Terbakarnya KN SAR Ramawijaya di Docking Muara Baru: Armada Penyelamat Basarnas Mentawai Terpukul, Investigasi Mendalam Dimulai

Reportase.TV, Jakarta – Sebuah insiden kebakaran serius melanda Kapal Negara (KN) SAR Ramawijaya 240, salah satu aset vital milik Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Mentawai, saat sedang menjalani proses perawatan atau docking di Pelabuhan Nizam Zachman, Muara Baru, Jakarta Utara (Jakut). Kejadian yang berlangsung pada Rabu (22/7/2026) malam, sekitar pukul 18.40 WIB, sontak menarik perhatian dan memicu respons cepat dari berbagai pihak berwenang. Beruntungnya, meskipun kobaran api sempat membesar dan menimbulkan kerugian materiil yang tidak sedikit, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Jakarta, Desiana Kartika Bahari, menegaskan bahwa tidak ada korban jiwa dalam insiden tragis ini. Kabar baik ini menjadi sedikit pelipur lara di tengah kerugian yang ditimbulkan.

KN SAR Ramawijaya 240, sebuah kapal dengan panjang mencapai 40 meter, merupakan tulang punggung operasional Basarnas di wilayah Mentawai, Sumatera Barat. Wilayah perairan Mentawai yang dikenal dengan karakteristik geografisnya yang menantang, seringkali menjadi lokasi kejadian kecelakaan laut, bencana alam, dan insiden-insiden yang membutuhkan respons cepat dari tim SAR. Oleh karena itu, keberadaan KN SAR Ramawijaya sangat krusial dalam misi-misi pencarian, penyelamatan, dan evakuasi di kepulauan tersebut. Kapal ini dilengkapi dengan berbagai peralatan canggih untuk mendukung operasi SAR, termasuk alat navigasi modern, peralatan selam, fasilitas medis darurat, serta kapasitas angkut untuk korban dan personel. Sebelum insiden, kapal tersebut tengah menjalani docking tahunan, sebuah prosedur perawatan rutin yang wajib dilakukan untuk memastikan seluruh sistem dan komponen kapal berfungsi optimal dan aman untuk beroperasi. Proses docking ini dilakukan di galangan kapal PT Proskuneo Kadarusman, sebuah fasilitas perawatan kapal yang terletak di area Pelabuhan Nizam Zachman.

Proses docking sendiri adalah serangkaian perawatan komprehensif yang melibatkan pemeriksaan menyeluruh, perbaikan, dan penggantian komponen-komponen kapal yang aus atau rusak. Mulai dari pembersihan lambung kapal dari biota laut, pengecatan ulang, pemeriksaan sistem propulsi, perbaikan mesin, hingga kalibrasi alat-alat navigasi. Selama proses ini, kapal biasanya diangkat dari air menggunakan graving dock atau floating dock, yang memungkinkan akses penuh ke bagian bawah lambung dan sistem-sistem vital yang terendam air. Aktivitas docking seringkali melibatkan pekerjaan berisiko tinggi seperti pengelasan, pemotongan logam, dan penggunaan bahan-bahan kimia yang mudah terbakar, seperti cat dan pelarut. Kondisi inilah yang membuat galangan kapal menjadi lingkungan yang memerlukan standar keselamatan sangat ketat. Kebakaran yang terjadi pada KN SAR Ramawijaya menunjukkan bahwa meskipun standar telah diterapkan, risiko insiden tetap ada dan dapat terjadi kapan saja.

Api pertama kali dilaporkan berkobar pada pukul 18.40 WIB, saat sebagian besar aktivitas pekerja di galangan kapal mungkin sudah mulai mereda atau berganti sif. Detik-detik awal kebakaran seringkali menjadi penentu seberapa cepat api dapat dikendalikan. Dalam situasi kapal yang sedang docking, tantangan pemadaman bisa sangat kompleks. Ruang-ruang sempit di dalam kapal, keberadaan material yang mudah terbakar seperti kabel, insulasi, dan sisa-sisa bahan perawatan, serta potensi kebocoran bahan bakar, dapat mempercepat penyebaran api. Beruntungnya, Desiana Kartika Bahari mengonfirmasi bahwa saat insiden terjadi, tidak ada personel Basarnas yang berada di dalam kapal selain ABK yang sedang melakukan pengawasan rutin dan pegawai dari perusahaan docking. Keberadaan mereka di luar area yang terdampak langsung oleh api menjadi faktor kunci tidak adanya korban jiwa. "Tidak ada korban dalam peristiwa kebakaran tersebut, baik dari ABK yang sedang melakukan pengawasan maupun pegawai dari perusahaan docking kapal," kata Desiana, menegaskan kembali.

