Jejak Manis Malika: Inovasi Camilan Pangan Lokal, Go Digital Bersama BRI, Merambah Pasar Nasional dan Bidik Ekspor

Reportase.TV, Jakarta – Hujan deras yang mengguyur ibu kota siang itu tak sedikit pun menyurutkan semangat para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memadati ruang pelatihan di Rumah BUMN BRI Jakarta. Di tengah cuaca yang dingin, antusiasme justru menghangatkan suasana, membuktikan keinginan kuat para peserta untuk mengatrol bisnis mereka ke level yang lebih tinggi. Salah satu wajah yang berseri-seri adalah Tetti (48), pemilik brand Malika, lini usaha kuliner yang memproduksi egg roll, kapit, dan cheese stick, membawa serta berbagai produk unggulannya yang siap mencuri perhatian.

Kepada tim liputan, Tetti dengan ramah mengisahkan perjalanan inspiratifnya merintis Malika sejak tahun 2023. Berbekal pengalaman berharga di industri ritel selama bertahun-tahun, Tetti jeli menangkap peluang bisnis dari kecintaannya sendiri terhadap camilan, khususnya egg roll. "Jadi ini dimulainya 2023, sebelumnya saya punya pengalaman kerja di bidang ritel. Karena saya itu senang banget sama produk egg roll yang ada di market gitu," ujarnya usai mengikuti pelatihan strategi konten visual belum lama ini, menjelaskan awal mula ketertarikannya yang kini menjadi fondasi bisnisnya.

Diversifikasi Pangan Lokal: Inovasi Camilan Sehat Malika

Kecintaan Tetti terhadap egg roll tidak hanya berhenti sebagai hobi, melainkan bertransformasi menjadi ide bisnis yang menjanjikan, selaras dengan momentum kampanye diversifikasi pangan lokal yang digalakkan pemerintah. Dari sinilah ia tertantang menciptakan inovasi camilan sehat yang unik dan memiliki keunggulan kompetitif. Produk pertamanya adalah Egg Roll berbahan dasar sorgum, yang kemudian disusul varian lain yang tak kalah menarik. "Egg roll ini dari bahan-bahan natural, jadi bukan terigu. Makanya saya bisa mengklaim ini gluten free, karena bebas terigu. Jadi ini produk pertamanya dari sorgum, terus pisang ambon, ini dari ubi ungu, nah ini dari kopi," jelas Tetti, menyoroti komitmennya pada bahan baku alami dan manfaat kesehatan.

Selain fokus pada lini egg roll berbahan dasar pangan lokal, Tetti juga menghadirkan produk pendamping seperti kapit yang terbuat dari kelapa murni, menawarkan sensasi rasa yang otentik. Tak berhenti di situ, ia bahkan berinovasi pada camilan populer seperti cheese stick. Meskipun terkesan umum, Tetti memberikan sentuhan premium pada produknya. "Cheese stick sih sebenarnya common, tapi ini saya pakai keju edam. Cuma saya enggak tulis kenapa keju edam, supaya orang-orang itu langsung nyoba aja," ungkap Tetti dengan senyum, menunjukkan strategi pemasarannya yang cerdik.

Menembus Pasar Ritel Modern dan Apotek: Strategi Distribusi Unik

Perjalanan Malika menembus pasar ritel modern dimulai pada tahun 2024. Tetti memulai distribusinya dari toko buah di Cibubur, sebuah langkah awal yang strategis. Namun, lompatan terbesar datang ketika Malika sukses merambah jaringan apotek, seperti Apotek Roxy dan Apotek Welling. "Kita mulai pasarnya dari toko buah di Cibubur. Terus merambah lagi ke Apotek Roxy dan Apotek Welling. Sekarang apotek sudah makin modern. Jadi selagi konsumen menunggu obat racikan, mereka bisa belanja camilan," jelas Tetti, menggambarkan bagaimana ia melihat potensi apotek bukan hanya sebagai tempat obat, tetapi juga destinasi belanja camilan sehat.

Usaha Camilan Sehat Malika Tembus Ritel Modern hingga Apotek

Keberhasilan Malika tidak berhenti di sana. Produk egg roll sehat ini kini telah masuk ke lebih dari lima jaringan ritel modern. Salah satu pencapaian gemilang adalah keberhasilannya menembus ritel modern Gelael. Meskipun pengiriman terpusat melalui gudang di Ciracas, produk Malika kini telah melanglang buana ke berbagai daerah di luar ibu kota, mencakup pasar yang lebih luas. "Di Gelael kita masuk ke Jakarta, Semarang, dan Lampung. Bahkan sudah dua kali repeat order ke Lampung dan Makassar. Terakhir kemarin baru dapat order untuk Gelael Timika (Papua)," ungkapnya bangga, menyoroti jangkauan distribusi yang semakin luas.

Tingginya permintaan dari luar daerah kala itu membuat dapur produksi Malika terus mengepul setiap hari. Tetti mampu memproduksi sekitar 10 hingga 12 karton per minggu. Namun, ia memastikan kesiapan Malika untuk menghadapi lonjakan pasar yang lebih besar. "Kalau ada permintaan besar, produksi bisa kita push sampai 100 karton per bulan," tegasnya, menunjukkan kapasitas produksi yang fleksibel.

Pendampingan Rumah BUMN BRI: Oase di Tengah Tantangan Ekonomi

Kendati demikian, perjalanan bisnis Malika diakui Tetti tidak selalu mulus. Memasuki tahun 2026, ia merasakan betul bagaimana kondisi perekonomian yang kian menantang berimbas pada daya beli masyarakat. Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian ini, Tetti tidak menyerah. Melalui informasi dari mulut ke mulut sesama pelaku UMKM di komunitas, ia akhirnya mendapat rekomendasi untuk bergabung menjadi bagian dari UMKM binaan Rumah BUMN BRI guna memperluas jejaring dan mendapatkan dukungan.

Langkah ini menjadi titik balik penting bagi Malika untuk bertahan dan berkembang melalui program digitalisasi. Di Rumah BUMN BRI, Tetti aktif mengikuti berbagai program pelatihan yang difokuskan pada penguatan ekosistem digital. "Ini udah yang kedua kali saya ikut pelatihan. Kebetulan semuanya related sama digital," kata Tetti. Baginya, pelatihan ini menjadi wadah evaluasi yang sangat berharga untuk memperbaiki strategi pemasaran digitalnya, termasuk pengelolaan akun Instagram resmi Malika agar tampil lebih menarik, profesional, dan efektif menjangkau calon konsumen.

Memanfaatkan QRIS BRI: Efisiensi Transaksi Bisnis

Selain dari sisi pemasaran digital, Rumah BUMN BRI juga mendorong penerapan digitalisasi perbankan untuk mempermudah transaksi bisnis Malika. Saat ini, Tetti telah mengadopsi metode pembayaran nontunai menggunakan QRIS BRI, yang sangat membantu efisiensi usahanya terutama saat mengikuti bazar-bazar UMKM. Proses transaksi kini menjadi jauh lebih praktis dan instan. Tetti hanya perlu menyimpan gambar kode QRIS di dalam ponselnya. Ketika ada pelanggan yang ingin membeli produk egg roll, kapit, atau cheese stick miliknya, mereka cukup memindai kode tersebut dari layar ponsel Tetti. Kemudahan ini berawal dari pertemuan Tetti dengan pihak BRI saat menghadiri sebuah acara di Kementerian Perindustrian. "Ketemu temen BRI, ya udah diajak. Udah bikin rekening BRI, langsung bikin QRIS," jelasnya, menandai integrasi bisnisnya dengan ekosistem digital BRI.

Harapan Bisa Ekspor: Visi Malika Mendunia

Usaha Camilan Sehat Malika Tembus Ritel Modern hingga Apotek

Ke depan, Tetti berharap bisa konsisten menghadirkan camilan sehat yang inovatif. Ia ingin terus mengangkat potensi bahan baku lokal murni dari pangan Indonesia agar bisa memenuhi permintaan pasar akan produk yang lebih menyehatkan. "Ke depan sih harapannya bisa memenuhi keinginan pasar terkait kebutuhan-kebutuhan yang lebih sehat. Dan juga ya bisa mengeksplor produk-produk Indonesia," tuturnya. Selain itu, ia juga menyimpan harapan besar agar produk inovatifnya ini kelak bisa menembus pasar ekspor. "Nanti kalau ada rezeki dan direstui oleh Tuhan Yang Maha Esa, mudah-mudahan kita bisa ekspor. Jadi bisa memenuhi keinginan dari teman-teman di luar sana, untuk menunjukkan ‘ini lho egg roll produk Indonesia," ungkapnya optimistis, menggambarkan ambisinya membawa produk Indonesia ke kancah global.

Tetti juga sengaja memilih nama brand "Malika" karena dinilai memiliki sebutan yang universal dan ramah di telinga masyarakat global, sejalan dengan visi bisnisnya yang ingin mendunia. "Malika itu kayaknya nama yang sangat general untuk di semua wilayah Indonesia, India, sampai Middle East (Timur Tengah). Kok kayaknya bagus, gampang diucapkan, dan gampang diingat juga. Di negara-negara Asia, nama Malika itu cukup familiar," jelasnya. Selain itu, logo kemasannya pun dipermanis dengan lambang karakter anak kecil. Melalui simbol tersebut, Tetti ingin menegaskan pesan inklusif bahwa seluruh produk camilan sehatnya sangat aman dan cocok dikonsumsi oleh semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga segala usia.

Maksimalkan Promosi di Media Sosial: Kunci Visual yang Menarik

Sementara itu, Yoga C Harman, CRM Loyalty Partnership Lead Eraspace yang hadir sebagai narasumber dalam pelatihan yang diikuti Tetti, memberikan saran krusial agar UMKM memaksimalkan konten visual sebagai sarana promosi di media sosial. Menurutnya, konten visual memegang peranan krusial untuk menarik perhatian konsumen. Namun, proses pembuatannya tidak boleh asal-asalan. Yoga membagikan formula penting mengenai bagaimana kualitas visual dapat memengaruhi psikologi konsumen untuk berkunjung. "Ketika ingin membuat konten produk, gunakan warna yang konsisten karena hal itu merupakan bagian dari branding usaha kita. Selain itu, visual harus terlihat terang dan jernih, jangan sampai menggunakan frame yang berkualitas buruk. Kualitas visual ini sangat memengaruhi komunikasi kita dengan audiens dan menentukan apakah mereka tertarik untuk berkunjung kembali ke platform kita atau tidak," jelasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya tiga detik pertama dalam sebuah video. Detik-detik awal inilah yang menentukan apakah audiens akan bertahan menonton atau memilih untuk mengabaikannya. "Perhatian audiens harus direbut dalam tiga detik pertama. Formula ini yang membuat pelanggan langsung memahami konteks konten kita secara cepat dalam platform tersebut. Buatlah promosi, rasa, atau spesifikasi produk menonjol di tiga detik pertama video," ungkapnya. Yoga juga merinci formula isi konten yang ideal, yaitu gabungan antara edukasi, hiburan, promo, dan upaya membangun kepercayaan. Agar proses produksi efisien, ia menyarankan metode baking content atau memproduksi stok konten dalam jumlah banyak sekaligus. "Formula konten yang baik adalah mengombinasikan edukasi, sedikit hiburan untuk meningkatkan interaksi, selingan promo, serta upaya membangun kepercayaan bahwa produk kita memang layak dibeli. Dalam produksinya, kita bisa menerapkan metode baking content. Jadi, saat melakukan syuting, kita tidak hanya membuat untuk satu kali tayang, melainkan langsung memproduksi beberapa potongan video sekaligus untuk dijadikan konten berseri (series)," terangnya. Namun, Yoga mengingatkan bahwa tujuan utama pembuatan konten bukanlah sekadar mengejar keviralannya. Konsistensi waktu dan frekuensi tayang jauh lebih berdampak pada stabilitas penjualan bisnis. "Lebih baik fokus pada konsistensi, misalnya berkomitmen mengunggah konten setiap hari pada jam 7 malam secara terus-menerus untuk menjangkau waktu aktif audiens," jelasnya.

Go Digital Bersama Rumah BUMN BRI: Mendampingi UMKM Naik Kelas

Pada kesempatan terpisah, Koordinator Rumah BUMN BRI Jajang Rohmana mengonfirmasi bahwa pemilik usaha Malika merupakan UMKM binaan Rumah BUMN BRI. Menurutnya, Rumah BUMN BRI telah menjadi "rumah" yang nyaman bagi UMKM untuk naik kelas. Hingga tahun 2026 ini, Rumah BUMN BRI di bawah naungan BRI KC S Parman telah menaungi sekitar 11.000 UMKM. Dari jumlah tersebut, tercatat ada sekitar 6.000 UMKM yang aktif mengikuti berbagai program pelatihan dan pendampingan, salah satunya Malika. "Tingkatannya terdiri dari Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global. Sebenarnya, kelas Go Digital itu ditujukan untuk mendorong UMKM agar siap menguasai pasar global. Namun, karena tidak semua jenis produk bisa diekspor ke luar negeri, fokus utama kami saat ini adalah mengoptimalkan proses digitalisasi," jelasnya.

Jajang mengungkapkan Rumah BUMN BRI hadir sebagai wadah bagi para pelaku usaha lokal untuk berkembang. Pihaknya berkomitmen memberikan pembinaan secara gratis untuk membantu menemani UMKM dari awal hingga naik kelas. "Program kami bukan hanya sebatas pelatihan, tetapi ada juga program-program lain yang memfasilitasi perkembangan UMKM, salah satunya pengurusan legalitas. Karena permasalahan UMKM itu banyak dan bermacam-macam, jadi program-program di Rumah BUMN dirancang untuk melengkapi semua kebutuhan tersebut," jelasnya, menegaskan peran komprehensif Rumah BUMN BRI dalam mendukung ekosistem UMKM Indonesia. Kisah sukses Malika menjadi bukti nyata bagaimana sinergi antara inovasi produk lokal dan dukungan strategis dari lembaga seperti BRI dapat mendorong UMKM mencapai pasar yang lebih luas dan mewujudkan ambisi global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *