Reportase.TV, Jakarta – Pertamina Patra Niaga, sebagai tulang punggung penyedia energi nasional, melaporkan peningkatan aktivitas pelayanan Avtur yang luar biasa di sejumlah wilayah Sumatera dan Aceh pasca-bencana banjir serta tanah longsor yang melanda. Lonjakan ini secara langsung mencerminkan intensitas upaya penanganan darurat dan pemulihan, terutama dengan meningkatnya frekuensi penerbangan kemanusiaan dan mobilisasi peralatan penting. Fenomena ini bukan sekadar statistik peningkatan konsumsi bahan bakar, melainkan indikator vital dari denyut nadi operasi kemanusiaan yang sedang berlangsung, di mana kecepatan dan ketepatan distribusi bantuan menjadi kunci utama dalam menyelamatkan nyawa dan mempercepat proses rehabilitasi infrastruktur yang vital.
Bencana alam yang melanda beberapa daerah di Sumatera dan Aceh telah menimbulkan dampak kerusakan yang signifikan, memutus akses darat di banyak titik dan menghambat upaya penyaluran bantuan. Dalam situasi kritis seperti ini, jalur udara menjadi satu-satunya atau jalur paling efektif untuk menjangkau korban dan mengirimkan logistik krusial. Pesawat-pesawat pengangkut bantuan, mulai dari bahan makanan, obat-obatan, tenaga medis, hingga peralatan berat untuk pemulihan infrastruktur kelistrikan yang vital, menjadi ujung tombak operasi ini. Oleh karena itu, pasokan Avtur yang stabil dan memadai adalah prasyarat mutlak yang harus dipenuhi, dan Pertamina Patra Niaga telah menunjukkan respons cepat dan adaptif terhadap kebutuhan mendesak ini, mengubah pola operasional mereka untuk mendukung misi kemanusiaan tanpa henti.
Fokus utama dari peningkatan layanan ini terlihat jelas di Aviation Fuel Terminal (AFT) Sultan Iskandar Muda (SIM), Aceh. Group Head Operation Pertamina Patra Niaga Sumbagut, Basuki Santoso, mengungkapkan bahwa intensitas pelayanan Avtur di AFT SIM mengalami lonjakan yang sangat signifikan. Data internal menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi Avtur harian di AFT Sultan Iskandar Muda meroket dari 51,2 Kiloliter (KL) per hari pada periode 1-25 November menjadi 114,4 KL per hari pada periode 26 November-12 Desember. Angka ini setara dengan peningkatan sebesar 223% dari konsumsi normal, sebuah angka yang mencengangkan dan menggarisbawahi skala upaya bantuan yang sedang berjalan. Lonjakan ini tidak hanya mencerminkan banyaknya penerbangan, tetapi juga ukuran dan jenis pesawat yang beroperasi, yang seringkali merupakan pesawat kargo besar dengan kebutuhan bahan bakar yang lebih tinggi. Pertamina Patra Niaga dengan sigap mengidentifikasi dan merespons kebutuhan ini, memastikan bahwa setiap pesawat yang mengemban misi kemanusiaan dapat beroperasi tanpa hambatan.
Peningkatan konsumsi Avtur tidak hanya terbatas di Aceh, melainkan merata di tingkat regional Sumatera Bagian Utara dan sekitarnya, menunjukkan koordinasi dan skala respons yang lebih luas. Total konsumsi harian seluruh AFT di wilayah operasi Pertamina Patra Niaga Sumatera Bagian Utara meningkat dari kisaran 852 KL per hari menjadi lebih dari 1.000 KL per hari, atau sekitar 118% dari kondisi normal. Kenaikan ini juga terjadi di beberapa bandara lain yang menjadi titik mobilisasi bantuan dan pergerakan personel penanganan bencana. Fenomena ini menunjukkan bahwa upaya penanganan bencana adalah operasi multiaspek yang melibatkan banyak titik logistik, dan Pertamina Patra Niaga telah memastikan bahwa seluruh jaringan distribusi mereka siap untuk menghadapi tantangan tersebut. Dari distribusi bahan bakar hingga dukungan operasional, setiap elemen dikoordinasikan untuk mencapai efisiensi maksimal.
Beberapa lokasi mencatat tren pertumbuhan yang sangat signifikan, menegaskan peran strategis masing-masing bandara dalam jaringan logistik bantuan. Bandara Polonia di Medan, sebagai salah satu hub penerbangan terbesar di Sumatera, menunjukkan lonjakan tertinggi seiring meningkatnya pergerakan pesawat bantuan. Medan menjadi titik sentral bagi konsolidasi bantuan dari berbagai wilayah di Indonesia, bahkan internasional, sebelum didistribusikan lebih lanjut ke area terdampak. Bandara Pinangsori Sibolga dan Silangit turut mengalami kenaikan besar karena perannya sebagai jalur udara pendukung distribusi logistik ke wilayah Tapanuli dan pesisir barat Sumatera. Wilayah-wilayah ini, yang seringkali memiliki akses darat yang sulit dan topografi yang menantang, sangat bergantung pada jalur udara untuk pasokan vital. Pesawat-pesawat kecil hingga menengah memainkan peran krusial di sini, membawa pasokan medis, makanan, dan tim evakuasi ke daerah-daerah terpencil.
