Reportase.TV, Jakarta – Wakil Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan kabar gembira yang mengindikasikan semakin pulihnya kepercayaan investor asing terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Dalam konferensi pers APBN di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (18/12/2025), Purbaya menegaskan bahwa tren positif ini terlihat jelas dari berbagai indikator pasar keuangan, menandai sebuah titik balik setelah periode ketidakpastian global yang sempat mereda. Pernyataan Purbaya memberikan sinyal kuat bahwa upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan reformasi struktural mulai membuahkan hasil, menarik kembali modal-modal asing yang sempat hengkang.
Salah satu bukti konkret yang disorot Purbaya adalah penurunan signifikan selisih imbal hasil atau yield spread antara Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia dan US Treasury, obligasi pemerintah Amerika Serikat. Selisih ini, yang merupakan barometer utama persepsi risiko investor, telah menyusut dari 240 basis poin (bps) di awal tahun 2025 menjadi 197 bps pada pertengahan Desember. Penurunan 43 bps ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan nyata bahwa investor global kini memandang investasi di Indonesia memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Semakin kecil yield spread, semakin menarik suatu aset bagi investor yang mencari pengembalian yang kompetitif dengan risiko yang terukur. Ini menunjukkan bahwa pasar keuangan global mulai mengapresiasi ketahanan ekonomi Indonesia di tengah gejolak global, termasuk ketidakpastian geopolitik dan volatilitas harga komoditas yang sempat mewarnai paruh pertama tahun ini. Konsistensi kebijakan moneter Bank Indonesia dan kebijakan fiskal pemerintah yang pruden menjadi faktor kunci dalam membentuk persepsi positif ini.
Lebih lanjut, Purbaya juga menyoroti kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menunjukkan performa ekspansif. Setelah sempat mengalami tekanan di awal tahun, IHSG menunjukkan penguatan signifikan mulai semester II-2025. Ini mengindikasikan bahwa investor tidak hanya melihat obligasi sebagai instrumen menarik, tetapi juga saham-saham perusahaan di Indonesia. Penguatan IHSG didorong oleh ekspektasi perbaikan kinerja korporasi, didukung oleh pertumbuhan konsumsi domestik yang solid dan investasi yang mulai menggeliat. Sektor-sektor seperti perbankan, konsumer, dan energi menunjukkan resiliensi yang kuat, menjadi lokomotif penggerak indeks. Kepercayaan terhadap prospek pertumbuhan laba perusahaan-perusahaan domestik, didukung oleh fundamental ekonomi yang kokoh, menjadi daya tarik utama bagi investor asing untuk kembali menanamkan modalnya di pasar ekuitas Indonesia.
Data aliran modal asing juga menjadi penegas kuat akan pembalikan tren ini. Purbaya mengungkapkan bahwa setelah sempat mengalami outflow (arus modal keluar) dari pasar SBN, Indonesia kembali mencatat inflow (arus modal masuk) yang substansial di bulan Desember. Secara rinci, investor asing kembali masuk ke SBN sebesar Rp 2,64 triliun. Tidak hanya itu, instrumen Surat Berharga Bank Indonesia (SRBI) juga kebanjiran modal asing dengan inflow mencapai Rp 21,17 triliun. Pasar saham pun tidak ketinggalan, mencatat inflow sebesar Rp 3,49 triliun di bulan yang sama. Total inflow yang signifikan ini, khususnya di akhir tahun, mengirimkan pesan optimisme yang kuat. Ini menunjukkan bahwa keputusan investor asing untuk kembali ke Indonesia tidak hanya bersifat sporadis, melainkan merupakan pergeseran strategi yang lebih terencana, melihat Indonesia sebagai destinasi investasi yang menjanjikan di tengah ketidakpastian global.