Menanggapi laporan kebakaran yang mengkhawatirkan ini, respons darurat segera diaktifkan. Sebanyak 20 unit mobil pemadam kebakaran dari Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta dikerahkan ke lokasi kejadian. Jumlah unit yang masif ini menunjukkan skala dan intensitas kebakaran yang dihadapi. Setiap unit pemadam kebakaran biasanya membawa tim yang terdiri dari beberapa personel, sehingga bisa diperkirakan puluhan hingga ratusan petugas pemadam kebakaran terlibat langsung dalam operasi ini. Mereka bekerja keras di tengah asap tebal dan panas yang menyengat untuk menjinakkan si jago merah. Selain itu, proses pemadaman juga didukung oleh personel rescue dari Kantor SAR Jakarta, khususnya dari Pos SAR Kepulauan Seribu. Keterlibatan tim SAR dalam operasi pemadaman kebakaran kapal sangat penting, tidak hanya untuk membantu memadamkan api, tetapi juga untuk melakukan penilaian risiko, memastikan keselamatan lingkungan maritim, dan siap siaga jika ada kebutuhan evakuasi atau penyelamatan di perairan.

Petugas gabungan dari Gulkarmat dan Basarnas menunjukkan koordinasi yang luar biasa dalam menghadapi insiden ini. Api yang semula berkobar hebat, berkat upaya pemadaman yang dilakukan secara intensif dan tak kenal lelah, akhirnya berhasil dikendalikan. Setelah api pokok padam, proses berlanjut ke tahap "pendinginan." Tahap ini sangat krusial untuk mencegah munculnya kembali titik api yang tersembunyi, terutama di area-area yang sulit dijangkau atau di dalam material yang masih menyimpan panas. Pendinginan melibatkan penyemprotan air atau busa secara terus-menerus ke seluruh bagian yang terbakar hingga suhu permukaan benar-benar turun dan risiko api kembali menyala hilang. Proses ini bisa memakan waktu berjam-jam, bahkan hingga keesokan harinya, tergantung pada skala kebakaran dan jenis material yang terbakar.

Meskipun api telah berhasil dikendalikan dan tahap pendinginan sedang berlangsung, penyebab pasti kebakaran KN SAR Ramawijaya 240 masih menjadi misteri. Desiana Kartika Bahari menyatakan bahwa investigasi lebih lanjut akan diserahkan kepada pihak kepolisian. "Penyebab kebakaran saat ini belum diketahui dan akan diserahkan kepada pihak kepolisian untuk diselidiki," pungkas Desiana. Investigasi oleh kepolisian akan melibatkan tim forensik untuk mengumpulkan bukti-bukti di lokasi kejadian, mewawancarai saksi-saksi mata dari ABK dan pekerja galangan kapal, serta memeriksa rekaman CCTV jika tersedia. Analisis mendalam akan dilakukan terhadap sisa-sisa material yang terbakar, sistem kelistrikan kapal, dan prosedur kerja yang dilakukan sebelum kebakaran terjadi. Tujuan utama investigasi adalah untuk menentukan titik awal api, sumber penyebabnya, dan apakah ada unsur kelalaian atau faktor lain yang berkontribusi pada insiden ini. Hasil investigasi ini akan sangat penting tidak hanya untuk kepentingan hukum, tetapi juga untuk perbaikan standar keselamatan di galangan kapal dan armada Basarnas di masa mendatang.

Insiden ini tentu saja akan memberikan dampak signifikan terhadap operasional Basarnas Mentawai. KN SAR Ramawijaya 240 adalah aset utama mereka, dan kerusakannya berarti akan ada kekosongan sementara dalam kapabilitas pencarian dan penyelamatan di wilayah tersebut. Basarnas kemungkinan besar harus mencari kapal pengganti sementara atau menggeser aset dari daerah lain untuk memastikan layanan SAR di Mentawai tetap optimal. Perbaikan kapal yang rusak parah akibat kebakaran juga akan memakan waktu yang tidak sebentar dan biaya yang tidak sedikit. Ini menjadi pengingat akan pentingnya pemeliharaan aset-aset vital negara dan perlindungan terhadap risiko-risiko yang mungkin terjadi selama proses perawatan. Semoga investigasi dapat segera mengungkap penyebab kebakaran dan langkah-langkah perbaikan dapat segera diambil agar KN SAR Ramawijaya 240 dapat kembali beroperasi melayani masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *