Reportase.TV, Jakarta – Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1 kembali mengukuhkan posisinya sebagai tulang punggung produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional melalui keberhasilan implementasi empat proyek strategis yang mendapat apresiasi tinggi dalam Rapat Kerja Manajemen Proyek (RKMP) 2026 yang diselenggarakan oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Pencapaian ini menjadi bukti nyata komitmen PHR dalam menjaga ketahanan energi Indonesia melalui pendekatan inovatif dan tata kelola proyek yang efisien.
Direktur Utama PHR, Muhamad Arifin, dengan tegas menyatakan bahwa integrasi inovasi teknologi, disiplin manajemen proyek yang ketat, efisiensi biaya yang berkelanjutan, serta kolaborasi lintas fungsi yang solid merupakan fondasi utama untuk menjaga keberlanjutan produksi nasional di tengah tantangan global dan kompleksitas operasi di lapangan migas. "Dari peningkatan recovery factor melalui Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR), percepatan pemboran untuk menjaga level produksi yang optimal, hingga efisiensi dalam kegiatan Abandonment and Site Restoration (ASR) serta percepatan onstream lapangan baru, semuanya terintegrasi dalam satu tujuan mulia: memastikan energi tetap tersedia untuk kemajuan Indonesia," ujar Muhamad Arifin dalam keterangan tertulisnya, Jumat (20/2/2026). Pernyataan ini tidak hanya mencerminkan visi strategis perusahaan, tetapi juga menegaskan orientasi PHR yang holistik, tidak hanya berfokus pada volume produksi semata, melainkan juga pada efisiensi operasional, keberlanjutan lingkungan, dan inovasi teknologi sebagai pilar utama. PHR berkomitmen penuh untuk terus memperkuat eksekusi proyek-proyek vital ini, senantiasa berlandaskan pada inovasi dan tata kelola yang baik guna mendukung tercapainya target produksi nasional yang ambisius serta keberlanjutan operasi jangka panjang di Wilayah Kerja Rokan dan area-area sekitarnya yang memiliki potensi eksplorasi dan produksi yang menjanjikan.
Keempat proyek yang mendapat sorotan dan penghargaan ini merupakan cerminan dari strategi komprehensif PHR dalam mengelola aset-aset migas yang mayoritas telah berusia matang. Wilayah Kerja Rokan, yang merupakan salah satu lumbung minyak terbesar di Indonesia, menuntut pendekatan yang tidak biasa untuk mempertahankan dan bahkan meningkatkan produksinya. PHR, sejak alih kelola, telah menunjukkan adaptasi luar biasa dalam menghadapi tantangan tersebut, mengimplementasikan teknologi canggih dan metodologi manajemen proyek yang modern. Ini bukan hanya tentang memenuhi target harian, tetapi juga tentang menciptakan nilai jangka panjang bagi negara melalui praktik terbaik industri. Kolaborasi intensif dengan SKK Migas menjadi kunci keberhasilan, di mana sinergi antara regulator dan operator menciptakan lingkungan yang kondusif bagi inovasi dan efisiensi.
CEOR Minas A: Terobosan Inovatif Peningkatan Recovery Factor
Proyek Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) Minas A menjadi salah satu bintang dengan meraih penghargaan bergengsi kategori Onstream Ahead of POD (On Time Performance terhadap POD). Penghargaan ini memiliki makna ganda, tidak hanya karena merupakan pengakuan atas kinerja proyek yang tepat waktu, tetapi juga karena ini adalah penghargaan pertama bagi proyek yang dikerjakan PHR sejak alih kelola Wilayah Kerja Rokan. Prestasi ini menggarisbawahi kemampuan PHR dalam mengambil alih dan mengoptimalkan operasi kompleks dengan kecepatan dan efisiensi yang luar biasa. Proyek CEOR yang dijalankan PHR adalah injeksi Alkali-Surfaktan-Polymer (ASP) komersial pertama di Indonesia, sebuah pencapaian monumental dalam industri hulu migas nasional. Ini bukan sekadar implementasi teknologi, melainkan sebuah terobosan yang membuka jalan bagi aplikasi metode enhanced oil recovery (EOR) berskala besar di lapangan-lapangan lain di Indonesia. Keberhasilan proyek ini tidak lepas dari upaya reaktivasi peralatan yang telah tidak beroperasi selama kurang lebih 10 tahun. Sebuah tantangan teknis dan manajerial yang sangat besar, yang berhasil diatasi berkat koordinasi solid lintas fungsi di PHR dan dukungan intensif dari SKK Migas. Reaktivasi peralatan lama ini menunjukkan kemampuan PHR dalam memaksimalkan aset yang ada, mengurangi kebutuhan investasi baru, dan mempercepat waktu onstream.
Melalui proyek CEOR Minas A, tingkat Recovery Factor (RF) diproyeksikan akan meningkat secara signifikan sebesar 13-17%. Angka ini, meskipun terlihat persentase, sejatinya merepresentasikan jutaan barel minyak tambahan yang dapat diekstraksi dari reservoir yang sudah berproduksi. Peningkatan RF ini tidak hanya berdampak pada peningkatan produksi minyak nasional, tetapi juga berpotensi memperpanjang umur operasi lapangan-lapangan utama seperti Minas, Bekasap, Balam, dan Bangko hingga puluhan tahun ke depan. Ini adalah investasi jangka panjang yang krusial untuk menjaga stabilitas pasokan energi Indonesia. Dengan keberhasilan ini, roadmap ke depan pengembangan CEOR akan diperluas secara ambisius untuk mendukung optimalisasi produksi di Zona Rokan secara menyeluruh. Ini berarti PHR tidak hanya puas dengan satu keberhasilan, tetapi melihatnya sebagai pilot project untuk skala yang lebih besar, mengaplikasikan pembelajaran dari Minas ke seluruh Wilayah Kerja Rokan. Potensi peningkatan cadangan dari teknologi CEOR ini sangat besar, memberikan harapan baru bagi industri migas Indonesia yang terus berjuang di tengah tantangan penurunan alami lapangan tua.
Program Well Connection PHR: Percepatan Produksi dan Stabilisasi Lapangan
Kemudian, Program Well Connection PHR menerima penghargaan prestisius kategori Best of Project Planning & Coordinating Performance. Pencapaian ini menyoroti keunggulan PHR dalam perencanaan dan koordinasi proyek yang rumit dan masif. Sepanjang tahun 2025, PHR berhasil melampaui target yang telah ditetapkan, dengan merealisasikan koneksi 605 sumur dari target awal 555 sumur. Angka ini mencakup sumur-sumur baru, sidetrack (pemboran samping), dan deepening (pemboran lebih dalam), menunjukkan volume pekerjaan yang sangat besar dan kompleksitas teknis yang tinggi. Keberhasilan luar biasa ini didorong oleh serangkaian strategi cerdas dan inovatif. Penjadwalan dinamis memungkinkan PHR untuk merespons kondisi lapangan dan kebutuhan produksi secara real-time, menghindari bottleneck dan memaksimalkan efisiensi. Koordinasi lintas fungsi yang intensif memastikan semua departemen, dari pemboran hingga operasi, bekerja selaras tanpa hambatan. Optimalisasi desain dan material, serta persiapan konstruksi yang dilakukan jauh lebih awal, menjadi kunci untuk memangkas cycle time Put on Production (POP) dari yang semula lebih dari 30 hari menjadi hanya 2-3 hari.
Pengurangan cycle time POP yang drastis ini adalah sebuah game-changer. Ini berarti sumur-sumur yang baru dibor atau diintervensi dapat segera berproduksi, membawa minyak ke permukaan dalam hitungan hari, bukan minggu atau bulan. Efisiensi ini secara langsung berkontribusi terhadap stabilisasi dan peningkatan produksi di Zona Rokan, serta secara signifikan meminimalkan penurunan alami (natural decline) reservoir-reservoir yang telah berusia matang. Dalam industri migas, natural decline adalah musuh abadi; produksi sumur akan terus menurun seiring waktu. Program pemboran dan workover yang masif ini, ditambah dengan kecepatan koneksi sumur, adalah senjata utama PHR untuk melawan penurunan tersebut, memastikan bahwa setiap sumur baru atau yang direaktivasi dapat segera memberikan kontribusi maksimal. Ini adalah strategi yang fundamental untuk menjaga level produksi tetap tinggi di lapangan-lapangan tua, di mana setiap barel tambahan memiliki nilai ekonomi yang signifikan.
ASR Paket 1 dan 2: Efisiensi Biaya dan Tata Kelola Lingkungan
Selanjutnya, Proyek ASR (Abandonment and Site Restoration) atau yang biasa disebut Kegiatan Pasca Operasi (KPO) Paket 1 dan 2 meraih penghargaan The Most Cost-Efficient ASR. Kegiatan ASR atau KPO merupakan mandat penting dari pemerintah kepada PHR untuk menuntaskan kewajiban dari operator sebelumnya di Wilayah Kerja Rokan. Ini adalah bagian integral dari tanggung jawab lingkungan dan tata kelola perusahaan yang baik, memastikan bahwa setelah sumur atau fasilitas tidak lagi beroperasi, area tersebut dikembalikan ke kondisi yang aman dan sesuai standar lingkungan. Tantangan dalam pelaksanaan ASR ini sangat besar, mengingat warisan dari operasi puluhan tahun sebelumnya. Dengan pendekatan tim proyek yang didedikasikan (dedicated project team), PHR mampu fokus pada detail dan kompleksitas setiap lokasi ASR. Digitalisasi data melalui penggunaan tools seperti SQL, Well View, dan Sharepoint sebagai data digging tool memungkinkan PHR untuk mengakses dan menganalisis informasi historis dengan cepat dan akurat, yang sangat penting untuk perencanaan yang efektif.
Selain itu, penggunaan dashboard monitoring berbasis Power BI memberikan visibilitas real-time terhadap progres dan kinerja proyek, memungkinkan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat. Strategi eksekusi campaign untuk efisiensi biaya juga menjadi kunci, di mana PHR mengelompokkan pekerjaan ASR di beberapa lokasi sekaligus untuk mencapai skala ekonomis. Semua inovasi dan strategi ini memungkinkan PHR untuk memastikan bahwa kegiatan pasca operasi berjalan tidak hanya efektif dan sesuai regulasi, tetapi juga sangat hemat biaya. Keberhasilan ini tidak hanya memperkuat reputasi tata kelola PHR sebagai perusahaan yang bertanggung jawab, tetapi juga mendukung keekonomian pengembangan lapangan ke depan, khususnya pada proyek-proyek marginal. Dengan menghemat biaya ASR, PHR dapat mengalokasikan sumber daya lebih banyak untuk eksplorasi dan produksi, menciptakan siklus keberlanjutan ekonomi yang positif.
PoPE Padang Pancuran (PPC-001): Diversifikasi Portofolio dan Optimalisasi R2P
Selain proyek-proyek di Wilayah Kerja Rokan, PHR juga menunjukkan jangkauan strategisnya melalui Proyek Put on Production and Exploration (PoPE) Padang Pancuran (PPC-001) di Wilayah Kerja Jambi Merang. Proyek ini dikelola oleh entitas dalam Subholding Upstream Pertamina, menunjukkan sinergi dan kolaborasi dalam ekosistem Pertamina. Proyek ini berhasil meraih penghargaan kategori Onstream R2P Optimized, sebuah pengakuan atas efisiensi dan kecepatan dalam membawa lapangan baru ke tahap produksi. Proyek Padang Pancuran berhasil mencapai onstream pada tanggal 23 Desember 2025, hanya beberapa hari sebelum akhir tahun. Kecepatan ini adalah hasil dari perencanaan yang matang dan eksekusi yang efisien. Dengan target awal produksi sebesar 67 BOPD (Barrel Oil Per Day), proyek ini diproyeksikan akan mencapai puncak produksi sebesar 379 BOPD pada tahun 2026. Angka ini, meskipun mungkin tidak sebesar lapangan-lapangan raksasa, sangat penting untuk diversifikasi portofolio produksi PHR dan berkontribusi pada target produksi nasional secara keseluruhan.
Keberhasilan PoPE Padang Pancuran menunjukkan kemampuan PHR untuk tidak hanya mengelola aset-aset yang sudah ada, tetapi juga untuk mengembangkan potensi baru di wilayah lain. Ini adalah langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada satu wilayah kerja dan menyebarkan risiko, sekaligus membuka peluang eksplorasi dan produksi di area-area yang belum sepenuhnya terjamah. Konsep Onstream R2P Optimized berarti PHR berhasil mengoptimalkan seluruh proses dari tahap Ready to Produce (R2P) hingga onstream, meminimalkan penundaan dan memaksimalkan nilai dari investasi yang dilakukan. Proyek ini adalah contoh nyata bagaimana inovasi dalam manajemen proyek dan koordinasi yang efektif dapat menghasilkan output yang signifikan dalam waktu yang relatif singkat, mendukung visi besar Pertamina untuk ketahanan energi.
Secara keseluruhan, keempat proyek strategis ini adalah manifestasi konkret dari visi dan misi PHR untuk menjadi pemain kunci dalam industri hulu migas Indonesia. Dengan terus mendorong inovasi, menerapkan disiplin manajemen proyek yang tinggi, mencapai efisiensi biaya, dan membina kolaborasi yang kuat, PHR tidak hanya berhasil mengamankan produksi migas nasional saat ini, tetapi juga meletakkan fondasi yang kokoh untuk keberlanjutan energi Indonesia di masa depan. Pengakuan dari SKK Migas dalam RKMP 2026 menjadi validasi atas kerja keras dan dedikasi seluruh tim PHR, yang terus berinovasi demi mewujudkan kemandirian energi bangsa.












