Reportase.TV, Jakarta – Sebuah gelombang kepedulian yang menginspirasi telah menyapu Kota Semarang menjelang perhelatan akbar konser "Hey Slank X HS Berani Kita Beda". Peristiwa yang mengikat erat semangat persatuan, empati, dan aksi nyata ini digagas oleh Muhammad Suryo, pemilik perusahaan rokok HS asal Yogyakarta, yang menggandeng grup musik legendaris Slank untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan. Fokus utama aksi ini adalah para mahasiswa asal Sumatera yang sedang menuntut ilmu di Asrama Mahasiswa Aceh Pocut Meurah Intan, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Mereka adalah bagian dari komunitas yang secara langsung maupun tidak langsung terdampak parah oleh serangkaian bencana alam yang melanda kampung halaman mereka di berbagai wilayah Sumatera.
Inisiatif kemanusiaan yang bertajuk ‘Riding untuk Berbagi’ ini bukan sekadar seremoni penyerahan bantuan, melainkan sebuah pernyataan kuat tentang solidaritas. Dengan gaya khas Slank yang merakyat dan HS yang inovatif, rombongan konvoi Vespa dan skuter yang berjumlah seratusan pengendara dari berbagai komunitas skuter Semarang turut memeriahkan suasana. Mereka berkumpul, bersemangat, dan bersama-sama mengiringi perjalanan menuju asrama mahasiswa. Muhammad Suryo, sebagai pucuk pimpinan HS, secara langsung memimpin iring-iringan, diikuti oleh Bimbim yang ikonik dengan drumnya, serta Kaka, sang vokalis yang kharismatik, menciptakan pemandangan yang tak biasa di jalanan kota. Konvoi kendaraan roda dua ini membentuk barisan panjang yang mengular, menarik perhatian warga dan menjadi simbol perjalanan kepedulian yang bergerak nyata di jantung ibu kota Jawa Tengah.
Sebelum tiba di Asrama Aceh, rombongan sempat berputar mengelilingi ikon-ikon Kota Semarang yang paling dikenal, menambah semarak dan pesan yang ingin disampaikan. Dimulai dari Tugu Muda yang bersejarah, hingga ke pusat keramaian Simpang Lima yang selalu ramai, setiap putaran rombongan menjadi penanda bahwa kepedulian ini adalah milik bersama, bagian dari denyut nadi kota. Pemandangan puluhan bahkan seratusan Vespa beriringan, dengan bendera Slank dan logo HS berkibar, memancarkan energi positif yang menular. Momen ini bukan hanya tentang menyalurkan bantuan, tetapi juga tentang membangkitkan semangat kebersamaan dan kegembiraan di tengah duka. Masyarakat yang menyaksikan konvoi tersebut turut merasakan getaran solidaritas, menjadi saksi bisu dari sebuah gerakan yang menggabungkan musik, komunitas otomotif, dan semangat kemanusiaan.
Setibanya di Asrama Mahasiswa Aceh, rombongan disambut dengan hangat oleh seratusan mahasiswa yang datang dari berbagai latar belakang komunitas. Tidak hanya Ikatan Pelajar Aceh Semarang (IPAS), tetapi juga Ikatan Mahasiswa Minang (IKAMI), Himpunan Mahasiswa Sumatera Utara (HIMSU), serta perwakilan dari Ikatan Masyarakat Aceh. Suasana yang tadinya penuh duka karena kabar bencana dari kampung halaman, seketika berubah menjadi haru bercampur bahagia. Sorak-sorai dan tepuk tangan menyambut kedatangan HS dan Slank, menunjukkan betapa besar arti kunjungan ini bagi mereka. Bagi para mahasiswa perantau yang sedang jauh dari keluarga, kehadiran tokoh-tokoh inspiratif seperti Muhammad Suryo dan anggota Slank adalah suntikan semangat yang tak ternilai harganya. Mereka merasa tidak sendiri dalam menghadapi cobaan.
