Reportase.TV, Jakarta – PT Pertamina Hulu Energi Sulawesi Lavender (PHE SL), sebuah entitas di bawah naungan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) selaku Subholding Upstream Pertamina, secara resmi mengukir langkah penting dalam upaya eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia. Perusahaan tersebut telah menandatangani Kontrak Kerja Sama (KKS) atau Production Sharing Contract (PSC) untuk Wilayah Kerja (WK) Lavender. Penandatanganan ini merupakan manifestasi nyata dari komitmen pemerintah dan Pertamina untuk terus mencari dan mengembangkan cadangan migas baru demi menjamin keberlanjutan pasokan energi nasional di masa mendatang. Dengan total luas mencapai 8.206,95 kilometer persegi, WK Lavender menjadi harapan baru bagi peningkatan produksi migas di tanah air, menjangkau area strategis baik di lepas pantai maupun daratan Sulawesi.
Wilayah Kerja Lavender membentang luas, mencakup area lepas pantai (offshore) dan daratan (onshore) di Sulawesi Selatan, serta sebagian area lepas pantai Sulawesi Tenggara. Lokasi yang strategis ini menempatkan WK Lavender sebagai prospek menjanjikan, mengingat potensi geologi di kawasan timur Indonesia yang diperkirakan masih menyimpan kekayaan hidrokarbon yang belum terjamah secara optimal. Luas wilayah kerja yang signifikan ini menegaskan skala ambisius dari proyek eksplorasi yang akan segera bergulir, menunjukkan keseriusan PHE dalam mengidentifikasi dan mengembangkan potensi migas di wilayah-wilayah frontier. Area ini diyakini memiliki formasi geologi yang kompleks namun kaya, menjadikannya target utama bagi para eksplorator.
Sebagai bentuk komitmen awal, nilai total investasi pasti yang disepakati dalam PSC WK Lavender mencapai US$ 2,8 juta. Angka ini dialokasikan untuk serangkaian kegiatan eksplorasi yang terencana dan sistematis dalam kurun waktu tiga tahun pertama masa eksplorasi. Rencana tersebut mencakup pelaksanaan Studi Geologi dan Geofisika (G&G) yang komprehensif, yang akan melibatkan analisis mendalam terhadap data-data bawah permukaan bumi untuk memahami struktur geologi dan potensi keberadaan migas. Selain itu, komitmen juga mencakup akuisisi data Seismik 2D sepanjang 100 kilometer, sebuah metode survei yang penting untuk mendapatkan gambaran awal penampang geologi. Yang tak kalah vital adalah akuisisi Seismik 3D seluas 200 kilometer persegi, yang akan memberikan citra tiga dimensi bawah permukaan bumi dengan resolusi tinggi, sangat krusial untuk mengidentifikasi perangkap-perangkap hidrokarbon secara lebih akurat dan detail.
Prosesi penandatanganan PSC WK Lavender ini melibatkan figur-figur kunci di sektor hulu migas nasional. Direktur PT Pertamina Hulu Energi Sulawesi Lavender, Ruby Mulyawan, menandatangani dokumen penting tersebut bersama Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, di Jakarta pada tanggal 11 Februari 2026. Momen bersejarah ini kemudian diperkuat dengan penandatanganan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, pada tanggal 17 Maret 2026. Kehadiran dan dukungan dari level kementerian menggarisbawahi pentingnya proyek ini bagi agenda energi nasional, sekaligus menjadi tonggak awal dimulainya kegiatan eksplorasi migas di wilayah tersebut. Dukungan penuh dari pemerintah pusat menunjukkan sinergi kuat antara regulator dan pelaku industri dalam mewujudkan tujuan bersama.
Dalam pernyataannya, Ruby Mulyawan mengungkapkan bahwa WK Lavender merupakan wilayah kerja baru keenam yang berhasil ditandatangani oleh anak perusahaan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sejak tahun 2023. Capaian ini tidak hanya menunjukkan dinamisme dan agresivitas PHE dalam memperluas portofolio eksplorasi mereka, tetapi juga mencerminkan determinasi perusahaan untuk terus mencari temuan dan cadangan minyak dan gas (migas) baru di seluruh penjuru Indonesia. Agresivitas ini menjadi sangat krusial mengingat tantangan penurunan produksi dari lapangan-lapangan migas yang sudah matang dan kebutuhan mendesak untuk menemukan sumber daya baru guna memenuhi permintaan energi yang terus meningkat.
Ruby menambahkan bahwa langkah strategis ini sejalan dengan upaya Pemerintah Indonesia dalam mendorong peningkatan investasi di sektor energi, khususnya subsektor hulu migas. Peningkatan investasi ini adalah bagian integral dari strategi penguatan ketahanan energi nasional. Dalam konteks geopolitik dan ekonomi global yang fluktuatif, ketahanan energi telah menjadi prioritas utama bagi setiap negara. Indonesia, sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat, membutuhkan pasokan energi yang stabil dan terjangkau untuk menopang pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian, investasi dalam eksplorasi migas bukan hanya sekadar langkah bisnis, tetapi juga sebuah mandat nasional.
"Ketahanan energi nasional bukan pilihan, tapi keharusan. PHE berdiri di garis depan untuk memastikan produksi migas tetap terjaga hari ini, sambil menyiapkan energi masa depan Indonesia," tegas Ruby Mulyawan dalam keterangan tertulis yang diterima pada Jumat, 17 April 2026. Pernyataan ini menegaskan komitmen PHE sebagai garda terdepan dalam menjaga pasokan energi negara, baik untuk kebutuhan jangka pendek maupun untuk fondasi energi jangka panjang. Ini adalah panggilan untuk bertindak proaktif dalam menghadapi tantangan energi masa depan, yang tidak hanya meliputi ketersediaan sumber daya fosil tetapi juga transisi menuju energi yang lebih bersih.
