Kilau Emas Cikini Meredup Jelang Lebaran 2026: Pasar Bergeser, Pembeli Kian Selektif

Reportase.TV, Jakarta – Suasana di Cikini Gold Center (CGC), salah satu sentra perdagangan emas terbesar dan tertua di Jakarta Pusat, terpantau sepi pembeli pada Sabtu, 7 Maret 2026. Fenomena ini cukup mengejutkan mengingat momen jelang Lebaran, khususnya di akhir pekan, biasanya menjadi puncak keramaian bagi masyarakat yang berburu emas, baik dalam bentuk batangan murni maupun perhiasan. Kontras dengan tahun-tahun sebelumnya yang dipenuhi hiruk-pikuk transaksi, aktivitas di lorong-lorong pusat perbelanjaan emas ini kini cenderung lengang, mencerminkan pergeseran signifikan dalam perilaku konsumen dan dinamika pasar.

Adrian, salah seorang penjaga toko yang telah puluhan tahun berkecimpung dalam jual-beli emas batangan di CGC, mengungkapkan kepada detikcom bahwa kenaikan penjualan menjelang Lebaran tahun ini jauh dari ekspektasi. "Untuk hari ini kenaikannya nggak terlalu ramai. Paling kalau dibandingkan dengan biasanya, sekarang baru naik sekitar 5-10%. Kalau tahun sebelumnya lebih ramai, bisa mencapai 30-50% peningkatan transaksi dalam periode yang sama," ujarnya dengan nada prihatin. Penurunan drastis ini mengindikasikan adanya faktor-faktor fundamental yang memengaruhi daya beli masyarakat dan prioritas investasi mereka.

Lebih lanjut, Adrian menjelaskan bahwa meskipun pasar lesu, ada pola pembelian yang menarik. Pengunjung yang datang mayoritas masih mencari logam mulia berukuran kecil hingga sedang, yaitu ukuran 0,5 gram, 1 gram, hingga 10 gram. Emas batangan dengan gramasi kecil ini cenderung lebih diminati karena harganya yang terjangkau dan fleksibilitasnya sebagai alat investasi maupun hadiah. Harga emas batangan Antam 1 gram pada tanggal 7 Maret 2026 terpantau di kisaran Rp 1.280.000, sementara untuk pecahan 0,5 gram bisa mencapai Rp 700.000, sedikit lebih tinggi per gramnya karena biaya produksi dan sertifikasi.

"Kalau yang beli di atas 10 gram ada saja, cuma jumlahnya nggak banyak. Malah banyak juga yang carinya itu memang gramasi kecil kaya 1 gram, tapi beli sampai 10 keping. Jadi jarang yang beli gramasi langsung besar kecuali memang untuk investasi jangka panjang atau kaya buat nanti beli rumah atau nikah," terang Adrian. Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian besar pembeli emas di CGC saat ini adalah investor ritel atau mereka yang memiliki tujuan finansial spesifik dengan anggaran terbatas, bukan lagi pembeli besar yang mencari keuntungan cepat dari fluktuasi harga emas.

Pembelian emas berukuran kecil dalam jumlah banyak, menurut Adrian, memiliki keuntungan dan kekurangannya sendiri, sangat bergantung pada tujuan pembelian emas tersebut. Keuntungannya adalah likuiditas yang lebih tinggi. Emas pecahan kecil lebih mudah dijual kembali sesuai kebutuhan tanpa harus melepas seluruh investasi dalam jumlah besar. Selain itu, membeli secara bertahap dalam pecahan kecil juga merupakan strategi ‘dollar-cost averaging’ yang populer di kalangan investor, di mana mereka membeli aset secara teratur untuk mengurangi risiko fluktuasi harga. Namun, kekurangannya adalah premium harga per gram yang lebih tinggi untuk pecahan kecil dibandingkan dengan emas batangan gramasi besar. Semakin kecil pecahan emas, semakin tinggi biaya cetak dan sertifikasi yang dibebankan per gramnya.