Muhammad Suryo dan Kaka Slank kemudian menyampaikan duka mendalam atas bencana yang menimpa Sumatera, sebuah tragedi banjir dan longsor yang telah merenggut banyak korban jiwa dan menghancurkan kehidupan. Seraya menyampaikan simpati, mereka menyerahkan bantuan berupa kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, mi instan, serta perlengkapan mandi, dan juga alat tulis lengkap seperti buku, pulpen, dan tas sekolah. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban ekonomi para mahasiswa yang kiriman uangnya mungkin terhambat atau terhenti akibat kondisi darurat di daerah asal. "Ini adalah bentuk kepedulian tulus dari HS dan Slank untuk saudara-saudara kita dari Sumatera yang sedang tertimpa bencana. Kami menyadari bahwa dampak bencana ini tidak hanya dirasakan oleh mereka yang ada di Sumatera, tetapi juga adik-adik mahasiswa di sini yang pasti merasakan dampaknya secara emosional dan finansial. Untuk itu, kami hadir untuk membantu," ujar Suryo dengan nada penuh empati dalam keterangan tertulisnya pada Minggu (14/12/2025).
Suryo, yang memiliki pengalaman pribadi sebagai perantau dari Bengkulu ke Yogyakarta saat masih kuliah, memahami betul bagaimana perjuangan hidup di tanah rantau. Ia tahu persis tantangan dan rintangan yang harus dihadapi demi mengejar mimpi, apalagi jika keluarga di kampung halaman sedang dilanda kesulitan akibat bencana alam. Pengalaman tersebut memperkuat tekadnya untuk memberikan dukungan kepada mahasiswa-mahasiswa perantau yang sedang mengalami hal serupa. "Semoga, bantuan ini dapat bermanfaat dan mampu meringankan beban adik-adik mahasiswa asal Sumatera yang sedang menimba ilmu di Semarang ini. Mereka yang mungkin mengalami keterlambatan kiriman uang dari keluarga akibat bencana, kini bisa sedikit lebih tenang untuk terus fokus belajar dan mewujudkan cita-cita mereka di sini," jelasnya, menyoroti aspek psikologis dari bantuan yang diberikan.
Suasana di Asrama Aceh semakin akrab dan mengharukan ketika seorang mahasiswi asal Sumatera Barat memberanikan diri untuk menunjukkan bakatnya menyanyikan sebuah lagu daerah yang penuh makna. Suaranya yang merdu dan lirik lagu yang menyentuh hati berhasil memukau hadirin. Kaka, sang vokalis Slank, tampak memperhatikan dengan serius, menikmati setiap nada dan kata yang terlontar, seolah ikut merasakan kedalaman emosi yang disampaikan melalui lagu tersebut. Momen ini menjadi jembatan emosional yang kuat antara seniman dan mahasiswa, menunjukkan bahwa musik adalah bahasa universal yang mampu menyatukan hati.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi dialog singkat yang interaktif dan penuh kehangatan. Kaka, mewakili seluruh personel Slank, menyampaikan salam dari Ivan K (bass), Abdee (gitar), dan Ridho (gitar) yang tidak dapat bergabung dalam silaturahmi langsung ke Asrama Aceh karena kesibukan lain. Namun, semangat kepedulian mereka tetap terwakili. "Salam dari Abdee, Ridho, dan Ivan. Kami, kita semua, ikut berduka atas musibah bencana ini. Namun, kami percaya, dengan semangat kebersamaan dan saling bantu, insya Allah semua bisa kita lalui dan bangkit kembali," kata Kaka, memberikan semangat yang mengalir dari hati. Ia juga tidak lupa memberikan motivasi khusus kepada para mahasiswa yang sedang berjuang di tanah rantau. "Saya cuma ingin adik-adik, anak-anakku, adik-adikku yang sedang kuliah di Semarang ini tetap semangat, fokus pada kuliahnya. Anggaplah ujian ini, termasuk cobaan bencana yang menimpa keluarga, sebagai bagian dari proses yang akan membuat kalian makin kuat dan tangguh menghadapi masa depan," tambahnya, dengan sorot mata penuh perhatian.
