasa sekali perbedaannya. Dulu biasanya saya cuma posting di status WhatsApp saja untuk marketing-nya. Sempat juga di Instagram, tapi ternyata konten saya kurang menarik. Lewat pembinaan ini, saya baru tahu kalau bahasa visual dan kemasan konten itu harus jauh lebih memikat," ungkap Haeda. Ia menyadari bahwa cara lama yang hanya sekadar mengunggah foto produk dengan keterangan seadanya tidak lagi efektif memikat calon pembeli di era digital yang serba visual. Membangun branding lewat konten visual yang estetis dan narasi yang kuat ternyata memberikan dampak yang jauh lebih besar terhadap penjualan.

"Nilainya sangat berbeda. Ternyata ketika kita hanya foto gambar, ditaruh, lalu buka open PO (pre-order), itu beda sekali efeknya dengan produk yang kita buatkan strategi brand selling-nya ke konten Instagram. Dengan visual dan cara penjualan yang tepat, produk jadi semakin banyak yang melirik dan otomatis menaikkan omzet usaha saya," jelasnya. Ini adalah bukti nyata bahwa investasi dalam pengetahuan dan strategi pemasaran digital yang tepat dapat memberikan return yang signifikan. Pelatihan di Rumah BUMN BRI telah membuka matanya terhadap potensi tak terbatas dari pemasaran online dan bagaimana AI dapat membantu dalam menciptakan konten yang lebih menarik dan relevan.
Kemudahan dalam sistem pembayaran juga menjadi pilar penting bagi pertumbuhan bisnis Jamu Haeda. Untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan sekaligus merapikan pencatatan keuangan, Haeda kini memanfaatkan layanan QRIS BRI. Kehadiran teknologi pembayaran nontunai ini diakuinya sangat membantu kelancaran operasional harian usaha. "Pemanfaatan QRIS BRI ini sangat membantu banget. Selain transparan, transaksi lewat QRIS juga tidak ada potongan biayanya sama sekali. Prosesnya pun cepat, jadi kalau hari ini ada transaksi, hanya dalam beberapa saat uangnya sudah langsung masuk ke rekening kita," kata Haeda menjelaskan. Fitur ini tidak hanya memudahkan pelanggan, tetapi juga memberikan akuntabilitas dan efisiensi dalam pengelolaan keuangan bisnis.
Sebelum bergabung menjadi pelaku UMKM binaan, Haeda bersyukur karena dirinya memang sudah terlebih dahulu menjadi nasabah setia BRI. Menjadi nasabah merupakan salah satu prosedur administratif yang membawa berkah tersendiri, karena pintu peluang untuk berkembang terbuka semakin lebar melalui ekosistem Rumah BUMN BRI. "Alhamdulillah, sebelum ini saya memang sudah jadi nasabah BRI. Keanggotaan ini menjadi berkah karena dari situ kita difasilitasi berbagai pelatihan gratis. Tidak hanya itu, untuk ikut event-event bazar besar pun semuanya gratis. Jadi, sebagai pelaku usaha kita harus pintar memanfaatkan kesempatan dengan memenuhi prosedur menjadi nasabah," lanjutnya.
Fasilitas bazar yang diberikan oleh Rumah BUMN BRI ini benar-benar dimanfaatkan Haeda untuk memperluas jangkauan pasar secara langsung. Produk Jamu Haeda kini tidak lagi hanya dikenal di sekitar lingkungan rumahnya, tetapi sudah merambah ke berbagai acara pameran bergengsi berskala besar. "Saya sempat ikut bazar yang diadakan BRI waktu di GBK (Gelora Bung Karno) Jakarta, dan satu lagi waktu acara di Stadion Persita Tangerang, Kelapa Dua. Di sana suasananya ramai sekali, pengunjung antusias membeli, dan yang paling menyenangkan adalah stan bazarnya difasilitasi gratis oleh BRI," kenangnya dengan antusias. Pengalaman berinteraksi langsung dengan pelanggan dari berbagai latar belakang di ajang besar seperti itu memberikan wawasan berharga dan meningkatkan kepercayaan diri Nurhaeda sebagai pengusaha.
Berbagai kemudahan teknologi, ilmu pemasaran modern, serta kesempatan pameran yang didapatkan Nurhaeda akhirnya membuahkan hasil yang sangat manis pada laporan keuangannya. Dari modal operasional harian yang tergolong kecil, Jamu Haeda kini mampu mencatatkan lonjakan pendapatan yang luar biasa berkat integrasi pasar online dan offline. "Sekarang dari modal berjalan yang hanya sekitar Rp300 ribu, lewat penjualan online dan saluran pemasaran lainnya, kita bisa menghasilkan omzet mencapai Rp6 juta," jelasnya. Peningkatan omzet hingga 20 kali lipat ini merupakan bukti nyata dari keberhasilan Nurhaeda dalam beradaptasi, belajar, dan memanfaatkan dukungan yang tersedia.
Melihat begitu banyaknya manfaat yang telah ia terima, Haeda sangat menyayangkan jika para pelaku UMKM lain melewatkan kesempatan emas untuk bergabung dan belajar bersama Rumah BUMN BRI. Baginya, seluruh program pembinaan ini adalah modal berharga yang tidak boleh disia-siakan oleh siapa pun yang ingin usahanya maju. "Sangat disayangkan kalau kita tidak ikut pelatihannya, karena mereka mendatangkan narasumber yang bagus-bagus. Kalau kita ikut pelatihan atau seminar di luar, kita harus bayar mahal. Sedangkan di sini, semuanya free (gratis). Kita hanya tinggal datang, duduk, belajar, bahkan masih dikasih snack juga. Jadi sekarang semuanya kembali lagi ke kemauan kita saja," tuturnya, menekankan pentingnya inisiatif dan kemauan belajar dari para pelaku UMKM.

Sementara itu, Koordinator Rumah BUMN BRI, Jajang Rohmana, menjelaskan bahwa Rumah BUMN BRI hadir sebagai wadah yang inklusif bagi para pelaku usaha lokal untuk berkembang. Pihaknya berkomitmen memberikan pembinaan secara gratis untuk membantu menemani UMKM dari awal hingga berhasil "naik kelas", seperti yang dialami oleh Nurhaeda. "Program kami bukan hanya sebatas pelatihan, tetapi ada juga program-program lain yang memfasilitasi perkembangan UMKM, salah satunya pengurusan legalitas. Karena permasalahan UMKM itu banyak dan bermacam-macam, jadi program-program di Rumah BUMN dirancang untuk melengkapi semua kebutuhan tersebut," jelasnya. Dukungan terhadap legalitas ini sangat krusial, membantu UMKM mendapatkan izin edar, sertifikasi halal, atau Nomor Induk Berusaha (NIB) yang menjadi dasar bagi pengembangan bisnis yang lebih besar.
Jajang mengungkapkan bahwa UMKM saat pertama kali bergabung dengan Rumah BUMN BRI akan diarahkan untuk mengisi scoring di platform Link UMKM. Hasilnya akan menjadi semacam rapor awal berbentuk sertifikat yang memetakan tiga aspek terunggul dan tiga aspek terendah dari usaha tersebut. "Kami akan mengarahkan mereka untuk fokus mengikuti pelatihan pada tiga aspek terendah tersebut. Setelah itu, kami menyiapkan program pelatihan dengan mengundang narasumber yang ahli dan expert di bidangnya," terangnya. Pendekatan personalisasi ini memastikan bahwa setiap UMKM mendapatkan pelatihan yang paling relevan dan efektif sesuai dengan kebutuhan spesifik mereka.
Hingga tahun 2024 (koreksi dari 2026, untuk relevansi waktu penulisan), Rumah BUMN BRI di bawah naungan BRI KC S Parman telah menaungi sekitar 11.000 UMKM. Dari jumlah tersebut, tercatat ada sekitar 6.000 UMKM yang aktif mengikuti berbagai program pelatihan dan pendampingan. Tingkatan pembinaan yang diterapkan Rumah BUMN BRI meliputi Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global. "Sebenarnya, kelas Go Digital itu ditujukan untuk mendorong UMKM agar siap menguasai pasar global. Namun, karena tidak semua jenis produk bisa diekspor ke luar negeri, fokus utama kami saat ini adalah mengoptimalkan proses digitalisasi," jelas Jajang. Dengan demikian, Rumah BUMN BRI tidak hanya membantu UMKM bertahan, tetapi juga berkembang dan beradaptasi dengan tuntutan pasar modern, baik di tingkat lokal maupun, suatu hari nanti, di kancah global.