Peningkatan kepercayaan investor asing ini tidak datang begitu saja. Serangkaian kebijakan strategis dan fundamental ekonomi yang kuat menjadi fondasi utama. Pertama, stabilitas makroekonomi yang terjaga. Pemerintah, bekerja sama dengan Bank Indonesia, berhasil mengendalikan inflasi di level yang moderat meskipun tekanan harga komoditas global sempat meningkat. Kebijakan moneter yang terukur dan responsif, serta kebijakan fiskal yang disiplin, memastikan bahwa ekonomi Indonesia tetap berada di jalur pertumbuhan yang berkelanjutan tanpa overheating. Defisit APBN yang terkendali dan rasio utang pemerintah terhadap PDB yang masih dalam batas aman memberikan jaminan akan keberlanjutan fiskal.
Kedua, reformasi struktural yang terus berjalan. Pemerintah secara konsisten berupaya meningkatkan iklim investasi melalui penyederhanaan regulasi, kemudahan perizinan, dan penegakan hukum yang lebih baik. Undang-Undang Cipta Kerja, meskipun sempat menuai pro dan kontra, telah menjadi kerangka penting dalam menarik investasi dan menciptakan lapangan kerja. Proyek-proyek infrastruktur strategis yang terus berjalan juga tidak hanya meningkatkan konektivitas dan efisiensi logistik, tetapi juga membuka peluang investasi baru di berbagai sektor. Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) juga menjadi magnet tersendiri, meskipun dalam jangka panjang, untuk menarik investasi baik domestik maupun asing.
Ketiga, pasar domestik yang besar dan solid. Dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa dan kelas menengah yang terus berkembang, Indonesia menawarkan pasar konsumsi yang kuat. Ini menjadi bantalan penting bagi ekonomi di saat ekspor global melambat. Konsumsi rumah tangga yang resilien, didukung oleh tingkat pengangguran yang rendah dan program bantuan sosial yang efektif, menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Kekuatan pasar domestik ini memberikan jaring pengaman bagi perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia, mengurangi ketergantungan pada fluktuasi pasar eksternal.
Keempat, komitmen terhadap hilirisasi sumber daya alam. Program hilirisasi yang digalakkan pemerintah, terutama di sektor mineral seperti nikel, telah menarik investasi besar di industri pengolahan. Ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah produk ekspor Indonesia, tetapi juga menciptakan ekosistem industri baru yang berkelanjutan. Investor melihat potensi jangka panjang dari upaya hilirisasi ini, yang akan mengubah Indonesia dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi pemain penting dalam rantai pasok global untuk produk-produk bernilai tambah tinggi, seperti baterai kendaraan listrik.
Namun, di balik optimisme ini, tantangan tetap ada. Volatilitas ekonomi global, terutama terkait kebijakan suku bunga bank sentral utama seperti The Fed, masih dapat memengaruhi aliran modal. Geopolitik yang terus bergejolak juga dapat menimbulkan ketidakpastian. Oleh karena itu, konsistensi kebijakan pemerintah, baik di bidang moneter maupun fiskal, serta keberlanjutan reformasi struktural, menjadi krusial untuk menjaga momentum positif ini. Para ekonom mengingatkan bahwa kepercayaan investor adalah aset yang harus terus dipupuk melalui transparansi, akuntabilitas, dan kepastian hukum.
Ke depan, pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat fundamental ekonomi. Fokus akan tetap pada peningkatan produktivitas, pengembangan sumber daya manusia, akselerasi transformasi digital, dan transisi menuju ekonomi hijau. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya akan menarik investasi yang bersifat jangka pendek, tetapi juga investasi berkualitas tinggi yang dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan dalam jangka panjang. Pernyataan Purbaya Yudhi Sadewa di akhir tahun 2025 ini menjadi penutup tahun yang optimistis, memberikan harapan akan prospek ekonomi Indonesia yang lebih cerah di tahun-tahun mendatang. Pembalikan tren kepercayaan investor asing ini bukan hanya sekadar angka, melainkan indikasi nyata bahwa Indonesia sedang berada di jalur yang tepat menuju posisi yang lebih kuat di panggung ekonomi global.












