Reportase.TV, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pukulan telak pada perdagangan Senin (2/3/2026), anjlok signifikan sebesar 2,65% dan ditutup di level 8.016,83. Penurunan drastis ini tak pelak memicu kekhawatiran di kalangan investor, yang disebabkan oleh eskalasi geopolitik yang memanas di Timur Tengah menyusul serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Situasi ini telah menciptakan gelombang ketidakpastian yang luas, bukan hanya di pasar modal domestik tetapi juga di kancah global, memaksa para pelaku pasar untuk meninjau kembali strategi investasi mereka di tengah lanskap risiko yang berubah cepat.
Pejabat sementara (Pjs) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, dalam keterangannya pada Senin (2/3/2026), tidak menampik bahwa pelemahan IHSG secara langsung merupakan imbas dari meningkatnya ketegangan geopolitik. Jeffrey dengan tegas menghimbau para investor untuk tetap rasional dalam setiap pengambilan keputusan investasi. "Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental. Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing-masing investor," ungkap Jeffrey. Pesan ini menggarisbawahi pentingnya disiplin dan pertimbangan jangka panjang di tengah badai sentimen negatif yang didorong oleh peristiwa eksternal.
Eskalasi geopolitik mencapai puncaknya setelah laporan serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026). Serangan yang menargetkan beberapa lokasi strategis di Iran tersebut, secara mengejutkan juga mengkonfirmasi gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Berita duka ini segera memicu gelombang kekhawatiran global akan potensi destabilisasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah, sebuah wilayah yang dikenal sebagai jantung pasokan energi dunia. Kematian seorang pemimpin spiritual dan politik yang berpengaruh seperti Khamenei, yang telah memimpin Iran selama puluhan tahun, membuka pintu bagi ketidakpastian suksesi dan arah kebijakan luar negeri Iran di masa depan, yang berpotensi memiliki implikasi geopolitik yang jauh lebih besar daripada sekadar penurunan indeks saham.
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran, serta Israel dan Iran, memiliki akar sejarah yang panjang dan kompleks. Ketegangan telah membara selama beberapa dekade, dipicu oleh perbedaan ideologi, program nuklir Iran, dukungan terhadap kelompok proksi di Timur Tengah, dan kepentingan strategis masing-masing pihak. Serangan yang terjadi pada akhir pekan lalu bukan hanya sekadar insiden, melainkan sebuah eskalasi dramatis yang berpotensi mengubah dinamika kekuatan di kawasan tersebut. Analis geopolitik memperkirakan bahwa respons Iran pasca kematian Khamenei akan sangat menentukan arah konflik ini, apakah akan mereda melalui mediasi internasional atau justru meletup menjadi konfrontasi yang lebih besar, dengan konsekuensi global yang tak terhindarkan.
Dampak langsung dari ketegangan ini tidak hanya terasa di pasar modal. Harga minyak mentah global melonjak tajam, mencerminkan kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan dari salah satu wilayah produsen minyak terbesar dunia. Emas, sebagai aset safe haven, juga mengalami kenaikan signifikan karena investor berbondong-bondong mencari perlindungan di tengah ketidakpastian. Di sisi lain, mata uang negara-negara berkembang, termasuk Rupiah, cenderung melemah terhadap Dolar AS, yang secara tradisional dianggap sebagai mata uang cadangan global yang aman di saat krisis. Fluktuasi ini menciptakan tekanan tambahan pada ekonomi domestik yang sangat bergantung pada impor dan stabilitas nilai tukar.
Perdagangan IHSG pada Senin (2/3/2026) menunjukkan gambaran kepanikan pasar yang jelas. Tercatat volume perdagangan mencapai 56,60 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 29,83 triliun, didukung oleh frekuensi perdagangan sebanyak 3.652.154 kali. Angka-angka ini mencerminkan aktivitas jual yang masif, di mana investor berupaya membatasi kerugian di tengah sentimen negatif. Sebanyak 671 saham melemah, hanya 108 saham yang berhasil menguat, dan 41 saham stagnan. Dominasi saham-saham yang melemah menunjukkan bahwa koreksi pasar terjadi secara merata di hampir semua sektor, bukan hanya terbatas pada beberapa emiten tertentu.
Koreksi pada IHSG ini bukan kejadian tunggal. Jika ditarik sepanjang perdagangan sepekan terakhir, IHSG tercatat melemah 4,52%, menunjukkan bahwa sentimen negatif telah membayangi pasar sebelum insiden serangan geopolitik yang lebih besar ini. Lebih lanjut, koreksi pada indeks tercatat lebih dalam sepanjang tahun 2026, yakni sebesar 7,29%. Angka ini menyoroti kerapuhan pasar di awal tahun dan betapa rentannya terhadap guncangan eksternal. Investor asing terpantau melakukan aksi jual bersih (net sell) yang signifikan, menandakan penarikan modal dari pasar domestik menuju aset-aset yang lebih aman, sebuah fenomena yang umum terjadi di tengah gejolak global.
Dampak dari peristiwa geopolitik seperti ini tidak hanya bersifat sesaat. Dalam jangka menengah hingga panjang, eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu rantai pasok global, meningkatkan biaya logistik, dan memicu inflasi yang lebih tinggi di banyak negara. Bagi Indonesia, hal ini bisa berarti kenaikan harga bahan bakar, bahan baku impor, dan pada akhirnya, tekanan pada daya beli masyarakat serta pertumbuhan ekonomi. Sektor-sektor yang sangat sensitif terhadap harga komoditas global, seperti industri manufaktur, transportasi, dan energi, kemungkinan besar akan merasakan dampak paling langsung dan signifikan.
Jeffrey Hendrik dari BEI menegaskan pentingnya "tetap rasional" dan "memperhatikan fundamental". Apa artinya ini bagi investor individu? Rasionalitas dalam konteks ini berarti menghindari keputusan impulsif yang didorong oleh kepanikan. Investor diminta untuk tidak terburu-buru menjual saham hanya karena indeks turun, melainkan untuk mengevaluasi kembali portofolio mereka berdasarkan kesehatan fundamental perusahaan. Melihat laporan keuangan, prospek pertumbuhan jangka panjang, dan posisi utang suatu perusahaan menjadi lebih krusial dibandingkan sekadar pergerakan harga harian.
Selain itu, Jeffrey juga menekankan pentingnya "menyesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing-masing investor". Bagi investor dengan toleransi risiko rendah, mungkin ini adalah saat yang tepat untuk mempertimbangkan diversifikasi portofolio ke aset-aset yang lebih stabil seperti obligasi pemerintah atau reksa dana pasar uang. Sementara bagi investor jangka panjang dengan toleransi risiko tinggi, koreksi pasar justru bisa menjadi peluang untuk mengakumulasi saham-saham berkualitas dengan harga diskon, asalkan mereka memiliki keyakinan pada prospek jangka panjang perusahaan tersebut dan ekonomi secara keseluruhan. Diversifikasi portofolio adalah kunci untuk mengurangi risiko, baik melalui berbagai jenis aset maupun sektor industri yang berbeda.
Para analis pasar modal juga memberikan pandangan beragam mengenai prospek ke depan. "Meskipun koreksi saat ini terasa dalam, pasar modal memiliki sejarah panjang dalam pulih dari guncangan geopolitik. Yang terpenting adalah seberapa cepat konflik ini dapat mereda dan bagaimana respons kebijakan moneter dan fiskal dari bank sentral dan pemerintah global," ujar seorang ekonom senior dari lembaga riset terkemuka, yang meminta namanya tidak disebutkan. Ia menambahkan bahwa fokus akan beralih ke stabilitas harga minyak dan komitmen negara-negara besar untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Di sisi lain, beberapa analis memperingatkan bahwa jika konflik meluas, dampaknya bisa lebih parah dan berlarut-larut. "Kematian Ali Khamenei adalah game-changer. Ini menciptakan kekosongan kekuasaan dan ketidakpastian yang bisa memicu gejolak internal di Iran, yang kemudian dapat mempengaruhi seluruh kawasan. Investor harus bersiap untuk periode volatilitas yang lebih panjang dan mungkin perlu meninjau ulang asumsi pertumbuhan ekonomi global mereka," kata seorang pakar geopolitik dari Universitas Indonesia. Menurutnya, pasar akan mencermati setiap perkembangan diplomatik dan militer dengan sangat ketat.
Pemerintah Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kemungkinan besar akan memantau situasi dengan seksama dan siap mengambil langkah-langkah mitigasi jika diperlukan. Langkah-langkah tersebut bisa meliputi intervensi pasar, kebijakan stabilisasi nilai tukar, atau bahkan penerapan circuit breaker di bursa saham jika volatilitas menjadi terlalu ekstrem. Tujuan utamanya adalah menjaga kepercayaan investor dan memastikan stabilitas sistem keuangan domestik di tengah ketidakpastian global yang meningkat. Komunikasi yang transparan dan proaktif dari regulator akan sangat penting untuk menenangkan pasar.
Pada akhirnya, guncangan geopolitik adalah pengingat konstan bahwa pasar modal tidak terisolasi dari peristiwa dunia. Konflik di belahan bumi lain dapat memiliki riak yang kuat hingga ke pasar domestik. Oleh karena itu, bagi investor, kunci untuk bertahan dan bahkan berkembang di tengah turbulensi adalah dengan tetap tenang, berpikir jernih, mengacu pada data dan fundamental yang kuat, serta memiliki strategi investasi yang terencana dengan baik. Periode seperti ini memang menantang, namun juga seringkali menjadi ujian sejati bagi ketahanan dan kebijaksanaan investor.