Para mahasiswa yang merasa terhibur dan terinspirasi kemudian menyampaikan permintaan spontan kepada Slank untuk menyanyikan sebuah lagu. Tanpa ragu, Kaka langsung mengambil mikrofon. Dengan penuh semangat, ia mulai menyanyikan refrain dari salah satu lagu hits Slank yang paling populer, "Ku Tak Bisa" dari Album PLUR. Lirik "Ku tak bisa, jauh, jauh, darimu!" yang dilantunkan Kaka, seketika menjadi koor bersama yang membahana di seluruh ruangan. Seluruh mahasiswa dan rombongan ikut bernyanyi, menciptakan momen kebersamaan yang tak terlupakan. Tepuk tangan meriah pun pecah, mengisi ruangan dengan kegembiraan dan energi positif. Lagu ini seolah menjadi representasi perasaan mereka yang tidak bisa jauh dari harapan, dari semangat, dan dari kepedulian yang baru saja mereka terima. Momen ini menjadi puncak emosional dari kunjungan tersebut, di mana musik mampu menyembuhkan luka dan menyatukan jiwa.
Setelah momen yang penuh kehangatan dan inspirasi itu, rombongan HS dan Slank pun berpamitan. Kaka kembali mengajak para mahasiswa untuk hadir dalam konser "Hey Slank X HS Berani Kita Beda" yang akan diselenggarakan pada malam harinya. "Kami hadir untuk sedikit menghibur, untuk sejenak memberikan ‘healing’ dari duka yang ada. Silakan nanti malam datang ke konser kami di Stadion Diponegoro Semarang. Mari kita rayakan kebersamaan dan bangkit bersama," ajak Kaka, memberikan penutup yang manis. Konser tersebut bukan hanya pertunjukan musik, melainkan juga perayaan semangat kebersamaan dan keberanian untuk berbeda, sejalan dengan nilai-nilai yang diusung oleh HS dan Slank.
Muhammad Haekal Halifah, Ketua Ikatan Pelajar Aceh Semarang (IPAS), tidak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Ia mengaku tidak menyangka bahwa Slank dan HS akan benar-benar datang ke asrama mereka untuk memberikan bantuan dan dukungan moral. Haekal dan teman-temannya, termasuk dari komunitas mahasiswa Sumatera Utara dan Sumatera Barat, sangat senang dan berterima kasih atas kunjungan ini. "Ini adalah bentuk nyata dari semangat saling membantu dan gotong royong yang luar biasa. Bantuan seperti ini sangat berarti bagi kami, bukan hanya dari segi materi, tetapi juga dari segi moral dan semangat," kata Haekal dengan tulus. Ia menjelaskan bahwa proses pendataan terhadap mahasiswa yang keluarganya terdampak bencana masih terus dilakukan. Data terakhir menunjukkan bahwa ada 107 mahasiswa Aceh yang keluarganya terdampak banjir dan longsor, sementara dari Sumatera Utara dan Sumatera Barat, jumlahnya hampir serupa, dan pendataan masih terus berjalan untuk memastikan semua yang membutuhkan dapat terjangkau.
Haekal juga berbagi cerita pilu tentang salah satu teman mereka dari Sumatera Barat yang keluarganya kehilangan sepuluh orang anggota akibat bencana. Sementara itu, beberapa mahasiswa lain masih berjuang untuk bisa menghubungi orang tua mereka di tengah sulitnya akses komunikasi. "Kami sangat berterima kasih kepada HS dan Slank atas kepedulian yang mendalam ini. Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas bantuan ini, yang telah membawa harapan dan kehangatan di tengah masa sulit kami," ucap Haekal, mewakili seluruh mahasiswa yang hadir. Kunjungan ini tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga memberikan pesan bahwa mereka tidak sendiri, bahwa ada banyak pihak yang peduli dan siap mengulurkan tangan. Kisah-kisah ini menjadi pengingat akan dahsyatnya dampak bencana dan betapa pentingnya solidaritas sosial dalam menghadapi masa-masa sulit. Kolaborasi antara entitas bisnis dan seniman seperti HS dan Slank, menjadi contoh nyata bagaimana kekuatan platform yang berbeda dapat disatukan untuk tujuan kemanusiaan yang lebih besar, menciptakan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat.