Tidak kalah pentingnya, Bandara Minangkabau di Padang serta SS Kasim II di Pekanbaru juga mencatat peningkatan konsumsi Avtur di atas rata-rata. Peningkatan ini disebabkan oleh tingginya aktivitas penerbangan yang membawa peralatan teknis dan bantuan ke berbagai wilayah Sumatera. Peralatan teknis ini seringkali mencakup generator listrik, suku cadang untuk infrastruktur telekomunikasi, atau alat berat yang perlu diangkut dengan cepat untuk memulai proses pemulihan. Kenaikan yang merata ini menggambarkan secara gamblang betapa krusialnya jalur udara dalam mempercepat penanganan bencana. Mobilitas pesawat yang membawa bantuan, peralatan infrastruktur, serta personel teknis menjadikan Avtur sebagai energi yang sangat krusial pada fase tanggap darurat, sebuah sumber daya yang tak tergantikan untuk menjaga roda kemanusiaan terus berputar.
Dalam kondisi normal, AFT Sultan Iskandar Muda beroperasi pada jam kerja standar, yaitu pukul 05.00 hingga 19.00 WIB. Namun, selama masa tanggap darurat, seluruh personel di AFT SIM disiagakan 24 jam penuh, menyesuaikan dinamika kedatangan pesawat bantuan yang tidak mengenal waktu. Pelayanan bahkan seringkali diberikan hingga melewati pukul 01.00 dini hari. Perubahan operasional ini membutuhkan dedikasi luar biasa dari tim Pertamina Patra Niaga, yang bekerja tanpa lelah untuk memastikan setiap misi bantuan dapat berjalan lancar. Basuki Santoso menekankan bahwa "seluruh maskapai, baik penerbangan reguler maupun pesawat misi kemanusiaan, tetap mendapatkan pelayanan Avtur yang cepat, tepat, dan aman, sehingga setiap misi bantuan dapat berjalan tanpa hambatan suplai energi." Komitmen ini menunjukkan standar profesionalisme dan empati yang tinggi dari Pertamina dalam menghadapi situasi krisis.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, menegaskan bahwa penguatan layanan ini merupakan bagian integral dari komitmen Pertamina dalam mendukung percepatan pemulihan wilayah terdampak bencana. Ia menjelaskan bahwa Avtur bukan hanya sekadar bahan bakar, melainkan energi vital untuk mendukung mobilisasi bantuan serta distribusi logistik melalui jalur udara, khususnya ke wilayah yang sulit diakses dari darat akibat kerusakan infrastruktur jalan atau jembatan. Tanpa pasokan Avtur yang memadai, upaya penyelamatan dan pemulihan akan sangat terhambat, bahkan bisa berhenti total. Oleh karena itu, Pertamina mengambil peran proaktif dalam memastikan kelancaran operasional penerbangan kemanusiaan ini.
Fahrougi juga menambahkan bahwa penguatan layanan di AFT dilakukan tanpa mengganggu kebutuhan penerbangan reguler. Ini adalah keseimbangan yang sangat penting; meskipun fokus utama beralih ke misi kemanusiaan, Pertamina tetap memastikan bahwa operasional penerbangan komersial yang penting untuk mobilitas masyarakat dan perekonomian tidak terganggu. "Meskipun operasional Pertamina tidak terdampak langsung oleh bencana, dukungannya terhadap misi kemanusiaan menjadi prioritas untuk memastikan upaya pemulihan di Provinsi Aceh dan Sumatera berlangsung cepat dan terkoordinasi," ujar Fahrougi. Pernyataan ini menegaskan filosofi Pertamina sebagai perusahaan energi milik negara yang tidak hanya berorientasi bisnis, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial yang kuat terhadap masyarakat dan bangsa, terutama dalam situasi darurat.
Dedikasi Pertamina Patra Niaga dalam menjaga pasokan Avtur tetap stabil dan lancar di tengah bencana merupakan bukti nyata dari kesiapan dan ketahanan infrastruktur energi nasional. Kesiapsiagaan ini mencakup bukan hanya ketersediaan bahan bakar, tetapi juga fleksibilitas operasional, dedikasi sumber daya manusia, dan koordinasi yang efektif dengan berbagai pihak terkait, mulai dari otoritas bandara, maskapai penerbangan, hingga badan penanggulangan bencana. Setiap tetes Avtur yang disalurkan Pertamina menjadi darah bagi denyut nadi operasi kemanusiaan, memungkinkan pesawat-pesawat untuk terbang membawa harapan, bantuan, dan percepatan pemulihan bagi jutaan warga yang terdampak. Komitmen ini mencerminkan peran strategis Pertamina sebagai entitas yang lebih dari sekadar penyedia energi; mereka adalah mitra kunci dalam membangun ketahanan dan responsibilitas nasional terhadap bencana.
Sebagai kesimpulan, lonjakan drastis konsumsi Avtur di Sumatera dan Aceh, serta respons adaptif Pertamina Patra Niaga, menyoroti pentingnya logistik udara dalam penanganan bencana modern. Dari peningkatan jam operasional menjadi 24 jam penuh hingga koordinasi yang mulus di berbagai bandara, Pertamina telah membuktikan komitmennya sebagai pilar utama dalam upaya kemanusiaan. Dukungan tanpa henti ini memastikan bahwa bantuan dapat mencapai mereka yang paling membutuhkan dengan cepat dan efisien, menjadikan Pertamina sebagai jantung logistik udara yang berdenyut kencang demi pemulihan dan harapan baru bagi masyarakat Sumatera dan Aceh.












