Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping diprediksi tidak lagi menjadikan isu perang dagang sebagai agenda utama. Dinamika hubungan kedua negara adidaya ini telah bergeser secara signifikan, dengan fokus kini beralih pada persaingan dan potensi kolaborasi di sektor kecerdasan buatan (AI) yang strategis. Pertemuan tingkat tinggi ini menandai sebuah evolusi dalam diplomasi AS-China, menjauh dari konflik tarif yang mendominasi dekade sebelumnya menuju perebutan supremasi teknologi masa depan.
Reportase.TV, Jakarta – Pertemuan kedua pemimpin negara ini, yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026, diperkirakan akan secara eksklusif berpusat pada sektor AI. Sumber-sumber yang dikutip Reuters mengindikasikan bahwa salah satu poin bahasan krusial adalah kemungkinan pelonggaran pembatasan ekspor chip asal China yang selama ini diterapkan oleh AS. Diskusi mengenai chip ini sangat vital mengingat posisinya sebagai tulang punggung pengembangan AI, mulai dari pusat data hingga perangkat keras komputasi canggih. Keberhasilan China dalam memajukan infrastruktur AI-nya sangat bergantung pada akses terhadap teknologi semikonduktor mutakhir, sementara AS berupaya mempertahankan keunggulan teknologinya.
Wacana mengenai pelonggaran pembatasan ekspor chip ini menjadi menarik karena kontras dengan fluktuasi harga aset China dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, pasar keuangan China, terutama nilai tukar yuan, sangat sensitif terhadap sentimen perang dagang dan kebijakan tarif yang diberlakukan AS. Yuan, misalnya, sempat terdepresiasi tajam di tengah ancaman tarif baru, namun kini terus menguat sepanjang tahun terakhir, bahkan menyentuh level tertinggi dalam tiga tahun. Pergeseran ini menunjukkan bahwa investor saat ini menganggap pertemuan tersebut lebih fokus pada prospek pertumbuhan sektor teknologi China yang didorong AI, ketimbang isu-isu sensitif geopolitik lainnya seperti perang AS-Israel dengan Iran, status Taiwan, logam tanah jarang, atau bahkan proliferasi senjata nuklir.
Kecerdasan Buatan telah muncul sebagai medan pertempuran strategis utama antara AS dan China, melampaui isu-isu perdagangan tradisional. Kedua negara menyadari bahwa dominasi di bidang AI tidak hanya berarti keunggulan ekonomi, tetapi juga supremasi militer, keamanan nasional, dan pengaruh global. Investasi besar-besaran telah digelontorkan untuk riset dan pengembangan AI, pembentukan ekosistem inovasi, dan pengembangan talenta di kedua belah pihak. Bagi AS, kontrol atas ekspor chip canggih adalah alat vital untuk memperlambat kemajuan China di bidang AI dan mempertahankan keunggulan kompetitif. Namun, bagi China, ini adalah hambatan yang harus diatasi melalui swasembada atau negosiasi diplomatik.
Menjelang pertemuan tersebut, pasar saham China menunjukkan performa yang luar biasa. Sejumlah saham pada indeks Shanghai Composite (SSEC) tercatat pada level tertinggi dalam 11 tahun. Lonjakan ini didorong oleh pertumbuhan ekspor yang meningkat pesat, berkat gelombang pesanan yang didorong oleh AI. Industri-industri yang terkait dengan AI, seperti manufaktur elektronik, penyedia layanan komputasi awan, dan perusahaan data center, mengalami booming. Bahkan, surplus perdagangan China yang melebar tidak lagi menimbulkan kekhawatiran tentang putaran tarif AS yang baru. Para pelaku industri, didorong oleh ketidakpastian sebelumnya, disebut telah mengalihkan portofolionya ke arah swasembada AI buatan China. Ini mencerminkan strategi jangka panjang Beijing untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi asing dan membangun rantai pasok domestik yang tangguh.
Transformasi ini tidak terlepas dari penilaian ulang posisi geopolitik masing-masing negara. Yang Tingwu, wakil manajer umum Tongheng Investment, mengamati perubahan dinamika kekuatan. "Situasinya telah berbalik. China hanya ingin membahas sedikit hal dengan Trump," katanya, dikutip dari Reuters. Penilaian ini didasarkan pada keyakinan bahwa perang yang belum terselesaikan antara AS dan Iran, yang menyedot perhatian dan sumber daya Washington, secara inheren melemahkan posisi Trump dalam persaingan sektor AI. Konflik di Timur Tengah tidak hanya menguras anggaran pertahanan AS, tetapi juga memecah belah opini publik domestik dan mengurangi ruang gerak diplomatik Washington di panggung global.
Kondisi tersebut tercermin dari tingkat investasi pada saham-saham perusahaan teknologi besar China. Perusahaan seperti China Mobile dan China Telecom, yang merupakan raksasa telekomunikasi, telah memperoleh eksposur signifikan terhadap bisnis pusat data milik Tiongkok. Mereka bukan hanya penyedia layanan telekomunikasi, tetapi juga pemain kunci dalam membangun dan mengoperasikan infrastruktur komputasi awan yang menjadi fondasi bagi aplikasi dan pengembangan AI. Investasi ini mencerminkan keyakinan pasar terhadap masa depan teknologi China yang mandiri dan inovatif.
Pertemuan Trump-Xi ini juga mencerminkan berkurangnya ketegangan hubungan AS-China secara umum, setidaknya dalam beberapa aspek. Pengadilan AS telah membatalkan sebagian besar hambatan tarif awal yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump. Keputusan hukum ini, yang sering kali didasarkan pada prosedur dan dasar hukum yang tidak kuat, secara efektif melonggarkan beberapa tekanan ekonomi pada China. Selain itu, data perdagangan menunjukkan bahwa barang-barang Tiongkok tetap dapat sampai ke AS melalui jalur-jalur tidak langsung, khususnya melalui negara-negara Asia Tenggara. Ini adalah bukti ketahanan rantai pasok China dan kemampuannya untuk beradaptasi di tengah tantangan. Seiring dengan dampak dari perang Iran yang sedang berlangsung, China terus berupaya memperkuat rantai pasokannya sendiri, memastikan stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Para investor saat ini memperhitungkan ketegangan AS-China bukan lagi sebagai penghambat, melainkan sebagai katalis yang mendorong pengembangan teknologi Tiongkok. Tekanan dari AS telah memaksa China untuk berinvestasi lebih besar dalam riset dan pengembangan domestik, mempercepat upaya swasembada di sektor-sektor kunci seperti semikonduktor dan AI. Negeri Tirai Bambu ini dianggap berhasil berinvestasi di sektor infrastruktur AI, menciptakan ekosistem yang kuat yang mencakup pengembangan chip, algoritma, data besar, dan aplikasi AI. Keberhasilan ini telah menumbuhkan kepercayaan diri yang signifikan di kalangan investor dan pemerintah China.
Harapan yang muncul dari pertemuan ini adalah terciptanya hubungan AS-Tiongkok yang lebih stabil, setidaknya sampai kunjungan lanjutan Xi Jinping ke AS. Stabilitas ini sangat penting bagi pasar global dan juga bagi kemajuan teknologi kedua negara. Wen Xu, seorang analis geopolitik terkemuka, memberikan pandangan yang komprehensif. "China telah membuat kemajuan besar dalam teknologi, mengembangkan ekonomi baru, memperluas pengaruh globalnya, dan meningkatkan daya tawarnya dalam persaingan kekuatan global," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi transformasi China dari pusat manufaktur dunia menjadi pemain kunci di garis depan inovasi teknologi.
Lebih lanjut, Wen Xu menambahkan, "Setelah kunjungan Xi ke AS, kedua negara mungkin akan memasuki tahap persaingan selanjutnya, tetapi saat ini situasinya relatif damai." Prediksi ini mengisyaratkan bahwa meskipun ada jeda sementara dari perang dagang dan fokus pada AI, persaingan strategis antara AS dan China tidak akan pernah benar-benar berakhir. Sebaliknya, ia mungkin akan bermanifestasi dalam bentuk-bentuk baru, seperti perebutan standar global untuk AI, kompetisi untuk talenta terbaik, atau bahkan persaingan dalam regulasi teknologi. Namun, untuk saat ini, momentum diplomatik telah bergeser, memberikan ruang bagi diskusi yang lebih terfokus pada masa depan teknologi yang akan membentuk abad ke-21. Pertemuan Trump-Xi Jinping kali ini bukan hanya tentang perdagangan, melainkan tentang siapa yang akan memimpin era kecerdasan buatan.