Perolehan Wilayah Kerja Lavender dilakukan melalui mekanisme penawaran langsung dalam Indonesia Petroleum Bidding Round (IPBR) Tahap 2 Tahun 2025. Mekanisme penawaran langsung ini sering kali diterapkan untuk wilayah-wilayah yang memerlukan pendekatan khusus atau yang dianggap memiliki potensi strategis tinggi, memungkinkan pemerintah untuk memilih kontraktor yang paling sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. PSC WK Lavender sendiri menggunakan skema Cost Recovery, sebuah model kontrak yang umum digunakan dalam industri hulu migas di mana biaya-biaya operasional yang dikeluarkan oleh kontraktor dapat diganti oleh negara dari hasil produksi migas. Skema ini memberikan insentif bagi kontraktor untuk berinvestasi dalam eksplorasi dan produksi, dengan negara tetap mempertahankan kepemilikan atas sumber daya alam. Jangka waktu kontrak yang disepakati adalah 30 tahun, memberikan kepastian investasi jangka panjang bagi PHE SL untuk mengembangkan wilayah kerja tersebut secara optimal.
Sebelum penandatanganan PSC secara resmi, kontraktor telah memenuhi seluruh kewajiban finansial sesuai ketentuan yang berlaku. Kewajiban tersebut mencakup pembayaran bonus tanda tangan sebesar US$ 200.000, sebuah pembayaran di muka yang menjadi pendapatan langsung bagi negara. Selain itu, kontraktor juga telah menyerahkan jaminan pelaksanaan kepada Pemerintah melalui SKK Migas. Jaminan pelaksanaan ini berfungsi sebagai bentuk komitmen finansial yang memastikan bahwa kontraktor akan melaksanakan program kerja yang telah disepakati sesuai jadwal dan target. Ini adalah praktik standar dalam industri untuk memastikan bahwa hanya pihak-pihak yang serius dan memiliki kapasitas finansial yang memadai yang dapat mengelola wilayah kerja migas.
Sebagai Subholding Upstream Pertamina, PHE menegaskan komitmennya untuk terus berinvestasi dalam pengelolaan operasi dan bisnis hulu migas sesuai dengan prinsip-prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Penerapan prinsip ESG bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan dalam operasional bisnis modern, terutama di sektor energi yang memiliki dampak signifikan terhadap lingkungan dan masyarakat.
Dalam konteks Lingkungan (Environmental), PHE berkomitmen untuk mengelola dampak operasional terhadap lingkungan dengan standar tertinggi. Ini mencakup penerapan teknologi eksplorasi yang ramah lingkungan untuk meminimalkan jejak karbon, pengelolaan limbah yang bertanggung jawab, serta perlindungan keanekaragaman hayati di sekitar area operasi. Survei seismik, misalnya, akan dilakukan dengan metode yang meminimalkan gangguan terhadap ekosistem laut dan darat. Analisis dampak lingkungan (AMDAL) yang ketat akan menjadi bagian integral dari setiap tahapan proyek.
Aspek Sosial (Social) juga menjadi prioritas utama. PHE berupaya untuk membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat sekitar wilayah operasi. Ini diwujudkan melalui program pengembangan masyarakat (Community Development) yang berkelanjutan, peningkatan kapasitas lokal, serta prioritas dalam penyerapan tenaga kerja lokal. Perusahaan akan memastikan bahwa komunikasi dengan pemangku kepentingan lokal berlangsung transparan dan inklusif, sehingga manfaat dari kehadiran operasi migas dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat sekitar. PHE juga akan menerapkan prosedur akuisisi lahan yang adil dan transparan, serta mekanisme penyelesaian keluhan yang efektif.
Terakhir, dalam hal Tata Kelola Perusahaan (Governance), PHE senantiasa berkomitmen pada prinsip "Zero Tolerance on Bribery" dengan memastikan pencegahan atas segala bentuk praktik fraud dilakukan secara sistematis. Komitmen ini diwujudkan melalui implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang telah terstandarisasi ISO 37001:2016. Sertifikasi ini membuktikan bahwa PHE memiliki kerangka kerja yang kuat untuk mencegah, mendeteksi, dan menanggulangi praktik penyuapan, sehingga menjamin operasi yang bersih, transparan, dan akuntabel. Tata kelola yang baik ini sangat penting untuk membangun kepercayaan investor, regulator, dan masyarakat luas, serta untuk menjaga reputasi perusahaan di kancah global.
"PHE terus mengembangkan pengelolaan operasi yang prudent dan excellent di dalam dan luar negeri secara profesional untuk mewujudkan pencapaian menjadi perusahaan minyak dan gas bumi kelas dunia yang Environmentally Friendly, Socially Responsible, dan Good Governance," pungkas Ruby. Visi ini menggambarkan ambisi PHE tidak hanya sebagai penyedia energi, tetapi juga sebagai pemimpin industri yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Dengan penandatanganan kontrak WK Lavender ini, PHE menegaskan kembali perannya sebagai pilar utama ketahanan energi nasional dan pemain global yang menjunjung tinggi nilai-nilai keberlanjutan dan integritas. Harapannya, proyek eksplorasi di WK Lavender akan segera membuahkan hasil, membuka babak baru dalam sejarah industri migas Indonesia, dan memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian serta kesejahteraan rakyat.