Kondisi sepi di Cikini Gold Center bukan hanya dirasakan oleh Adrian. Pedagang perhiasan emas di lorong lain, Ibu Tina, yang telah berjualan di CGC selama lebih dari 25 tahun, juga mengeluhkan hal serupa. "Sudah beberapa Lebaran terakhir memang tidak seramai dulu. Dulu, seminggu sebelum Lebaran, toko kami bisa buka sampai malam dan pembeli silih berganti. Sekarang, kadang seharian hanya melayani beberapa pembeli saja," kata Ibu Tina sambil merapikan etalase perhiasannya. Ia menambahkan bahwa perhiasan yang paling banyak dicari saat ini adalah model-model sederhana dengan berat ringan, atau yang memiliki nilai investasi yang jelas. "Perhiasan berat dan mewah sudah jarang yang cari, mungkin karena harga emas yang tinggi dan prioritas masyarakat beralih ke kebutuhan pokok," imbuhnya.

Lesunya pasar emas fisik di Cikini Gold Center ini dapat dianalisis dari beberapa sudut pandang ekonomi makro dan mikro. Dari sisi makro, kondisi ekonomi global dan domestik pada awal tahun 2026 masih menunjukkan ketidakpastian. Inflasi yang masih tinggi di beberapa negara besar dan kebijakan suku bunga acuan bank sentral yang belum stabil, turut memengaruhi harga emas dunia. Meskipun emas sering dianggap sebagai aset lindung nilai (safe haven) saat ekonomi bergejolak, harga yang sudah terlampau tinggi dapat membuat calon pembeli menunda keputusan investasi, menunggu koreksi harga atau mengalihkan dananya ke instrumen investasi lain yang dianggap lebih menjanjikan dalam jangka pendek, seperti deposito berbunga tinggi atau saham-saham pilihan.

Prof. Dr. Retno Wulandari, seorang pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, berpendapat bahwa pergeseran perilaku konsumen ini adalah cerminan dari adaptasi terhadap tantangan ekonomi modern. "Masyarakat kini lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang tunai, terutama untuk pembelian aset non-primer. Prioritas mereka beralih ke stabilitas finansial jangka pendek, seperti memenuhi kebutuhan Lebaran dan tabungan darurat. Emas, meskipun tetap menjadi pilihan investasi yang kuat, mungkin dianggap sebagai ‘kemewahan’ yang bisa ditunda di tengah tekanan ekonomi," jelas Prof. Retno dalam wawancara terpisah. Ia juga menyoroti peran platform investasi emas digital yang semakin populer. "Kemudahan membeli dan menjual emas secara online, bahkan dengan pecahan yang sangat kecil mulai dari 0,01 gram, telah menggeser sebagian pasar dari toko fisik seperti Cikini Gold Center," tambahnya.

Cikini Gold Center sendiri memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat perdagangan emas terkemuka di Jakarta. Berdiri sejak puluhan tahun lalu, tempat ini menjadi saksi bisu pasang surutnya perekonomian Indonesia. Dulu, CGC adalah destinasi utama bagi masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari investor kakap hingga ibu rumah tangga yang ingin membeli perhiasan atau menabung emas. Kepercayaan terhadap toko-toko di CGC, dengan reputasi yang terbangun puluhan tahun, menjadi daya tarik utama. Namun, dengan munculnya berbagai pusat perbelanjaan modern yang juga menyediakan toko emas, serta maraknya platform e-commerce dan aplikasi investasi emas, CGC menghadapi persaingan yang semakin ketat.

Inovasi dan adaptasi menjadi kunci bagi para pedagang di CGC untuk bertahan. Beberapa toko mulai merambah penjualan online, menawarkan layanan purna jual yang lebih baik, atau memberikan edukasi kepada konsumen tentang keuntungan berinvestasi emas. Namun, tantangan terbesar tetaplah mengembalikan keramaian dan atmosfer transaksi yang pernah menjadi ciri khas Cikini Gold Center. Daya tarik fisik dari berbelanja emas, seperti bisa melihat langsung produk, tawar-menawar harga, dan membangun hubungan personal dengan pedagang, masih menjadi nilai tambah yang tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh platform digital.

Meskipun demikian, harapan tetap ada. Emas, dengan segala sejarah dan nilainya, akan selalu memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Indonesia, baik sebagai investasi, simbol status, maupun bagian dari tradisi. Fenomena lesunya pasar emas di Cikini Gold Center menjelang Lebaran 2026 ini mungkin bukan akhir dari segalanya, melainkan sebuah fase transisi yang menuntut adaptasi. Para pedagang di Cikini harus lebih proaktif dalam memahami perubahan perilaku konsumen, merangkul teknologi, dan terus memberikan nilai tambah yang unik agar kilau emas di Cikini Gold Center tidak benar-benar meredup dan tetap menjadi destinasi pilihan bagi para pemburu logam mulia di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *